(Sharing)


Melahirkan Peradaban Baru

Oleh: Andre
 Vincent Wenas,MM,MBA.


“Malam musim panas itu hangat. Bulan sedang purnama. Dengan muram Kaeso 
memandangi bayangannya – sesosok pincang yang berjalan di sepanjang jalan-jalan 
Palatine yang gelap dan sunyi.”– Bab VIII Bayang-bayang Scipio, novel Steven
 Saylor, ROMA: Kisah Epik dari Zaman Romawi Kuno, 2007.

***

     Joe Rospars adalah seorang whizzkid, umur 28 tahun, baru-baru ini ia jadi 
key-note speaker di Personal Democracy Forum (PDF) di Barcelona. Dia bilang, 
“Internet lowers the barriers for people to participate in the political
 process.”  Buat kita di Indonesia, demokrasi ala facebook telah membuktikan 
kedigdayaannya dalam kasus cicak vs buaya. Tatkala parlemen di Senayan dan 
pressure-groups lainnya impoten lantaran terkooptasi, maka segenap 
jamaah-fesbukiyah bersatu padu menggalang opini publik melawan kekuasaan yang 
semena-mena. Tsunami opini publik yang digalang itu sementara ini berhasil 
menggulung niatan kaum jahiliyah yang ingin merampok masa depan bangsa ini 
dengan konspirasi jahatnya.

     Fenomena di atas tentu saja menarik. Selain dimungkinkannya seorang pemuda 
belia bisa berceloteh di fora internasional, pada kenyataannya ia pun fasih 
juga dalam menyampaikan pesannya. Arus komunikasi tidak lagi terlahangi tembok 
perbedaan usia. Pertukaran ide berada dalam jalur bebas hambatan (budaya, 
prasangka). Memang, dorongan kekuatan teknologi telah meruntuhkan banyak 
hambatan komunikasi yang irasional.
 Wacana komunikasi argumentatif antar-subyek seperti yang diadvokasi Juergen 
Habermas nampaknya mulai mendapatkan platform-nya. Atau dalam wacana Hegelian 
kita melihat gerak sejarah ke depan dalam proses dialektika 
(tesis-antitesis-sintesis) yang ‘mengalami percepatan’ lantaran di-booster 
teknologi informasi. Tiang pancang pembangunan negara global dari 
nalar-universal mulai ditancapkan.

     Caveat buat kaum laggards yang telmi (telat mikir) demi memahami lebih 
dalam fenomena dunia-datar (Thomas Friedman, The World is Flat, 2005) ini. 
Kompresi dan ekstensi spatio-temporal telah mendorong perubahan, bukan sekedar 
aksidentalia bahkan sampai di tataran paradigmatik. 

***

     Mayetika, berasal dari kata ‘maieutikos’ (Yunani) yang berarti seseorang 
yang bertindak sebagai bidan yang membantu proses kelahiran. Istilah ini 
diadopsi Sokrates sebagai metodenya, yakni
 membantu proses kelahiran juga, tapi bukan kelahiran bayi melainkan kelahiran 
pengetahuan, kesadaran, ide. Dalam maieutike-techne Sokrates, dikatakan bahwa 
orang sudah punya pengetahuan, tetapi pengetahuan itu perlu dikeluarkan, 
dilahirkan. Sebagaimana proses kelahiran, inheren di dalamnya rasa sakit, 
perlunya kesabaran dan perjuangan (hidup-mati), pengorbanan.

     Proses melahirkan peradaban baru yang compatible dengan paradigma jaman 
yang baru memang bisa juga dirasa menyakitkan bagi sementara golongan. Ada 
ketidak-relaan yang mewujud dalam bentuk resistensi, mulai dari yang sifatnya 
kasat-mata sampai yang klandestin. Namun pilihannya sudah jelas, to be or not 
to be…

***

     Pandangan di atas bisa dikatakan agak Neo-futuris sebagai oposisi 
pandangan Dystopian yang sangat kritis terhadap teknologi (Anthony G. Wilhelm, 
Democracy in the Digital Age, 2000). Alvin
 Toffler, yang  merupakan pentolan neo-futuris bersama John Naisbitt, Jim 
Ruben, Richard Groper dan Nicholas Negroponte, telah mengingatkan bahwa untuk 
menghindari terjadinya ‘gegar masa-depan’ dalam arti ketidakmampuan manusia 
beradaptasi dengan kemajuan (teknologi), maka manusia seharusnya terus menerus 
memperbaiki dan berpikir ulang (rethinking) mengenai tujuan sosial yang 
disebutnya dengan ‘demokrasi antisipatoris’. “Dengan meluncurkan sebuah proses 
besar pembelajaran sosial – sebuah eksperimen dalam demokrasi antisipatoris di 
banyak negara sekaligus – kita dapat menghadang tikaman totalitarian,” demikian 
Toffler.

     Di lain pihak, kita juga mesti mempertimbangkan pandangan Dystopian 
(tokohnya: Husserl, Heidegger, Thoreau, Arendt dan Barber) yang sangat kritis 
terhadap aplikasi teknologi. Seperti diurai oleh Heru Nugroho dalam pengantar 
terjemahan buku Anthony G.
 Wilhelm, “Bagi Heidegger inti dari teknologi adalah cara untuk mengungkapkan 
atau menjadi suatu cara berpikir mengenai alam sebagai suatu cadangan tetap, 
sebagai suatu sumber untuk dipulihkan, ditata dan dikontrol. Sedang Thoreau 
menyindir bahwa teknologi hanya bersifat menolong. Namun Arendt menyesali 
hilangnya hubungan manusia karena pemusnahan ruang-ruang publik yang muncul 
secara bersama dalam rezim totalitarian (maksudnya rezim komunikasi modern). 
Dalam hal ini romantisme Arendt adalah ketika ia berfikir bahwa demokrasi 
politik yang ideal adalah model Yunani kuno. Sementara Barber melihat 
komunikasi politik bermedia dengan kecurigaan, sebab komunikasi politik di 
ruang cyber adalah sesuatu yang abstrak, tak berbentuk dan anonim sehingga 
mudah terjadi penyimpangan.”

***

     Dalam retrospeksi, kita mungkin juga sedang melihat bayang-bayang kita 
sendiri, yang berjalan
 terpincang-pincang meniti rute-rute asing dalam jaman yang baru. Namun kalau 
saat ini kita masih selamat berdiri tegak di sini, maka tatapan ke masa depan 
seyogianya berlensa optimis. Lakukan yang terbaik, siap sedia setiap saat, soal 
kiamat itu bukan urusan kita. Selamat Natal & Tahun Baru 2010.



twitter@andrewenas
---------------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Desember 2009


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke