(Sharing)
Cyberspace dan Implosi Sosial Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA. “Dalam Jaringan semua adalah pinggir sehingga dari arah mana pun kau datang, semua merupakan ujung-terbuka… Jaringan adalah penataan terstruktur yang paling sedikit punya struktur… Faktanya komponen-komponen yang sungguh-sungguh divergen hanya bisa tetap koheren di dalam Jaringan. Tidak ada penataan lain yang…dengan keragaman sejati dapat bekerja sebagai suatu keseluruhan.” – Karlina Supelli, ‘Ruang Publik Dunia Maya’, dalam buku ‘Ruang Publik: Melacak Partisipasi Demokratis dari Polis sampai Cyberspace’, 2010. “Televisi dan cyberspace adalah sebuah ruang, yang di dalamnya apa-apa yang dirahasiakan secara sosial di dunia nyata, di dalamnya ditelanjangi untuk massa. Ia adalah sebuah tempat, yang di dalamnya rahasia pribadi setiap orang dapat dibongkar, yang di dalamnya rahasia-rahasia di dalam ruang pribadi (private space) dibawa dan dipertontonkan di dalam ruang publik (public space). Rahasia-rahasia ruang pribadi itu (tingkah laku, kebiasaan, gaya hidup, seks, tubuh) kini di ruang publik media menjadi milik massa.” – Yasraf Amir Piliang, ‘Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika’, Jalasutra, 2009. *** Munculnya kasus Novi Amelia (sang model) telah berkembang menjadi dua sisi, yaitu di satu sisi beliau sebagai tersangka (tertuduh) yang mengendarai mobil dalam keadaan mabuk dan akhirnya menabrak sejumlah orang (termasuk polisi katanya). Dan sisi lainnya dimana beliau sebagai korban pelecehan yang dilakukan – diduga – oleh oknum kepolisian yang telah mengambil gambar foto beliau dalam kondisi hampir tanpa busana, lalu bocor (dibocorkan)nya foto-foto itu secara meluas di media-sosial. Akibatnya, seketika sang model berubah status dari pelaku pelanggaran menjadi juga korban pelanggaran. Mendapat antipati publik sekaligus simpati publik. Observasi kita saat ini mengarah pada tempo atau durasi wacana yang mencuat via media-sosial. Kesan yang muncul bahwa setiap wacana di media-sosial cenderung berlalu cepat tanpa diskusi yang maknawi. Dalam tulisannya Karlina Supelli menganalisa bahwa, “Informasi mengalir deras dari berbagai arah memungkinkan orang dari berbagai belahan dunia ikut serta mendiskusikan banyak perkara sekaligus, tetapi cenderung juga cepat lupa karena setiap perkara segera tertindih, tergulung ke dalam perkara lain.” Gejala media-sosial dengan lalu-lintas informasi dan tanda-tanda yang melaju di dalamnya sesungguhnya memekakkan dan menyilaukan sekaligus mengaburkan realitas yang seyogianya direpresentasikan oleh tanda-tanda atau informasi yang ditampilkan melaluinya. Ada begitu banyak yang tampil dan tampilnya pun cepat berlalunya. Diceritakan dalam tulisan Yasraf Amir Piliang yang mengutip Paul Virilio, bahwa televisi dan cyberspace diumpamakan seperti bola mata raksasa, yang melaluinya kita dimampukan meneropong sudut-sudut terpencil, ruang-ruang terjauh, serta rahasia-rahasia terdalam dari setiap manusia yang masuk ke dalam jaringannya. Bahkan ekstrimnya, cuma dengan menonton TV atau internet kita merasa sudah menyaksikan seluruh dunia. Ibaratnya, TV dan cyberspace laksana vacuum-cleaner raksasa yang mampu menghisap apapun ke dalam kantongnya. Ia mampu menyerap segala bentuk aktivitas masyarakat ke dalam ruang virtual artifisialnya. “Apa pun yang ada di dunia nyata kini dihisap ke dalam televisi dan cyberspace dalam wujud simulasinya,” tulis Yasraf. Yang jadi konsekuensinya adalah, seperti pernah disampaikan Jean Baudrillard, terjadi semacam ledakan ke dalam (implosi) bukan ke luar (eksplosi) akibat pemadatan aktivitas sosial ke dalam segmen-segmen simulasi sosial di dalam layar televisi atau internet. Simulasinya berbentuk pemadatan ruang-waktu ke dalam ruang dan waktunya media, pemadatan narasi sosial ke dalam narasi-narasinya media, pemadatan durasi sosial ke dalam durasinya media, pemadatan tanda-tanda sosial ke dalam tanda-tandanya media, pemadatan makna-makna sosial ke dalam makna-maknanya media. Sehingga akhirnya, media menjadi ukuran dari apa yang dipahami sebagai sosial atau sosialisasi. Terjadi reduksi makna sosial atau sosialisasi menjadi hanya berarti bahwa yang sosial adalah apa yang ada di media. Sehingga Jean Baudrillard dengan keras mengkritisi, “Di mana-mana sosialisasi diukur berdasarkan ekspos lewat pesan-pesan media. Orang yang diekspos media sesungguhnya asosial atau terdesosialisasi.” Implosi sosial, ledakan ke dalam akibat pemadatan pelbagai aktivitas sosial, ekonomi, politik, kultural bahkan sampai yang religius ke dalam jejaring media dan cyberspace sebagai realitas baru membawa konsekuensi epistemik tertentu. Realitas disimulasikan ke dalam jejaring media dan cyberspace, dan pada gilirannya kumpulan simulasi itulah yang dianggap sebagai realitas (yang terbentuk dalam persepsi pemirsa). Ini semua pada gilirannya tentu bakal juga membawa implikasi etikal yang menuntut setiap kita untuk bisa lebih kritis dalam menafsirkan pelbagai informasi. Apa yang tampil (ditampilkan) via media atau ruang-cyber adalah sekedar simulasi dari realitas. Dan bagi komunikator (mereka yang memasok informasi) di media sosial dituntut tanggungjawab moralnya. Karena dipahami bahwa para pemasok ini tidak dituntut untuk bertanggungjawab langsung atas informasi yang di-upload ke dalam jaringan cyberspace, maka dan justru pada momen itulah tanggungjawab moral muncul. Mereka wajib untuk menerapkan pertimbangan-pertimbangan etikal sebelum meng-upload informasi ke dalam jaringan media-sosial. (twitter@andrewenas) ------------------------------------------------------------------------------- Artikel dari Majalah MARKETING, edisi November 2012 STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES Email: [email protected]
