Kebijakan
perdagangan pemerintah kita telah memurahkan gandum. ltu telah
berpengaruh buruk terhadap pangan lokal, seperti sagu, ketela rambat,
ketela pohon, jagung.



Mungkin
tidak ada negara berkembang yang menolak libera­lisasi
'perdagangan, apabila
itu dapat mendorong berkembangnya agroindustri, meningkatkan ekspor
produk yang melibatkan petani/peternak sempit, harga membaik,
produktivitas produk ekspor mening­kat, serta upah riil naik dan
tercipta lapangan kerja karena dorongan ekspor.



Penelitian
intensif yang dilakukan UNDP, FAO dan UNTAC di sejumlah negara
berkembang memperlihatkan hasil sebaliknya. Ternyata, negara
berkembang semakin sulit mendorong pembangunan pertanian dan
perdesaan, serta menciptakan lapangan kerja di era liberalisasi. Itu
penyebab eksodus penduduk desa ke kota, pengangguran bertambah dan
suburnya kriminalitas. Impor pangan meningkat lebih pesat. Ekspor
produk negara berkembang yang umumnya produk primer harganya terus
turun. Lebih dari separo devisa (hasil ekspor total dikurangi untuk
bayar hutang luar negeri) telah dipakai untuk impor pangan.



Diperkirakan
85-90% perdagangan produk pertanian dikontrol 5 MNC (mufti national
cor­poration). Sekitar 70% perdagangan serealia dikuasai 2 MNC,
yaitu Cargill dan Archer Daniels Midland. Sebagian besar produksi dan
perda­gangan pangan dikuasai negara maju dan MNC milik AS dan UE.



Produksi
pangan (jumlah maupun jenisnya) semakin terkonsentrasi pada sedikit
negara maju, yaitu: AS, UE, Australia, Selandia Baru dan Kanada.
Negara berkembang yang eksportir pangan terbatas Argentina, Brasil,
Thailan, In­dia, Vietnam, Cina. Negara maju lebih banyak jenis
dan ragam pangan yang mereka hasilkan dan ekspor, sebagian besar
pangan olahan. Itu dikuasai dari hilir hingga hulu oleh MNCs. Itu
sebabnya, produksi pangan semakin menjauhi pasar persaingan.
Risikonya, mudah terjadi instabilitas harga dan suplai. Sejumlah
negara maju memakai pangan sebagai alat politik, kerap melakukan
embargo pangan.



Perundingan
Putaran Doha WTO yang dimulai akhir 2001, sampai sekarang belum
berhasil menuju konvergensi. Negara besar, terutama AS, tidak mau
mengalah sedikitpun soal penurunan subsidi sektor pertaniannya.
Malahan AS tetap meminta agar negara lain, termasuk negara
berkembang, harus membuka pasar yang lebih lebar lagi. Negara maju
juga didukung oleh lembaga keuangan internasional, seperti Bank Dunia
dan IMF untuk menekan negara berkembang dengan berbagai cara.



Diantara
20 komoditas yang mendapat subsidi di AS, yang terbesar adalah beras,
jagung, kedelai, gandum, kapas. Sebagian besar subsidi itu jatuh ke
petani luas dan korporasi. AS mendominasi ekspor produk pangan ke
negara berkembang, tiga kali lebih tinggi dari Brasil. Padahal Brasil
adalah negara berkembang eksportir produk pertanian terbesar di
dunia.



Praktek
dumping harga produk pertanian umum dilakukan oleh MNC, pangan dijual
di bawah ongkos produksi. Akibatnya, petani negara berkembang tidak
mampu bersaing. Bukan tidak kompetitif dalam ongkos produksi, tetapi
mereka tidak berdaya bersaing dengan Departemen Keuangan AS dan UE.
Petani kapas di Afrika Barat dan petani jagung Meksiko jatuh melarat
dan terperangkap dengan kemiskinan karena itu. Nasib yang sama
dialami petani kedelai, jagung, beras, gula, susu, peternak ayam di
banyak negara berkembang. Petani pangan kita juga menerima dampaknya.





Indonesia
telah menjadi negara pengimpor gandum penting di dunia. Kita
mengimpor 5,2 juta ton gandum umumnya melalui MNC, menguras
devisa hampir Rp 8
triliun/tahun. Kebijakan perdagangan pemerintah kita telah memurahkan
gandum. Itu telah berpengaruh buruk terhadap pangan lokal, seperti
sagu, kete­la rambat, ketela pohon, jagung. Pola konsumsi
masyarakat kita semakin tergiring menjauhi produk lokal, itu telah
menyulitkan diversifikasi pangan. Disamping itu, Indonesia semakin
sutit mendorong peningkatan produksi, terutama membangun agroindustri
pangan non-gandum.



Pangan
impor, terutama gandum kalau tidak mampu dilola dengan baik, itu
dapat menghancurkan lapangan kerja, membuyarkan pembangunan
agroindustri pangan, serta menambah kemiskinan. Pemerintah terlalu
lib­eral terhadap gandum, juga pangan lainnya. Perlindungan tarif
hanya ditetapkan 0-5%, sedangkan perlindungan non-tarif tetah lama
dihapus, kecuali gula dan beras. “….Indonesia
sedang dijajah, tapi dirinya tidak merasa dijajah….”
(HS. Delon. TVRI Nasional, 10 Mei 2009). Perlu juga dilihat bagaimana 
perkembangan dunia informasi, makanan, dkk. Karena bisa otak, perut dan yang 
dibawah perut itulah obyek jajahannya.




Peran
pangan dalam negeri bukan hanya mensuplai energi/protein serta
serat-seratan buat masyarakatnya, tetapi juga berperan penting dalam
mengatasi kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, pendorong
berkembangnya agro-industri dan pembangunan desa. Pangan impor tidak
mampu mensubstitusi pangan lokal secara sempurna, juga suplai energi.
Kebijakan perdagangan haruslah diarahkan untuk mendorong pembangunan
pangan dalam negeri, bukan malah memperlemahkannya. Bukankah ‘tongkat
kayu dan batu jadi tanaman’ di Indonesia?. Soal SDM, jangan
ditanya. Seharusnya “….Satu Bahasa….” (Arswendo. TVRI
Nasional, 10 Mei 2009). 




Pemerintah
sudah seharusnya mempunyai komitment terhadap masalah ini dan
ikutannya. Dan kereta bangsa yang telah melaju sekian waktu (lama).
63 tahun Indonesia merdeka ini, katanya. Yang telah berganti dari ma
sinis satu ke ma sinis lainnya. Jawaban apa yang bisa diberikan atas
pertanyaan sederhana :
Berapa
        jumlah pengangguran?
        Berapa
        jumlah rakyat ‘miskin’? yang di kolong jembatan?
        Seperti
        apa pendapatan per kapita desa-desa ?
        Berapa
        pemuda yang terjerat narkoba (bukan cuma sakit perut)?
        Berapa
        utang negara?
        Apa
        yang rakyat terimarasakan, termasuk para simpatisannya? Siapa
        simpati ke siapa? Atau siapakah yang seharusnya punya empathy?
        
        Sampai kapan rakyat ‘mau’ dibohongi?
        Sementara bapak-ibu menteri juga bekerja dengan minim koordinasi(?),
        dimana presiden dan wapres?




The
bottom of pyramide tuh
end user
ya ? Bukankah Indonesia itu juga sekumpulan desa-desa?
Yang
juga berarti ….Tanpa
Desa, Tiada Indonesia….



Keburu
tua, langit dah mau runtuh juga….



"Potong
bebek angsa, masak dikuali
Nyonya
minta dansa, dansa empat kali
Serong
kekanan, serong kekiri
Tralalalalalalalalalala"---------------------------------------------------------------------------------------------------------


Bangun Pemudi Pemuda(Lagu Wajib Nasional)Cipt. C. Simanjuntak
Bangun pemudi pemuda Indonesia

Tangan bajumu singsingkan untuk negara

Masa yang akan datang kewajibanmu lah

Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

Menjadi tanggunganmu terhadap nusa



Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas

Tak usah banyak bicara trus kerja keras

Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih

Bertingkah laku halus hai putra negri

Bertingkah laku halus hai putra negri


Jangan Banyak Bicara
- Okky Lukman - 

Banyak sudah janji telah kau ingkari

Hingga saat ini tak pernah kau tepati

Tak satupun jua

Ingat kata yang dulu terucap

Ku berharap semua kenyataannya
Reff:

Jangan hanya bicara penuhilah hasratku

Jika kau ingin jadi milikku

Jangan hanya bicara wujudkanlah mimpiku

Bila memang kau ingin bersamaku
Banyak bicara tak tahu arahnya

Omong sana sini tak ada hasilnya

Ingat kata yang terucap

Kuberharap semua kan nyata adanya
Back to Reff
http://ariefbudi.wordpress.com   http://jalanku.multiply.com  
http://teknofood.blogspot.com
FaceBook : http://id-id.new.facebook.com/people/Arief-Budi-Setyawan/1663852032
  
"...Bila engkau penat menempuh jalan panjang, menanjak dan berliku.. dengan 
perlahan ataupun berlari, berhenti dan duduklah diam.. pandanglah ke atas.. 
'Dia' sedang melukis pelangi untukmu.."


      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke