(Sharing)

Matinya Realitas: Ekonomi Spekulasi Global

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.


“Inilah geografi realitas yang sepenuhnya dibangun dalam keliaran 
fantasi, ilusi, dan halusinasi manusia; yang digerakkan oleh kekuatan 
ekstasi, panik, histreria, dan paranoia yang tanpa penghalang; yang 
didorong oleh energi libido, mesin hasrat, dan kehendak kuasa yang tanpa
 kendali.” – Yasraf Amir Piliang, buku: ‘Posrealitas - Realitas 
Kebudayaan dalam Era Posmetafisika’, Jalasutra 2009.

***

     Malapetaka JP Morgan Chase & Co (JPM) yang mesti menanggung 
rugi sampai 2 milyar dollar masih membawa rentetan akibat yang 
berkepanjangan. Dalam laporannya Erik Schatzker & Stephanie Ruhle 
(BloombergBusinessweek, May 21, 2012) menyebutkan, “…JPM may face even 
bigger losses on faulty bets in credit markets if Europe’s debt crisis 
worsens… JP Morgan, the biggest U.S. bank by assets, is seeking to 
stanch losses in its chief investment office as other hedge funds 
exploit its money-losing positions by trading in indexes tied to 
credit-default swaps. New York-based JP Morgan revealed a $2 billion 
loss on May 10, and CEO Jamie Dimon said it could increase by as much as
 $1 billion this quarter.”

     Robohnya bangunan bisnis virtual derivatif keuangan macam ini 
bukanlah yang pertama kali. Kasus rontoknya Lehman Brothers merupakan 
peristiwa financial-fiasco yang kolosal juga. Reportase Andrew Ross 
Sorkin yang dibukukan berjudul “Too Big To Fail” menggambarkan dengan 
gamblang peristiwa itu. Bahkan diceritakan pada awalnya, tokoh pertama 
yang tampil untuk merencanakan penyelamatan Lehman Brothers adalah Jamie
 Dimon sang CEO JP Morgan Chase itu sendiri. Sekarang malah ia yang jadi
 pesakitannya.

***

     Lanskap industri Amerika Serikat dipenghujung abad kesembilanbelas 
masih bercirikan pabrik-pabrik independen yang terdiri dari berbagai 
macam ukuran, dan tipikalnya masing-masing dimiliki oleh 
entrepreneur-industrialis, dimiliki sebuah keluarga, atau oleh sebuah 
asosiasi usaha. 

     Lawrence E. Mitchell dalam penelitian sejarahnya (buku: The 
Speculation Economy – How Finance Triumphed Over Industry, 2007) 
berusaha merekonstruksi masa pembentukan kapitalisme korporasi di 
Amerika Serikat yang berlangsung antara tahun 1897 dan 1919. Dimana pada
 kisaran itu adalah masa, “…the birth of the giant modern corporation 
spurred by the rise of the stock market and how, by the 1920s, the stock
 market left behind its business origins to become the very reason for 
the creation of business itself.”

     Penyebabnya adalah situasi kompetitif yang cenderung destruktif, 
mengakibatkan terjadinya banyak pencaplokan perusahaan (merger & 
acquisition), korporasi jadi begitu besar dan akhirnya terjadi surplus 
modal. Dengan ringkas Mitchell merangkum, “Destructive competition had 
been a problem for years. But it was only during the last few years of 
the nineteenth century that business distress combined with surplus 
capital searching for investment opportunities, changes in state 
corporation laws, and the creative greed of private bankers, trust 
promoters and the newly evolving investment banks created the perfect 
storm that shifted the production goals of American industry from goods 
and services to manufacturing and selling stock. Within twenty years the
 strong ripples of the merger wave had transformed the 
nineteenth-century industrial corporation into the giant corporation, 
and the stock market into the focus of American business life. While 
regulators were embroiled in questions of monopoly, the speculation 
economy subtly took form.” Pasar modal yang awalnya merupakan alat untuk
 membantu menciptakan bisnis baru, malah berujung pada penundukkan 
bisnis di bawah kekuasan pasar modal itu sendiri. 

     Kejadiannya – setelah New York Stock Exchange dibuka kembali pada 
December 1914 – seperti tutur Lawrence E. Mitchell, “Almost overnight 
American business transformed into a vista of giant combinations of 
industrial plants owned directly and indirectly by widely dispersed 
shareholders. Business reasons sometimes justified these combinations. 
But they might never have come into being if financiers and promoters 
had not discovered that they could be used to create and sell massive 
amount of stock for their own gain.” Maka hasilnya adalah sebentuk 
kapitalisme yang mana pasar modal yang spekulatif mendominasi 
kebijakan-kebijakan bisnis Amerika. Lahirlah, the speculation economy.

     Ekonomi spekulasi ini adalah ketika manajemen usaha yang dulunya 
lebih memusatkan perhatian pada produksi, kini tergantikan dengan 
manajemen usaha yang memusatkan perhatian pada harga saham! Dari 
manajemen orientasi jangka panjang ke orientasi jangka pendek. 

     Namun dari penelitan sejarahnya, akhirnya Mitchell menarik 
pelajaran penting, “One lesson of the formative period is that 
meaningful reform can be achieved only by reforming the market, by 
reforming finance itself to create the incentives for stockholders and 
managers to relearn the lesson that profits come from industrial 
production, not from the breeze that blows toward tomorrow. It is a 
lesson that we often forgotten during these formative years and many 
times since.”

     Realitas ekonomi semakin kabur (dikaburkan). Virtualitas ekonomi 
lewat beragam instrumen derivatif keuangan global telah menghadirkan 
semacam geografi realitas baru, yang sayangnya di dalamnya ditemukan 
banyak keterputusan (discontinuity), keretakan (rupture) dan titik balik
 (reverse). Akibatnya adalah ekstremitas, fatalitas, banalitas, 
promiskuitas, ketidakberaturan, ketidakterdugaan, ketidakpastian dan 
keacakan. Dengan begitu, apa yang disampaikan Jean Baudrillard mungkin 
malah lebih romantis, “Ketika yang nyata tidak lagi seperti adanya, 
nostalgia menemukan maknanya yang sempurna.” 
 



twitter@andrewenas
------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Juni 2012



STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke