(Sharing)


Krisis lagi!

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.


“It is within the development of capitalism that we may also find key to the 
understanding of political power in contemporary Indonesia because it is within 
the growing interaction between
 politico-bureaucrat and capitalist that the genesis of the new ruling class is 
to be found.” – Richard Robison, Indonesia: The Rise of Capital, 1986.

***

     Lagi-lagi rupiah terpuruk. Para ekonom angkat bicara, letak persoalan 
adalah di tataran struktural, penyelesaiannya hendaknya bukan sekedar ad-hoc! 
Kenaikan harga barang-barang
 (laju inflasi), neraca transaksi berjalan, iklim investasi, dan nilai tukar 
(kurs) dibedah satu persatu demi mencari penyebab krisis ini.

    Inflasi diduga bukan lantaran faktor moneter, tapi lebih didorong sektor 
pangan (volatile foods) dan barang-barang yang harganya diatur oleh pemerintah 
(administered goods) lewat pelbagai aturan tataniaga yang dalam eksekusinya 
ternyata tidak efektif dan telah mendistorsi mekanisme efisiensi pasar.

     Defisit neraca transaksi berjalan yang lebih disebabkan struktur industri 
pengolah yang tidak kompetitif serta tidak mengalami perkembangan yang cukup 
untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang cepat waktu itu. Akibatnya 
ketergantungan terhadap bahan baku impor (hingga 77 persen dari total impor) 
memicu terjadinya defisit neraca transaksi berjalan. Program hilirisasi 
industri sangat terlambat. Dan upaya-upaya untuk mengejar ketertinggalan ini 
pun masih tidak jelas arah dan kinerja
 kebijakannya.

   Iklim investasi yang masih pekat dilumuri dengan hambatan seretnya gurita 
birokratisasi. Korupsi gila-gilaan yang dilakukan secara berjamaah, bertopeng 
atribut keagamaan, dan koruptornya malah tanpa malu-malu tampil bak seorang 
selebritas. Social punishment pun tidak berjalan, yang ada malah menganggap 
pemeriksaan oleh KPK sebagai ‘cobaan hidup’ dan sang koruptor justru ‘didoakan’ 
supaya tabah dan tawakal menghadapi cobaan ini! Indikasi masyarakat yang sakit 
tergambar jelas disini.

     Buruknya infrastruktur telah mendongkrak biaya ekonomi menjadi sangat 
tinggi (high cost economy). Biaya logistik di Indonesia mencapai 27 persen dari 
PDB (termahal di kawasan). Sementara India cuma 13 persen, China 18 persen dan 
Vietnam 25 persen. Soal lain dari buruknya iklim investasi adalah kualitas dan 
produktivitas tenaga kerja. Masalah pendidikan dan masalah perburuhan (upah 
kerja, demonstrasi dan pemogokan
 kerja) perlu diselesaikan dengan aksi nyata, bukan dengan jargon-jargon yang 
disebar lewat baliho serta spanduk-spanduk yang ditebengi foto-foto sang 
menteri atau pejabatnya demi kepentingan pencitraan belaka.

     Kurs tukar rupiah. Dengan format ekonomi terbuka, nilai tukar tentu akan 
bergerak sesuai dengan fundamental ekonomi serta dinamika ekonomi global. Kalau 
saat ini bank sentral di negara-negara maju menerapkan norma-norma kebijakan 
moneter yang makin ketat maka kita sudah mesti mengantisipasi bakal makin 
tipisnya arus modal global yang masuk pada masa datang. Karenanya dibutuhkan 
nilai tukar rupiah yang sepadan (fair value) demi menjaga likuiditas dollar 
supaya pelaku bisnis tidak panik.

***

     Para pemasar tentu telah memasang radar bisnisnya masing-masing demi 
menangkap sinyal-sinyal perubahan ini, lalu menginterpretasikannya untuk 
menjadi informasi sebagai masukan dalam pegambilan keputusan. Analisa
 aktor-aktor ekonomi dan politik, perilaku (behavior) mereka, struktur maupun 
kepentingan masing-masing, konstelasi sosial-budaya, serta perspektif 
historisnya menjadi kajian penting untuk memahami dan mengantisipasi 
kebijakan-kebijakan yang bakal diambil serta dampak yang mungkin ditimbulkannya.

     Kelas menengah Indonesia yang diharapkan menjadi agen perubahan nyatanya 
tidak menjawab panggilan historisnya. Banyak cendekiawan, profesional, pebisnis 
yang kemudian malah terkooptasi dalam sistem kekuasaan. Melanggengkannya dan 
bahkan mengambil keuntungan dari rejim itu.

     Relasi saling tergantung dan saling menguntungkan ini lantaran para 
pebisnis lokal tidak punya basis ekonomi yang cukup kuat. Perselingkuhan 
politikus dengan pebisnis adalah hubungan simbiose mutualistis. Di satu sisi 
para pebisnis masih menggantungkan pengembangan bisnisnya lewat akses-akses 
politik (demi menyiasati kebijakan pemerintah), di sisi
 lain para politisi butuh dana dari para pebisnis demi melanggengkan 
kekuasaannya.

     Persekongkolan semacam ini telah mendistorsi pelaksanaan banyak program 
pembangunan yang dengan bagus telah dirancang sebelumnya. Akibatnya terjadi 
krisis. Arti krisis yang dalam bahasa Yunani juga disebut ‘krisis’: “…is any 
event that is, or is expected to lead to, an unstable and dangerous situation 
affecting an individual, group, community, or whole society. Crises are deemed 
to be negative changes in the security, economic, political, societal, or 
environmental affairs, especially when they occur abruptly, with little or no 
warning. More loosely, it is a term meaning 'a testing time' or an 'emergency 
event'.” (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Crisis).

     Untuk memahami kenyataan konstelasi bisnis, khususnya krisis ekonomi yang 
terjadi
 di Indonesia,
 para pemasar sejati membutuhkan analisa politiko-ekonomi disamping juga piawai 
menggunakan marketing-tools lainnya.

     Kita telah berkali-kali mengalami krisis, entah berapa kali lagi kita 
mesti belajar dari situasi krisis supaya bisa naik kelas ke tataran masyarakat 
yang lebih matang (mature), bukan sekedar menjadi masyarakat yang semakin tua 
(old).




twitter@andrewenas
-------------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi September 2013



STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke