(Sharing)

Lakhes: Dialog tentang Keberanian

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA


“…memanglebih cocok, menurutku, bila yang mengurusi hal-hal penting [dalam 
pemerintahan] adalah orang yang memiliki hikmat tinggi.” – Sokrates, dalam 
dialog Lakhes (Mari Berbincang Bersama Platon, Keberanian (Lakhes), penerjemah 
& penafsir: A.Setyo
 Wibowo, iPublishing, 2011).

***

   Seperti bakal ketiban durian runtuh, program stimulus ekonomi Jepang senilai 
10,3 trilyun Yen (setara US$ 116 milyar), yang mau tak mau mesti ditempuh PM 
Shinzo Abe demi mendongkrak pertumbuhan sampai 2% sambil mencetak 600
 ribu kesempatan kerja di Jepang, akan ikut menguntungkan Indonesia juga! Apa 
pasal? Rupanya Jepang adalah salah satu negara tujuan ekspor terbesar 
Indonesia. Namun sayangnya sejauh ini neraca dagang Indonesia-Jepang masih 
menunjukkan angka defisit di pihak Indonesia. Ekspor kita ke Jepang (Jan-Nov 
2012) senilai US$ 15,904 milyar, dengan besaran impor US$ 21,110 milyar, 
sehingga angka defisitnya US$ 5,206 milyar. Seperti dikemukakan Wakil Menteri 
Keuangan RI, Mahendra Siregar, “Kalau Jepang tumbuh baik, implikasinya ke 
mitra-mitra ekonomi utamanya juga akan tumbuh baik.”

   Ini adalah salah satu perubahan konstelasi ekonomi global yang memberi 
kesempatan pasar (market opportunity) bagi para pebisnis Indonesia. Namun 
sayangnya lagi, dipembukaan tahun ular ini, ibu kota Jakarta malahan dilanda 
banjir musiman. Banjir musiman artinya – sebetulnya – sudah bisa diprediksi! 
Namun toh – lagi-lagi – dampaknya negatifnya masih tetap
 belum mampu dikelola dengan sikap antisipatif. Akibat langsungnya  adalah: 
layanan perbankan tutup, klaim asuransi meningkat, pusat-pusat perdagangan 
lumpuh, transportasi mandeg, banyak industri manufaktur/kawasan industri 
berhenti berproduksi, arus logistik terhambat, dll. Ini semua mengakibatkan 
kerugian material  yang diduga mencapai angka trilyun rupiah, belum lagi 
hilangnya kesempatan-kesempatan (opportunity-lost) yang tak ternilai. 
Sepertinya, kesempatan bisnis di awal tahun hanyut diterjang banjir.

***

   Pasar bersama ASEAN (AEC: ASEAN Economic Community) tinggal dua tahun lagi, 
2015. Kabar dari kementerian perindustrian kita agaknya suram. Dari indikator 
daya saing (competitiveness) Indonesia masih di posisi 46, jauh di bawah 
Singapura (nomor 2), Malaysia (nomor 21) dan Thailand (nomor 39). Dari 
score-card perbandingan antar negara, menteri perindustrian MS Hidayat mengakui 
kesiapan kita masih di bawah
 tetangga-tetangga di ASEAN (Thailand, Malaysia, Laos dan Singapura).  Komoditi 
andalan kita masihlah di sekitaran: mineral, pakaian jadi, produk kayu, produk 
kimia dan mesin non-elektronik. Semua ini artinya masih mengandalkan kekayaan 
sumber alam (tambang), hutan dan tenaga kerja murah. Ekspor produk-produk 
non-migas kita ke negara-negara ASEAN turun 3% (Januari-November 2012) 
dibanding periode sama ditahun sebelumnya. 

   Pekerjaan rumah yang tidak dikerjakan ternyata banyak sekali. Di bidang 
infrastruktur (fisik dan regulasi) yang kondusif untuk pertumbuhan ekonomi, 
sampai aspek pengembangan sumberdaya manusia, juga yang berkaitan dengan 
kepemimpinan, pendidikan, keadilan, kepastian hukum, dll. Hantu ketakutan 
mengambil keputusan terus gentayangan merongrong sendi-sendi kepemimpinan para 
elite negeri. Roda pemerintahan (governance) terasa berat bergerak, laksana 
roda pedati yang terjebak dalam kubangan penuh lumpur pasca
 banjir.

***

  Pemerintah dan pelaku usaha (swasta, BUMN dan koperasi) adalah agensi kembar 
dari Indonesia Inc. Kerjasama (kooperatif) – bukannya kolusi yang koruptif – 
sangatlah dibutuhkan. Yang pertama menyiapkan infrastruktur fisik dan regulasi 
yang adekuat, sedangkan pelaku usahanya ya menjalankan usaha-usaha yang 
kontributif untuk membebaskan (freedom) masyarakat dari belenggu kemiskinan dan 
keterbelakangan.

  Keberanian, sebagai keutamaan (virtue) kepemimpinan, memang tidaklah mencapai 
rumusan yang definitif bahkan dalam dialog intelektual Sokrates yang direkam 
Plato itu. Namun berkali-kali disebutnya bahwa keberanian adalah  tentang  
hikmat yang merangkumi semua hal baik dan jahat di dalam perspektif masa apa 
pun. Keberanian tak bisa dipersempit dalam pengertian tentang hal-hal yang 
mesti ditakuti dan dipercayai belaka. Sehingga bila Sokrates di atas berkata, 
“…memang lebih cocok, menurutku, bila
 yang mengurusi hal-hal penting [dalam pemerintahan] adalah orang yang memiliki 
hikmat tinggi,” berlaku bagi setiap pemimpin pemerintahan maupun korporasi. Ia 
senantiasa menantang agar dengan hikmat  sertiap pemimpin menggaris dengan 
tegas disposisi etisnya.  Berani memilih yang baik tertinggi (summum bonum) 
untuk keseluruhan masyarakat (bonum commune), bukan berpihak pada proses 
pembusukkan (corruption). 

   Persaingan di tingkat liga ASEAN adalah konstelasi bisnis jangka pendek yang 
segera akan kita hadapi bersama. Waktunya singkat, maka situasinya jadi kritis. 
Ada urgensi untuk keberanian dalam memimpin Indonesia Inc. melewati 
belokan-belokan tajam di arena pacuan bisnis global. Selama ini keutamaan 
keberanian para pemimpin terasa pudar. Yang tersisa cuma penjilat, kaum 
oportunis serta pembonceng gratisan (free-rider) yang sejatinya adalah
 pengecut. 





(twitter@andrewenas)
-----------------------------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Februari 2013



STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke