(Sharing)


Jakarta Baru untuk Indonesia Baru & Dunia Baru

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)


“The people on the street were ecstatic about having a candidate who was seen 
as one of them and who spoke the language of the common people. Jokowi did not 
confuse people with technocratic concepts and complicated explanations.”– Wimar 
Witoelar, First Impression of Jakarta’s Day of Decision, The Jakarta Post, Sept 
22, 2012.

***

     Semboyan JB (Jakarta Baru) via terpilihnya Jokowi-Basuki mulai diupayakan 
bergerak dari tataran sloganisme ke tataran kerangka kerja (framework) serta 
realisasinya. Program 100 hari pasangan pemenang pilkada Gubernur dan Wakil 
Gubernur DKI sudah mulai diorkestrasi.

     Penduduk ibu kota yang super sibuk tampaknya sudah sumpek dengan segala 
tambahan persoalan konyol. Mulai dari soal banjir dari luapan kanal-kanal yang 
semestinya mencegah kebanjiran, kemacetan parah di jalur tol yang katanya bebas 
hambatan, birokrasi ruwet penuh kepentingan, korupsi yang kabarnya sangat pekat 
di kalangan aparat pemda, tata kota yang malah menghasilkan kota tak tertata, 
serta banyak kekonyolan lain yang akhirnya membuat warga ibu kota meronta 
memaksa diri untuk menyodok keatas menghirup udara segar politik demi 
memperoleh pemerintahan baru bagi daerahnya. Warga polis sudah bergerak! 
Menuntut pembaharuan kota. Warga butuh pemimpin yang punya visi-kota dan bisa 
menerjemahkan visi itu kedalam bahasa yang mudah dimengerti warga kebanyakan, 
sederhana, lugas, lugu tapi tegas.

     Diskursus tentang crash-program 100 harinya langsung digelar. Menohok 
langsung ke jantung persoalan rakyat: rencana aplikasi smart-card untuk program 
pendidikan (pemegang kartu dapat mengakses pendidikan bebas biaya mulai dari 
sekolah dasar sampai menengah atas), health-card untuk program kesehatan 
(dibagi menjadi dua tipe, gold untuk penduduk berpenghasilan rendah dan silver 
untuk yang lainnya). Mereka yang berhak untuk kategori gold dapat mengakses 
layanan kesehatan gratis di rumah sakit pemerintah maupun swasta. Progam 
reformasi birokrasi, misalnya untuk proses aplikasi ijin mendirikan bangunan 
(IMB) dan ijin-ijin usaha (SIUP) akan diringkas menjadi satu sampai enam hari 
saja. Crash-program juga termasuk soal transportasi massal yang katanya bakal 
menambah 1000 armada busway (dari yang sekarang 520 bis), sambil juga 
mempercepat penyelesaian empat koridor Transjakarta. Menggeser (bukan 
‘menggusur’) sekitar 870 keluarga yang selama ini tinggal
di tepian kali Ciliwung di wilayah Bukit Duri, Jakarta Selatan ke blok 
rumah-susun murah yang bakal disebut ‘kampung deret’ tak seberapa jauh dari 
kali itu juga.

     Harapan baru! Ekspektasi warga ibu kota terangkat tinggi. Ada angin segar 
optimisme berhembus cukup kencang, momentum ini mesti dijaga. Fenomena pilkada 
yang bertajuk ‘Jakarta Baru’ ini menginspirasi gerak ombak pembaharuan 
berikutnya menuju ‘Indonesia Baru’. Wacana soal ini sudah cukup meramaikan lalu 
lintas diskusi-diskusi publik di pelbagai wilayah Nusantara. Menjelang 2014 
dimana presiden petahana tak bisa mencalonkan dirinya lagi, maka bursa kandidat 
mulai hangat. Ada yang sudah terang-terangan mengatakannya…”XXX for President 
2014”, ada juga yang masih malu-malu, “…saya tidak mencalonkan diri, kecuali 
diminta…”, ada pula yang tidak mengatakannya tapi sibuk menggalang dukungan dan 
merajut kekuatan politik dengan aktif terjun ke dalam organisasi-organisasi 
olahraga popular, maupun organisasi sosial yang punya akses massa yang besar 
(seperti organisasi petani, buruh, profesi, dan sebagainya). Nama-nama baru 
bermunculan, dan
beberapa nama lama pun didaur-ulang. Biarlah proses seleksi sosial-politik 
secara alamiah mulai berjalan.

     Fenomena Jakarta Baru ini pun telah menjadi barometer yang mengindikasikan 
semakin matangnya rakyat dalam berdemokrasi. Isu-isu konyol semacam SARA yang 
dijadikan ‘key-messages’ dalam kampanye oleh pihak petahana terbukti tak laku 
dan basi di sanubari Sang Demos. Rasionalitas yang mencari kualitas 
kepemimpinan yang bajik dan bijak
telah menggugat balik emosionalitas yang mengungkit-ungkit sentimen-sentimen 
primordialistik.

     Di aras nasional yang lebih luas, Indonesia telah dan sedang bercermin 
pada Jakarta Baru. Gerakan Indonesia Baru pada gilirannya mesti mengambil 
momentum, demi meletakkan posisi Indonesia dalam atlas global yang secara 
sosial-politik-ekonomi juga terus bergeser mengakomodasi kemajuan dan 
pertumbuhan negara-negara maju, juga negara industri baru dan negara berkembang 
yang agresif mengapitalisasi kesempatan bisnis global yang terdeteksi radar 
korporasi mereka.

     Posisi Jakarta begitu strategis. Lewat Jakarta warga dunia melihat 
Indonesia, maka momentum keberhasilan pilkada DKI ini punya nilai strategis 
yang mengubah lanskap bisnis banyak korporasi di Indonesia (internasional 
maupun domestik). Dampaknya bisa meluas dan signifikan, bagi Indonesia Baru dan 
pada gilirannya bagi konstelasi yang lebih luas di ranah internasional. 



(twitter@andrewenas)
-------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING edisi Oktober 2012


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke