(Sharing)
Manusia-Manusia Spanduk di Negeri Tak Beraturan Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA. “…the new bipolar system is divided in two, but the division is not between East and West, North or South, or even free and unfree. No, the new bipolar system is divided between the World of Order and the World of Disorder.” – Thomas Friedman, Longitudes and Attitudes: Exploring the World Before and After September 11, Penguin Books, 2004. *** Lagi-lagi negeri jiran Malaysia ‘dilumpuhkan’ dengan senjata asap (smoke-gun) ala Indonesia. Lantaran kebakaran hutan (tepatnya kebun-kebun kelapa sawit) di sebagian Sumatera membuat negara bagian Johor yang terletak di selatan Malaysia lumpuh. Banyak ruang kelas di pelbagai sekolah di sana tutup akibat kabut asap tebal. Pemerintah Malaysia menganggap kualitas udara di kota pesisir Muar memburuk dengan kategori berbahaya, dan memaksa terjadinya penutupan sementara kegiatan belajar di 211 sekolah! Sementara itu, di negara pengekspor asap, tidak jelas pula kebijakan apa yang diambil. Memang menyebalkan juga ketika membaca lanjutan ulasan Thomas Friedman tentang bipolaritas World of Order versus World of Disorder lantaran masuknya Indonesia dalam kutub disorder (tak beraturan alias kacau balau). Di kutub disorder ini, masih ada beberapa kategori lagi, begini ulasan Friedman, “The World of Order is built on five pillars – the U.S., the European Union, Russia, India and China, along with all the smaller powers around them. The World of Disorder is comprised of failed states (such as Liberia), rogue states (Iraq and North Korea), messy states that are too big to fail but too messy to work (Pakistan, Colombia, Indonesia, many Arab and African states) and finally the terrorist and Mafia networks that feed off the World of Disorders.” *** Beberapa waktu lalu semua partai peserta pemilu 2014 sudah mengumumkan kandidatnya yang bakal ikut kampanye untuk duduk di perlemen Indonesia. Tak lama lagi masa kampanye mulai, memuncak pada pemilihan presiden dan wakilnya. Kita akan dibanjiri pelbagai bentuk kampanye politik. Spanduk, baliho, selebaran ( yang disebar maupun ditempel) di semua sudut kota. Polusi visual meningkat serentak dengan pekaknya audio janji kampanye. Manusia-manusia spanduk yang tak kenal estetika berkampanye menampilkan dirinya tanpa tedeng aling-aling di setiap persimpangan jalan. Tampilannya mencegat dan penuh tebar pesona. Kosmetika politisi yang menutupi banyak bocel rekam jejak dan cacat etika. Bakal banyak figur yang ditampilkan dan dijanjikan mampu memimpin negeri disorder (tak beraturan) dan messy (berantakan) ini menuju ke kutub sebaliknya. Atau dalam istilah popular sekarang, menawarkan diri sebagai pilot untuk ambil alih menyetir negeri otopilot ini. Sebuah proses yang hiruk pikuk tanpa kita sempat mengambil jarak (distansi) dari fenomena ini untuk sadar akan makna partisipasi politik yang sejati. *** Calon tuan rumah piala dunia sepakbola 2014 dan Olimpiade 2016 adalah Brazil. Pemerintahnya sedang pusing lantaran protes rakyat yang menuntut pembangunan fasilitas publik lebih dulu dibandingkan megaproyek. Dana yang tersedot untuk persiapan dua perhelatan besar itu sekitar USD 26 milyar. Demonstrasi besar-besaran, dua juta orang turun ke jalan pada hari Jumat, 21 Juni lalu. Ada 80 kota di Brazil yang bergolak. Dilaporkan bahwa Free Fare Movement jadi pusat aksi demonstrasi di negeri asal Pele (sang legenda sepakbola ) itu. Para demonstran menuntut penurunan ongkos transportasi publik (bus dan subway/kereta bawah tanah) ketimbang prioritas pembangunan fasilitas mewah menyambut piala dunia dan olimpiade. Kepentingan rakyat dalam negeri seperti rumah sakit dan sekolah minta didahulukan ketimbang pesona penampilan megaproyek. Sejumlah agenda pun disodorkan oleh rakyat: berantas korupsi, turunkan pajak, genjot pertumbuhan dan pembangunan fasilitas publik. Presiden Dilma Vana Rousseff segera menggelar rapat kabinetnya secara intensif, semua menteri sibuk tatkala malam setelah demonstrasi itu dipanggil untuk rapat mendadak. Tantangan ini di tengah kelesuan ekonomi Brazil yang cuma tumbuh 1 % tahun lalu, sementara inflasinya masih bertengger di level 6,5%, ditambah lagi defisit neraca perdagangan. Bursa saham Brazil, Bovespa pun sempat anjlok 20% di bulan lalu. Pesimisme investor terefleksi di situ. *** Di tengah tantangannya masing-masing, Malaysia yang sedang megap-megap diserbu asap Indonesia dan Brazil yang sibuk siap-siap sebagai tuan rumah piala dunia dan olimpiade, rasanya masih ada optimisme bahwa para pemimpin di sana bakal mampu membawa bangsanya keluar dari kemelut sosial ekonominya. Sementara kita di sini masih harap-harap cemas terhadap proses seleksi kepemimpinan bangsa lewat pemilu tahun depan. Semoga kita bukan sekedar mengalami inflasi manusia-manusia spanduk yang jika nanti terpilih bakal pertama-tama cuma memikirkan soal kembali modal atas ongkos spanduknya (berpikir ROI, return on investment belaka). Sehingga apa yang kita khawatirkan, bahwa negeri berantakan (messy) di kutub tak beraturan (disorder) ini tetap dalam status otopilot. Wallahuallam! twitter@andrewenas ---------------------------------------------------------------------- Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Juli 2013 STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES Email: [email protected]
