Kamis, 14 Apr 2005, Inter Down
MILAN - Inter Milan benar-benar down. Klub berjuluk Nerazzurri itu begitu terpukul setelah menjalani derby kedua babak Perempat Final Liga Champions musim ini di San Siro dini hari kemarin WIB. Kerusuhan oleh suporternya menghentikan laga pada menit ke-73 saat Inter tertinggal 0-1 dari AC Milan. Dus, untuk sementara Inter tertinggal agregat 0-3 karena pada laga pertama di tempat yang sama pekan lalu kalah 0-2. Harapan melaju ke semifinal semakin tipis. Sudah begitu, Nerazzurri menanti penuh cemas atas hukuman yang bakal dijatuhkan UEFA. Ada beberapa alternatif sanksi itu; mulai dinyatakan kalah, didenda, hingga harus menggelar pertandingan tanpa penonton. Komisi Disiplin (Komdis) UEFA berencana menggelar rapat menentukan vonis itu di markas besarnya di Nyon, Swiss, Jumat besok. Kemungkinan laga yang terhenti itu diulang sejak awal memang ada. Tapi, kemungkinan ke arah itu sangat kecil mengingat tak satu pun suporter Milan terlibat kerusuhan itu. Kalau ada referensi, mungkin itu adalah kasus kerusuhan oleh suporter AS Roma pada babak penyisihan Liga Champions, September lalu, saat menjamu Dynamo Kiev dari Ukraina. Saat itu dahi wasit Anders Frisk terkena lemparan batu hingga berdarah ketika hendak masuk ruang ganti usai babak pertama. Laga pun langsung dihentikan. UEFA lantas menyatakan Roma kalah dari Dynamo Kiev dan dijatuhi denda menggelar dua partai kandang sisa tanpa penonton. Kerusuhan di San Siro, saat Inter bertindak sebagai tuan rumah kemarin, diawali oleh dianulirnya gol Esteban Cambiasso pada menit ke-72 oleh wasit Markus Merk dari Jerman. Bila tidak, gol itu akan membuat keadaan berimbang setelah Milan unggul lewat Andriy Shevchenko pada menit ke-30. Interisti garis keras yang berada di Curva Nord, tribun utara di San Siro, langsung mengamuk. Cerawat (benda menyala yang biasa dibawa suporter ke stadion), botol minuman, dan benda-benda lain langsung menghujani lapangan. Salah satu cerawat mengenai lengan Dida, kiper Milan. Kiper asal Brazil itu langsung roboh dan harus dirawat selama beberapa saat. Melihat kurang maksimalnya aparat keamanan mengantisipasi kebrutalan penonton itu, Merk memilih menghentikan pertandingan. Setelah menunggu selama 25 menit, Merk memutuskan melanjutkan lagi pertandingan. Tapi, 30 detik kemudian Merk menghentikannya lagi karena cerawat dan berbagai benda lain terus menghambur ke lapangan. "Saya tak pernah melihat hal seperti ini pada derby-derby Milan sebelumnya. Yang dilakukan para suporter ini tidak saja merugikan Inter, tapi seluruh Kota Milan," sesal Carlo Ancelotti, allenatore Milan, seperti dilansir situs resmi UEFA. Yang jauh lebih menyesal tentu saja kubu Inter. Allenatore Roberto Mancini tak bisa berkata banyak saat jumpa pers bersama Ancelotti setelah laga dihentikan. "Saya tidak tahu harus bicara apalagi selain kekecewaan yang sangat mendalam atas apa yang telah terjadi ini," kata Mancini seperti dikutip Channel 4. Sedangkan kapten Inter Javier Zanetti menolak mengomentari kerusuhan itu. "Tersisih dari ajang ini saja sudah sangat menyakitkan karena Liga Champions begitu berarti bagi kami. Apalagi, ditambah dengan insiden memalukan seperti ini," tutur bek asal Argentina itu. Sorotan juga patut diarahkan kepada kinerja aparat keamanan. Banyaknya "senjata" yang dimiliki para suporter adalah bukti kalau mereka tak bisa mengantisipasinya. Bahkan, ketika kerusuhan sudah meledak, mereka juga gagal meredamnya hingga wasit memilih untuk menghentikannya. Padahal, seperti diakui Kepala Kepolisian Milan Paolo Scarpi, hanya sekitr 200-300 suporter dari total 80 ribu pendukung kedua tim yang hadir di stadion yang terlibat kerusuhan. Scarpi hanya bisa menjanjikan pihaknya segera mengusut kasus ini karena wajah-wajah mereka yang terlibat sudah terekam kamera. "Mereka-mereka yang terlibat itu kebanyakan orang-orang lama yang selama ini memang terkenal sebagai biang kerok," kata Scarpi seperti dilansir Reuters. Empat tahun lalu saat menjamu Alaves di Piala UEFA, sebagian Interisti juga berulah. Buntutnya, Inter pun didenda 75 ribu franc Swiss plus dua kali harus menggelar pertandingan kandang di luar San Siro. Terulangnya kembali ulah memalukan ini pula yang membuat media Italia rama-ramia mengutuk. La Gazzetta dello Sport menyebut kejadian ini sebagai sesuatu yang sangat memalukan untuk sebuah kota beradab seperti Milan. "Milan lolos, tapi sekarang masalahnya bukan lagi hasil dari pertandingan itu. Apa yang terjadi sekarang sangat merusak reputasi persepakbolaan Italia secara umum," tulis media olahraga terkemuka Italia lainnya, Corriere della Sera.(ttg) -- Best Regards Tombo Ati (Dikirim nganggo The Bat! 2.10.03) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/5iY7fA/6WnJAA/Y3ZIAA/2_TolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY. ========================================================== Milis Tabloid BOLA Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED] ========================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/bolaml/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
