(Sharing)



Anti-Rapuh


Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.



“We have been fragilizing the economy, our health, political life, 
education, almost everything…by suppressing randomness and volatility.”– Nassim 
Nicholas Taleb, ‘Antifragile: How to Live in a World We Don’t 
Understand’, Penguin Books, 2012.


***


     Awan kelabu masih menaungi Eropa, resesi berkepanjangan. Diagnosa 
sejarah ekonomi kontemporer mendeteksi awal resesi Eropa dipicu dari 
negara dengan timbunan hutang seperti Yunani dan Portugal. Kemudian efek 
kontaminasi menjalar ke negara inti Eropa. Jerman bakal hanya tumbuh 
0,1 % akibat kesalingtergantungan global, pesanan barang bernilai tinggi 
menurun lantaran perekonomian di negara tetangganya juga sedang 
negatif. Sementara itu Perancis, negara kedua terbesar di Eropa juga 
tidak terhindar dari problematika. Sejak menjabat setahun yang lalu, 
Presiden Francois Hollande mesti masih bergelut dengan kontraksi ekonomi 
sebesar 0,2 %. Menteri keuangan Perancis Pierre Moscovici 
menggarisbawahi musababnya, “Kami berada di Eropa, negara-negara zona 
euro merupakan klien utama dan pemasok utama kami. Ketika tetangga kami 
tertekan, kami juga tertekan. Itulah faktor utama penurunan ekonomi 
Perancis.”


     Secara umum zona euro sudah mengalami resesi selama 6 kuartal, lebih 
panjang dari krisis finansial tahun 2008-2009 lalu. Menurut badan 
statistik Eropa, dari 17 negara pengguna mata uang euro, 9 diantaranya 
sedang resesi. Secara umum, kuartal pertama tahun 2013 zona euro 
berkontraksi 0,2 % dibanding tiga bulan sebelumnya. Pertumbuhannya 
negatif terus selama dua kuartal beruntun.


     Resesi ekonomi bisa saja menjalar ke krisis sosial tatkala dampak 
kebijakan pemangkasan anggaran dan peningkatan pajak justru semakin 
meresahkan masyarakatnya. Akhirnya belakangan ini banyak pemerintah di 
zona euro lebih mengedepankan kebijakan yang pro pertumbuhan ketimbang 
sekedar penurunan defisit anggaran. Restrukturisasi ekonomi domestik dan 
pertumbuhan perdagangan adalah dua resep yang diajukan Marie Diron, 
ekonom Ernst&Young, untuk keluar dari tekanan resesi. Sementara 
tahun ini diprediksi bahwa zona euro bakal terkontraksi 0,9 %, ekonomi 
Amerika Serikat masih bisa tumbuh positif 2,5%. Namun tetap mesti 
waspada, karena Eropa dengan 500 juta orang penduduknya merupakan pasar 
ekspor terbesar dunia. Jika daya beli (dan selera belanja)nya turun, 
maka pesanan ke pelbagai korporasi di Amerika Serikat dan Asia juga akan lesu.


***


     Sementara itu di dalam negeri, menurut laporan kepala BPS Suryamin, 
pertumbuhan industri manufaktur besar dan sedang pada kuartal pertama 
tahun ini sebesar 8,94%. Ini turun dibanding pertumbuhan di tahun lalu 
pada periode yang sama, yaitu sebesar 11,1%


     Hal ini memicu menteri perdagangan Gita Wirjawan untuk berpikir ulang 
soal strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, sejak merdeka 
kita hanya berpikir dari sisi permintaan, maka kini kita juga mesti 
melihat sisi penawarannya. Potensi pasar dalam negeri sangatlah besar. 
Pada 20 tahun kedepan, total konsumsi domestik akan sekitar Rp 360 ribu 
trilyun. Bagi para produsen global ini adalah pasaran ekspor yang 
menggiurkan, sebaliknya bagi Indonesia ini beresiko tinggi untuk diisi 
produk impor. Maka diharapkan agar Indonesia bisa menjadi eksportir 
produk pertanian dan manufaktur yang paling efisien di dunia. Maka pola 
pikir dan sikap mental mesti diubah. Bahwa selama ini semangat untuk 
swasembada produk pertanian adalah bagus saja, namun tidak cukup. Dalam 
jangka panjang targetnya bukan sekedar memenuhi kebutuhan dalam negeri 
tetapi bagaimana bisa ekspor. Menteri Gita menunjuk Korea sebagai contoh sukses 
negara yang tidak hanya ekspor produk teknologi/manufaktur, 
tetapi juga ekspor budaya, “Korea Selatan berhasil mengubah pemikiran 
dari permintaan ke penawaran.”


***


     Kerapuhan (fragility) mesti dilawan dengan obat anti-rapuh 
(antifragility), begitu kira-kira usulan Nassim Nicholas Taleb dalam 
kajiannya, “…we can almost always detect antifragility (and fragility) 
using a simple test of asymmetry: anything that has more upside than 
downside from random events (or certain shocks) is antifragile; the reverse is 
fragile.”


     Tantangan industri dan perdagangan global semakin intense, juga kaotik. 
Aspek kesadaran hukum internasional sangat imperatif, disamping 
kemampuan menciptakan produk (penawaran) baru. Soal paten misalnya, saat ini 
Indonesia hanya mematenkan produk 400 buah setahun, bandingkan 
dengan Jepang yang 60 ribu buah setahun! Friksi yang sering kita alami 
dengan negeri jiran Malaysia soal hak cipta produk budaya seyogianya 
bisa jadi
pelajaran pahit.


     Akhirnya kita sepakat juga dengan usulan menteri Gita Wirjawan bahwa 
untuk mengubah pemikiran dari sisi permintaan ke sisi penawaran haruslah 
didukung pendidikan. Ini seperti software-nya dalam sistem ekonomi 
penawaran. Katanya, “Kita harus mengirimkan orang-orang Indonesia yang 
cerdas untuk sekolah di universitas-universitas terbaik di dunia.” 
Upside factors semacam inilah yang mesti terus digalang untuk menjadikan bangsa 
ini anti-rapuh. 




twitter@andrewenas
-----------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Juni 2013



STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
email: [email protected]

Kirim email ke