(Sharing)


Fetisisme Komoditas

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.

“A commodity appears, at first sight, a very trivial thing, and easily 
understood. Its analysis shows that it is, in reality, a very queer 
thing, abounding in metaphysical subtleties and theological niceties.”– 
Karl Marx, Capital: A Critical Analysis of Capitalist Production, Vol.1,
 Moscow 1959.

***

     Setelah IJ-EPA (Indonesia – Japan Economic Partnership Agreement) 
berlaku dan secara bertahap, sejak 2008 diterapkan, maka dampaknya mulai
 dirasakan oleh para pecinta mobil mewah buatan Jepang. Dampaknya adalah
 menurunnya harga jual beberapa jenis mobil mewah Jepang, baik untuk 
jenis MPV (multi purpose vehicle) maupun sedan di bawah 3000 cc. Joko 
Trisanyoto, direktur pemasaran PT Toyota Astra Motor sudah mengatakan 
bahwa, “Untuk Toyota Alphard di bawah 300 cc, harga berkurang sekitar 
Rp.50 juta hingga Rp.80 juta per unit.” Dalam kerangka kerjasama IJ-EPA,
 maka ATPM (agen tunggal pemegang merek) mobil Jepang sudah mendapat 
pengurangan bea masuk impor secara bertahap. Sejak diratifikasi 1 Juli 
2008, tariff bea masuk mobil mewah di atas 3000 cc sudah turun dari 45% 
menjadi hanya 4%. Dan sejak 1 Januari 2012, kendaraan mewah di bawah 
3000 cc yang diimpor secara CBU (completely build up) tarif bea masuknya
 turun dari 40% menjadi 20%.

     Di bawah bendera Loterria, konglomerasi asal Korea Lotte Holdings 
Co Ltd menggandeng PT Mondial Risjad Fastana sebagai master 
franchise-nya untuk membuka bisnis gerai restoran cepat saji. Dengan 
berselancar diatas demam pop Korea mereka berencana untuk 
mengapitalisasi gemerlapnya trend atau mungkin fad ini. Dengan persiapan
 modal kerja sebesar US$ 20 juta mereka siap berekspansi di Indonesia, 
targetnya 40-50 gerai resto fast-food hingga tahun 2015. Tahun ini, 
bakal ada 15 gerai di Jakarta, dengan biaya pembangunan per gerai 
sekitar Rp.3 miliar, dan target penjualan per bulan nantinya sekitar 
Rp.500 juta sampai Rp.1 miliar. Presiden Direktur Mondial, Handi Irawan,
 yakin bahwa demam pop Korea serta dikombinasi dengan menu restoran yang
 cocok dengan lidah masyarakat Asia akan menjadi keunggulan resto cepat 
saji asal Korea ini. Ambisinya adalah untuk menjadi resto cepat saji 
terbesar ketiga di Indonesia pada tahun 2020. Diperkuat oleh sinyalemen Adhi 
Siswaja Lukman yang Ketua GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman 
Indonesia), “Menurut World Bank, 135 juta penduduk 
Indonesia adalah kelas menengah dan generasi muda yang selalu ingin 
mencoba hal baru. Ini yang dilihat oleh waralaba asing, sehingga mereka 
mau masuk ke Indonesia.”

     Sementara itu, di sektor produk electronic consumer-goods, 
Panasonic lewat PT Panasonic Gobel Indonesia merasa optimis 
pendapatannya bakal naik tahun ini sejalan dengan pertumbuhan pasar di 
Indonesia. Target pertumbuhannya dua digit (di atas 10%), tahun lalu 
(2011) penjualannya tercatat Rp.5,2 triliun, dan itu adalah peningkatan 
30% dibanding penjualan tahun sebelumnya (2010) yang sebesar Rp.4 
triliun. Presiden Direktur Panasonic Gobel Indonesia, Ichiro Suganuma, 
menjustifikasi keyakinannya sebagai berikut, “Ke depan, pasar elektronik juga 
akan terus tumbuh karena ada 
kebijakan pemerintah yang menargetkan pada tahun 2020 seluruh wilayah 
Indonesia sudah dapat mengonsumsi listrik.”

***

     Dalam argumentasinya dulu, Karl Marx mengatakan bahwa di dalam 
masyarakat dimana banyak produsen swasta independen berinisiatif untuk 
memperdagangkan produk-produknya satu sama lain maka volume produksi dan
 aktivitasnya hanya bisa disesuaikan satu sama lain lewat fluktuasi 
nilai-nilai dari produk-produk tersebut tatkala dipertukarkan di pasar. 
Lalu koeksistensi sosial mereka dan maknanya, diekspresikan melalui 
aktivitas perdagangan dan transaksi yang terjadi di pasar. Di sini, 
setiap orang tidak punya relasi satu sama lain terkecuali untuk 
keperluan transaksi diantara mereka. Sehingga, relasi sosial mereka 
secara konstan dimediasi dan diekspresikan oleh benda-benda (komoditi 
dan uang). Dalam kelanjutannya terjadilah dominasi benda-benda dan 
obyektifikasi dari nilai (the objectivication of value).

     Pemikiran ini dikembangkan lebih lanjut oleh Georg Lukacs, yang 
melihat bahwa reifikasi adalah sebagai kendala utama kesadaran kelas 
lantaran pertumbuhan kapitalisme telah mengonversi seluruh lapisan 
kehidupan manusia menjadi semata-mata “produk” yang bisa dipasarkan, 
bisa dibeli dan bisa dijual. Maka bentuk komoditi (mengomodifikasi 
segalanya) menginvasi semua jenis kesadaran manusia. Lalu Guy Debord 
maju lebih jauh dengan teori ‘society of the spectacle’ dimana relasi 
antar manusia dipandang sebagai relasi antar citraan (relations among 
images). Dengan tajam Debord menyindir, “The spectacle is the form taken
 by society once the instrument of cultural production have become 
wholly commoditized, and subject to commercial trade, so that aesthetic 
value becomes ruled by commercial value, and artistic expressions are 
shaped by their ability to attract market sales.” Sehingga dalam 
perkembangannya dikemudian hari, “…the whole sphere of personal consumption is 
reorganized according to commercial 
principles.” Bahkan, “…as in modern society even the deepest intimacies 
of inter-subjective and personal self-relating become subject to 
commodification and are turned into separate ‘experiences’ which can be 
bought and sold as a ‘product’ for a price.” Maka, puncak dari alienasi 
manusia terjadi tatkala orang mulai memandang seluruh keberadaannya 
sebagai komoditas yang bisa dipasarkan, serta menganggap bahwa setiap 
interaksi antar manusia sebagai transaksi (potensi transaksi) belaka.

***

     Sebagai pemasar dan sebagai konsumen, kita semua pertama-tama 
adalah manusia. Dalam peran sebagai aktor dalam panggung pemasaran kita 
masuk dalam skenario besar yang bisa saja mencabut hakekat kemanusiaan 
kita dari yang esensial untuk kemudian terjerembab terus ke yang 
aksidentalia terhadap totalitas kemanusiaan. Bahaya alienasi akibat 
fetisisme komoditas nampaknya sudah kronik dan semakin akut di blantika 
postmodern ini.  



(twitter: @andrewenas)
----------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING edisi April 2012



STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke