Gap Itu Peluang



Perubahan adalah keniscayaan. Sebagai produsen, inovasi produk dan
proses harus terus menerus dilakukan. Inovasi produk untuk mengejar
pangsa pasar dan inovasi proses untuk meningkatkan efektivitas dan
efisiensi. Fitur-fitur produk harus ditambah terus, dan kinerjanya
ditingkatkan tanpa henti agar bisa bersaing. Perkembangan teknologi
seperti penerbangan pesawat, telekomunikasi, dan informasi memungkinkan
kolaborasi dengan pihak-pihak lainnya untuk menelurkan inovasi-inovasi
baru yang semakin kompleks dan beragam. The sky is the limit. Hampir
tidak ada yang tidak mungkin. Bila masih ada yang belum ditemukan, itu
hanyalah masalah waktu. Demikianlah situasi Dunia Pertama : Dunia
Produsen




Dunia Kedua: Dunia Para Konsumen

Perubahan tentu terjadi juga di dunia para konsumen. Dulu, kehidupan
cukup sederhana dan stabil. Seorang ayah yang bangun tidur sudah tahu
apa yang harus dikerjakan hari ini. Rutinitas pekerjaan yang sama sudah
dijalani selama bertahun-tahun. Seorang ibu juga sudah tahu tugas dan
jadwalnya. Ketika semuanya selesai di malam hari, keluarga berkumpul di
meja makan dan depan televisi. Kadang untuk memenuhi kebutuhan
spiritual, keluarga pergi ke tempat ibadah bersama-sama sambil
bersosialisasi.

Kini, keadaan berubah. Jadwal kerja tidak tentu. Kadang ayah dan ibu
saling bekerja dan sulit bertemu satu sama lain, apalagi berkumpul
sebagai satu keluarga besar. Perkembangan yang semakin cepat membuat
pengetahuan semakin cepat usang. Apa yang dikuasai kemarin sudah basi
hari ini. Mau tidak mau, pengetahuan harus diperbaharui terus menerus
bila ingin dipekerjakan terus. Persaingan di dunia kerja juga semakin
kompleks. PHK semakin umum. Jaminan kerja tidak ada lagi. Anak-anak yang
semakin jarang bertemu para orang tuanya juga bingung mencari model
ideal untuk pembentukan identitas diri mereka. Kebutuhan spiritual?
Mal-mal mulai menggantikan peran lembaga-lembaga keagamaan.



Gap, Kala Kedua Dunia Bertemu

Konsumen menemukan produk-produk semakin canggih dan kompleks. Sering
fitur-fitur dan kinerja yang ditawarkan produk sudah sedemikian
canggihnya sehingga user manual yang menyertai produk tersebut sudah
mirip textbook di perkuliahan. Ambil contoh kamera digital. Berapa orang
konsumen yang benar-benar membutuhkan gambar dengan 4 juta pixel? Siapa
juga yang punya waktu untuk membaca user manual nya? Berapa orang
konsumen pemutar musik digital yang membutuhkan kapasitas penyimpanan
10.000 lagu sementara lagu-lagu yang sering diputar mungkin hanya 50an?
Buka juga software seperti Microsoft Excel. Seberapa banyak fitur-fitur
yang benar-benar dipakai?

Kala kedua dunia tersebut bertemu, para konsumen menemukan fitur-fitur
produk sering sudah melebihi kebutuhan-kebutuhan mereka pada dimensi
fungsional. Tetapi pada saat yang sama, produk-produk tersebut semakin
jauh dalam mencukupi kebutuhan-kebutuhan mereka lainnya yang semakin
kompleks (terutama kebutuhan emosional dan spiritual). Padahal konsumen
adalah makhluk yang selalu membutuhkan keseimbangan dimensi-dimensi
fisik, intelektual, emosional, dan spiritual.

Di sinilah terletak gap yang cukup besar untuk diisi oleh inovasi yang
bersifat lebih integral. Adalah disruptive innovation yang berusaha
melayani konsumen yang membutuhkan kinerja produk yang lebih rendah
dengan harga lebih murah. Inovasi ini memang cocok untuk menutup gap
antara kinerja fungsional yang terlalu tinggi dengan kinerja fungsional
yang mencukupi. Namun untuk menutup gap kebutuhan emosional dan
spiritual, dibutuhkan pendekatan lain.

Di sini, jawaban datang dari product design dengan mengeluarkan
produk-produk yang lebih artistik dan mencerminkan kepribadian
penggunanya; dan upaya-upaya pengenalan kebutuhan konsumen yang lebih
dalam melalui metode-metode seperti ZMET, etnografi, means-end chain
atau personifikasi. Beberapa perusahaan lainnya juga sudah mulai melirik
ke experiential marketing yang menggabungkan antara penjualan
produk/layanan dengan pemberian pengalaman tak terlupakan. Sebut saja
Starbucks yang mampu membuat Anda membayar Rp. 40.000 untuk segelas kopi
karena jaringan ritel ini juga menawarkan atmosfir cozy nan santai di
outlet-outletnya. Alat-alat bantu dan metode-metode tersebut adalah alat
penghubung antara dua dunia yang saling terpisah tersebut.

Singkat kata, sementara kebanyakan produsen masih terjebak dalam
perlombaan untuk meningkatkan kinerja produk dan penambahan fitur-fitur
yang membuat produknya semakin kompleks; dan pada saat yang sama
melalaikan kebutuhan laten konsumen yang belum terlayani, perusahaan
yang cerdik berhasil melihat adanya gap ini dan menjadikannya sebagai
peluang inovasi.
Dan inilah salah satu kunci rahasia berinovasi yang selama ini jarang
diketahui: Menemukan dan menutupi gap tersebut dengan Sinergi untuk
Inovasi. Gap  Itu  Peluang.


Salam,

Arief

Kirim email ke