Rumah Tropika, Hunian Alternatif yang Eksklusif
BAGI yang menyukai hal-hal baru, kini telah hadir konsep rumah tropika. Sesuai namanya, rumah yang diusung para konseptor desain yang masih muda usia yang bermarkas di Kamdanen Sariharjo Ngaglik Sleman menciptakan sebuah hunian sesuai iklim tropis yang eksklusif dan kontemporer. Bahan yang digunakan kayu dikombinasikan bambu, glugu, bengkerai, dan kayu marbau. Konsep yang ditawarkan, outdoor berciri khas menyatu dengan alam tidak menggunakan bidang yang dapat memisahkan lingkungan. Konsep baru ini ternyata mendapat respons bagus dari kalangan tertentu (berduit). Sebab rumah tropika ini memang bukan sebagai rumah utama melainkan second home atau rumah kedua. Artinya rumah ini dibikin yang fungsinya tak ubahnya seperti gazebo yang menjadi pelengkap untuk mempercantik rumah utama. Agatha Nalta konseptor Rumah Tropika Abadi mengungkapkan tampilan rumah tropika ini lebih mengarah ke alam. Dibuat dengan konstruksi tahan gempa sesuai kondisi wilayah Indonesia. Sambungan kayu mengacu pada sistem yang diterapkan di Jepang yang tahan guncangan. Posisi disesuaikan arah matahari, pergerakan angin dengan menghitung pergerakan sirkulasi udara, sehingga debu tidak banyak masuk. Yang lebih penting model dan gaya rumah tropika ini disesuaikan rumah utama, sehingga keberadaannya bisa nyambung atau tidak merusak arsitektur rumah utama. Treatment anti serangga atau rayap sebuah keharusan karena 93 musuh rumah kayu adalah rayap. Agatha menyatakan keheranannya, orang yang hidup di daerah dingin justru tertarik dengan model rumah tropika, sementara tak sedikit orang-orang Indonesia yang hidup di daerah panas sangat gandrung dengan rumah gaya Eropa yang sebenarnya hanya cocok diterapkan untuk daerah dingin. Rumah gaya Spanyolan atau Mediterian yang begitu saja dipakai atau diterapkan tanpa modifikasi, sehingga kurang cocok dari segi kenyamanan, terutama penempatan jendela maupun atap. Sebab rumah daerah dingin dirancang untuk melawan dingin, sehingga jika diterapkan begitu saja di Indonesia tanpa improvisasi, maka akan terkesan angkuh dan terasa panas. Untuk itu, rumah yang baik untuk hunian adalah rumah yang dibangun sesuai dan selaras dengan iklim maupun alam. Dari segi konstruksi rumah tropika ini menggunakan baut. Tidak pakai paku. Jika sewaktu-waktu pindah posisi atau pindah tempat bisa dengan mudah dibongkar pasang. Atap menggunakan atap sirap dan alang-alang sesuai keinginan dan selera masing-masing penghuni. Kedua atap itu pun terasa lebih alami dan natural yang bisa melunakkan bangunan yang terlihat lembut tapi berwibawa. Sedangkan model dan bentuknya, limasan, joglo, atap plana dan bentuk tradisional Nusantara lainnya. Populer di Bali Di Bali rumah tropika ini sangat populer sejak lama, keberadaannya bukan sebagai rumah kedua tapi menjadi rumah idaman. Pasalnya, di sana banyak yang menyewakan tanah lapang. Bagi pengusaha yang ingin mendirikan kantor atau para pengantin baru yang ingin segera memiliki rumah atau kantor tinggal sewa tanah kemudian pesan rumah tropika ini. Setelah didesain sesuai permintaan konsumen, dalam jangka waktu sekitar 2 bulan rumah dan kantor yang diinginkan sudah berdiri. Menurut Agatha bukan hal mustahil itu akan merebak di Yogya. Bisa jadi para pengantin baru eksekutif muda dan pebisnis juga akan meniru seperti di Bali ini. Mereka sewa tanah kemudian mengkonsep sendiri tipe rumah atau kantor yang diinginkan. Bila dibanding menyewa bangunan, lebih praktis dan lebih murah. Sebab setelah habis masa kontrak tanah, bangunan dengan mudah bisa diboyong atau dipindahkan. "Dalam hal ini calon pengontrak hanya bikin resapan dan sumur. Setelah selesai masa kontrak bangunan rumah kayu itu tetap menjadi miliknya," katanya. Fountein Rumah tropika tak lepas dari kolam, taman dan fountein (air mancur). Ketiganya bisa dibilang sebuah keharusan. Hal ini sesuai tipe alam tropika yang panas bisa diredam sesuatu yang bernuansa kesejukan dengan kehadiran rerimbunan taman yang dipadukan aneka fountein yang menyejukkan dan menenangkan. Taman yang indah dan kehadiran pohon serta fountein berfungsi menyelaraskan antara bangunan dan lingkungan. Perpaduan antara batu, keramik, kerikil, koral pasir yang dikombinasikan dengan sesuatu yang lunak yakni, pepohonan, tanaman perdu, rumput menjadikan lingkungan yang selaras yang berkesan alami. Rumah tropika akan tampak lebih elegan, jika pandai dalam penataan taman dan penempatan unsur-unsurnya. Menempatkan pot-pot tanaman segar maupun tiruan yang dilengkapi kolam air mancur (fountein) bisa diletakkan di luar rumah atau di serambi bahkan di dalam ruangan selain menyelaraskan juga memberikan suasana alam yang menyejukkan jiwa. Bahkan bisa memberikan energi dan sumber inspirasi kehidupan bagi pemiliknya. Gemericik air atau pun air yang tampak mancur dari fountein akan membawa penghuninya seperti di alam pegunungan atau lembah yang masih asri dan terjaga kelestariannya. Bentuk fountein ini sangat beragam seperti berbentuk kelopak bunga, bambu, piramida, ulir dan sebagainya yang dibikin penuh artistik serta penuh nilai seni. Bahan yang digunakan juga beranekaragam, mulai dari batu alam, tanah liat hingga fiberglass. Untuk sirkulasi air, fountein menggunakan alat pompa berkekuatan sekitar 10-20 watt. (Her )-o sumber: http://www.kr.co.id <http://www.kr.co.id/> Warmest regards, Eman Suharyadiwana BeeCons Architecture - Design & Build Jl. Ir. H. Juanda No. 8, Bogor 16121 - Indonesia, Phone : 0251-330153, Fax: 0251-346940 CP : Eman (081804915569) <http://www.beecons.com/> http://www.beecons.com, email : [EMAIL PROTECTED]
