klarifikasi dari civitas atma jaya jakarta.
intinya, dalam aksi demonstrasi di depan kampus unika atma jaya, bahwa civitas
atma jaya sedang menyelenggarakan ujian akhir semester sampai dengan tanggal 03
Juli 2008 yang akan datang.
solidaritas sih pasti ada bagi sesama mahasiswa, hanya saja akan sangat
menyulitkan untuk berdemo kalau sedang menghadapi ujian akhir semester ... bisa
gak lulus, boss ... plus ... biaya kuliah udah selangit, kalau mesti ngulang
emang dibiayain APBN? :-p
/LT.
note:
untuk rekan-rekan wartawan ... jangan sungkan2 untuk mencari informasi yang pas
ke atma jaya.
----- Original Message -----
From: Sinthia Dewi
To: hukum atmajaya
Sent: Thursday, June 26, 2008 10:45 PM
Subject: [Alumni - FHUAJ] Fw: [paj] Fwd: [mahasiswapsikologiuaj] Fw:
Klarifikasi Kronologis kejadian "spektakuler" di depan Unika Atma Jaya Jakarta
Fyi, Satu lagi berita klarifikasi
--- On Thu, 6/26/08, ardita revita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: ardita revita <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [paj] Fwd: [mahasiswapsikologiuaj] Fw: Klarifikasi Kronologis
kejadian "spektakuler" di depan Unika Atma Jaya Jakarta
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Thursday, June 26, 2008, 10:04 PM
---------- Forwarded message ----------
From: Veronika Kartika Vitasari <[EMAIL PROTECTED] com>
Date: Thu, Jun 26, 2008 at 2:17 PM
Subject: [mahasiswapsikologi uaj] Fw: Klarifikasi Kronologis kejadian
"spektakuler" di depan Unika Atma Jaya Jakarta
To: psikologi UAJ <mahasiswapsikologiu [EMAIL PROTECTED] com>
--- On Tue, 6/24/08, Putu Ayu Aristyadewi
<[EMAIL PROTECTED] ac.id> wrote:
From: Putu Ayu Aristyadewi <[EMAIL PROTECTED]
ac.id>
Subject: [ppmb_uaj] Kronologis
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Date: Tuesday, June 24, 2008, 6:24 PM
Ini copy email yang saya kirimkan ke
Perhimpunan Humas Indonesia pagi ini, mungkin dapat menjelaskan sedikit
kronologisnya. Mereka adalah kelompok yang sebelumnya berdemo di depan DPR lalu
dipukul mundur oleh polisi. Kalau ada yang mau melengkapi silahkan.
Salam,
Putu
Mengenai kejadian "spektakuler" kerusuhan di
depan kampus kami kemarin, ijinkan saya menginformasikan bahwa mahasiswa kami
tidak termasuk di dalam kelompok yang berunjuk rasa tersebut. Anak-anak kami
sedang disibukkan dengan Ujian Akhir Semester sampai dengan 3 Juli y.a.d dan
kalau sedang ujian jangankan diajak demo, diberi hadiah gratisan pun kadang
mereka tidak peduli. Selama ini setiap unjuk rasa yang dilakukan selalu dengan
sepengetahuan pimpinan universitas.
Saya stand by di pos satpam sejak pukul 16.30,
waktu polisi menembaki kampus kami dengan gas air mata dan melempari dengan
batu, setelah ditimpuk duluan oleh pengunjuk rasa yang kemudian melarikan diri
kedalam kampus, namun akhirnya tertangkap satpam. Pastilah polisi mengira itu
anak kami. Setelah kejadian itu kami tutup pagar walaupun sempat ribut dulu
dengan pengunjuk rasa yang mengata-ngatai anak-anak kami "banci" dan tidak
pro-rakyat. Kalau pro-rakyat kog gitu caranya. Kami harus turun tangan
menyelamatkan penumpang mobil Avanza yang dibakar oleh mereka lalu kami
sembunyikan di dalam kampus.
Saya perhatikan pengunjuk rasa itu kog gak
kayak mahasiswa, paling tidak mereka terlalu tua untuk mengaku mahasiswa
(rasanya kalau mahasiswa S2 dan S3 hampir mustahil mau ikut demo kan ?)
Perilaku dan bicaranya juga tidak mencerminkan mahasiswa, lebih mirip preman,
termasuk yang wanita. Kami cukup kewalahan menghalau yang mencoba menyusup ke
dalam kampus (ada yang mengaku mahasiswa FISIP padahal kami gak punya FISIP)
Saya menyayangkan beberapa media (terutama TV)
yang langsung men-"judge" bahwa biang kerusuhan itu mahasiswa Atma Jaya, ini
cukup merusak citra universitas, kami pun harus menjawab ratusan telepon orang
tua yang khawatir mengenai keselamatan anaknya. Untungnya Metro TV, radio,
koran dan cyber media yang saya hubungi langsung menampung krarifikasi kami.
Yah memang begitulah resiko kalau kampusnya sangat "strategis" dekat dengan
gedung DPR dan Polda, senantiasa dijadikan base camp J
Dalam kesempatan ini saya juga ingin
menyampaikan rasa prihatin kami untuk rekan-rekan yang mungkin turut menjadi
"korban" kerusuhan kemarin, terjebak dalam kemacetan yang parah. Sedih sekali
rasanya melihat karyawan yang berjejal di bis-bis yang bergerak pelan. Semoga
kejadian ini tidak terulang kembali. Semoga pemerintah dapat segera mengambil
sikap, entah terhadap kematian mahasiswa Unas atau terhadap kebijakannya
menaikkan harga BBM yang menjadi pemicu semua kejadian ini.