Seorang teman lama, kini tinggal dan menjadi warga negara Belanda. Kami bertemu 
lewat Facebook, setelah 15 tahun. Ia menjadi seorang ibu rumah tangga dengan 2 
orang anak laki-laki yang sangat sehat dan lucu.


Ketika ia mengetahui pekerjaan saya, ia langsung bercerita, bahwa di Belanda 
sana, setiap anak yang lahir diwajibkan untuk sesegera mungkin diasuransikan, 
kesehatan maupun pendidikan. Mengapa? Karena biaya kesehatan sangat mahal, dan 
juga pemerintah Belanda tidak menginginkan generasi mudanya kelak tidak 
terjamin pendidikan, karena pendidikan yang tepat merupakan dasar terbentuknya 
suatu negara yang lebih baik, pengurangan pengangguran, dan mengurangi biaya 
pemerintah untuk menyantuni fakir miskin.


DI Indonesia, pemerintah belum terlalu memperhatikan masalah ini, mungkin masih 
terlalu sibuk mengurusi perbaikan ekonomi, harga beras, BBM, dan hal-hal yang 
bertujuan untuk memulihkan keadaan perekonomian bangsa.


Namun sebenarnya, daya beli masyarakat Indonesia terbilang tinggi, terbukti 
dengan laris manis produk-produk luar yang masuk ke Indonesia. Masyarakat kita, 
cenderung agak lebih berminat mengikuti trend pasar yang disodorkan 
negara-negara lain, dengan berbagai alasan. Terkadang hal yang pokok seperti 
yang dipikirkan pemeritah Belanda kita lupakan.


Setiap orang wajib bekerja, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, 
pergaulan, komunikasi, berinteraksi dengan banyak orang, rekreasi, dan mengenal 
hal demi hal yang tentu saja memerlukan cost. Namun terkadang kita kurang 
menyadari, bahwa diri pribadi kita adalah hal yang paling berharga, yang harus 
kita jaga dan lindungi dari segala resiko yang tidak diinginkan yang dapat 
menyebabkan kebutuhan-kebutuhan di atas tidak dapat dinikmati.


Kesehatan, misalnya. jika kita sakit, tentu saja daya kerja kita akan menjadi 
menurun, bahkan harus mengeluarkan tambahan cost untuk sesuatu yang kita tidak 
senangi, yaitu biaya pengobatan, yang sepenuhnya harus kita tanggung sendiri. 
Demikian juga masa depan anak-anak kita, jika kita sudah pensiun dan sudah 
tidak produktif, maka kita tidak memiliki income untuk memenuhi gaya hidup 
kita, terlebih jika kita meninggal (tentu semua orang akan mengalaminya), dan 
jika pada saat itu anak-anak kita masih menempuh pendidikan, maka mereka akan 
terancam putus sekolah.


Kita tidak bisa mengandalkan pemerintah untuk menangani masalah ini. Bayangkan, 
dalam satu hari ada 10 penduduk Indonesia yang meninggal dunia dengan 
meninggalkan dua orang anak yang masih sekolah, maka kemungkinan ada 20 anak 
yang terancam putus sekolah dan menjadi pengangguran atau menjalani hidup 
dengan serba kekurangan. Bayangkan lagi, jika itu terjadi selama sebulan.


Maka, tidaklah rugi untuk mulai memikirkan asuransi kesehatan, pendidikan, dan 
pensiun, yang tentu akan membantu kehidupan di masa datang, bagi diri sendiri 
dan anak-anak kita.


Asuransi mahal? Tidak. Mahal itu sangatlah relatif. Katakanlah dengan 5 tahun 
kita membayar program asuransi (tidak seperti cicilan rumah, kebutuhan akan 
makanan, kebutuhan akan pendidikan yang continue), maka kita dapat menikmati 
pensiun, mendapatkan tambahan untuk menyekolahkan anak-anak sampai ke jenjang 
yang kita inginkan, dan keluarga kita mendapat santunan kapanpun kita meninggal 
kelak, karena program asuransi biasanya berlaku hampir seumur hidup, sekitar 
sampai usia kita 88 tahun.


Maka, apapun profesi kita, nelayan, wiraswasta, guru, karyawan, ibu rumah 
tangga, pedagang, dan lain-lain, baiklah kita mengandalkan diri kita sendiri 
untuk menjamin kehidupan kita dan keluarga kita di masa mendatang. Tetapkan, 
apa tujuan kita bekerja, untuk apa, untuk siapa.


=== Inspiring you a better life ===


Salam Hangat,
Firsty Ren, ST

>Other reference:
>http://myfutureconcept.blogspot.com/
>Join me to be agent:
>http://myfutureconceptlowongan.blogspot.com/


Kirim email ke