Apa dosa Kimi? Kalau dipakai persentase, mungkin dosanya dibagi rata, 50-50 gitulah. Lebih spesifik, ini ada andil dosa McLaren juga, itu kalau merujuk ucapan Ron Dennis.
Regulasi jelas membolehkan pembalap mengganti ban kalau: (1) rusak atau (2) pecah. Ban mobil Kimi gak pecah, tapi sudah rusak. Bahasa kompeni-nya sih flat-spot, tapi mungkin terjemahan sederhana adlh ban peang atau sudah tidak bundar utuh. Gara2 ban peang itu vibrasi di bagian kanan depan jadi gila-gilaan. Itu terlihat jelas dari layar kaca. Hantaman berikut tentu saja suspensi, yg patah menjelang Kimi mengakhiri lap terakhirnya. Gara-2 suspensi patah itulah peluang Kimi mengejar poin Alonso jadi tambah berat di sisa musim ini. Ron Dennis bersikukuh bhw taktiknya tidak mengganti ban Kimi adalah tepat, artinya dia memang memaksakan Kimi utk menang head to head di atas trek. Tepat dari mana, wong Kimi gagal kok? Kalau Kimi sukses, itu baru namanya taktik yg paid-off, seperti saat mereka menunda pit stop Kimi di GP Monako sepekan sebelumnya. Hasil di GP Eropa menurut Ron Dennis tidak disesali, tapi hanya membuat mereka kuciwa. Saya pikir, Ron ini ahli sastra juga. Angkatan Pujangga Baru kayaknya dia. Memang yg sama2 kita sesali adalah kenapa Kimi tidak dibawa masuk utk pit stop? Padahal, tabungan waktunya cukup banyak utk tetap ada di podium. Pit stop terakhir Kimi terjadi di lap 43 dan kejadian ban peang itu menurut Ron bermula satu lap berikutnya ketika Kimi menyusul Villeneuve. Posisi 4 waktu itu adalah Rubens Barrichello dan Barrichello sendiri melakukan pit stop ketiganya di lap 48. Gap Kimi-Barrichello pada lap 49, 50, 51 (kalau dia mau masuk pit di sekitar lap ini) adlh 29 dtk, 28 dtk, 27,5 dtk. Itu cukup bagi Kimi utk masuk pit, ganti ban kanan depan yg peang itu karena diperbolehkan regulasi, dan ketika keluar pit ia masih tetap bisa di depan Barrichello. Podium tetap di tangan, bukan? Malu karena kendali lomba lalu dipegang Alonso? Agak kasar mungkin pakai kata malu. Kalau berpikir Championship, mestinya McLaren dan Kimi "berpikir jernih". Sudah banyak contoh mereka berpikiran jernih seperti itu dan malah akhirnya sukses. Yg paling gres adalah Alonso di Monte Carlo seminggu sebelumnya. Sadar wkt itu ban belakangnya udah gak ngelawan, dia "merelakan" posisi 2-3 lepas ke tangan Heidfeld dan Webber. Katanya, yg penting dia dpt 5 poin (finis ke-4) dari pada "potensi" 0 poin. Kimi pun mestinya begitu. Lebih baik dpt 6 poin toh, ketimbang akhirnya (dan faktanya) 0 poin? Kasus Schumi di GP Spanyol 2000 juga bisa jadi pelajaran. Dia pole, tapi di race ada aja trouble. Mulai dari nabrak kru saat pit stop, ban kempes, sampai akhirnya dia hanya bisa finis ke-5 dgn rival utama Mika Hakkinen jadi pemenang. Apa kata Schumi? Yg penting gua dpt 2 poin dan itu bisa vital di akhir musim. Cerita selanjutnya kita sdh sama2 tahu. Jadi, kalau nanti Kimi gagal jadi juara dunia, apalagi dgn selisih poin tipis, saya pikir dia baru sadar betapa arti "berpikir jernih" di Nurburgring kali ini. Memang sih mobil McLaren lagi gak ada lawan, tapi apakah ada jaminan Renault terus seperti ini? Berharap Alonso DNF pun bukan pilihan bijak. Belum lagi ancaman dari Williams, walau masih terkesan slow but sure. Hiburan bagi Kimi adlh statistik yg memaklumi bhw tiga tahun terakhir Nurburgring memang gak friendly sama dia. Tahun 2003, lagi leading dan butuh poin buat Championship, eh mesin mobil meledak. Tahun lalu mesin yg sama meledak lagi. Tahun ini giliran ban-suspensi. Tapi, ini yg gak kalah vital, hasil lombanya dianggap classified dgn finis di urutan 11. Jadi, ini modal bagus utk kualifikasi GP Kanada, dari pada dia harus DNF. HEATWAVE Secara umum, ini yg tak terpantau secara kasat mata, ada lagi musuh utama penyebab drama-drama di Nurburgring. Itu adlh heatwave atau gelombang panas yang dua tahun lalu melanda sebagian besar Eropa. Uniknya, heatwave ini melanda Nurburgring persis di saat mereka mau menggelar GP. Chris Goodwin, komentator Star Sports, bahkan membuat komentator bernas. Katanya, dua pekan sebelum lomba dia ada di Nurburgring dan sebagian sirkuit itu masih bersalju! Sampai Kamis, ramalan cuaca formula1.com pun mengatakan bhw wet race is big possibility. Tapi begitu heatwave menerjang Nurburgring sejak Jumat, ramalan itu secara spektakuler juga menyimpulkan hot hot hot sampai Minggu. Pada free practice Jumat suhu maksimal tercatat 30 derajat Celsius, padahal rata2 di pegunungan Eifel itu 15-16 derajat. Suhu di atas trek lebih parah, 52 derajat, atau bahkan lebih panas dari suhu di atas trek Sakhir di Bahrain! Wuiih.... Hari Sabtu dan Minggu gak jauh beda. Sabtu saat kualifikasi suhu 31 derajat, dgn suhu trek 50 derajat! Saat lomba, suhu sempat mentok di angka 30 derajat dan trek 49 derajat. Walau setelah lomba akhirnya terpatri di angka 24 dan 41 derajat. Dgn kondisi ini jelas mereka yg memilih ban softer akan kena batunya. Kalau mengaca pada Pre-Nurburgring, McLaren memang lagi menikmati bulan madu dengan ban softer Michelin. Dgn JPM yg juga gak ngelawan, terlepas dari dia sempat tertabrak, kemungkinan ada dampak heatwave tetap ada walau tak diakui oleh ybs. Lalu, dgn ban-ban harder sukses besar di Nurburgring, kemungkinan dampak itu lebih terasa. Nick dan Rubens walau sama2 tiga stop, diakui memang pakai ban harder. 1st LAP INCIDENT Posisi start 1-2-3-4-5-6: nick, kimi, webber, trulli, jpm, alonso. Nick dan Webber, standar Williams, start buruk. Nick disusul Kimi. Webber sdh disusul JPM dan JPM sudah membelokkan mobilnya memasuki tikungan pertama. Artinya, ia sdh dpt racing line yg pas. Tapi, Webber telat tahu dan telat pula ngerem. Tabrakan tak bisa dihindari. Webber ngaku salah, gentleman, karena memang salah dia (sebenarnya blame to starter mobil2 Williams). Gara2 kasus ini, Alonso ngerem tapi dia ditabrak Ralf yg start di urutan 8. Di sini Alonso padahal udah pasrah, yaahh gua gak finis dach. Tapi, dasar nasibnya lagi bagus, dia malah bisa terus dan bahkan menang. Karena nabrak, otomatis sayap depan Ralf rusak dan harus diganti. TYRE WAR BRIDGESTONE 0, MICHELIN 7 Mau apa lagi Bridgestone? Di Pre-Nurburgring, saya "menyarankan" Schumi pakai stint pendek di awal, lalu stint panjang berikutnya. Ternyata "nasihat" saya itu dipakai Barrichello. Bagi Ferrari, jelas itu sukses besar. Tapi tidak utk terminologi tyre war. Michelin masih terlihat superior. Kalau patokannya sama2 ban hard dgn stint pendek, Barrichello kalah dari Heidfeld. Selain itu, tak ada lagi kebanggaan tunggal Bridgestone: fastest lap. Rubens kalah dari Alonso dan Kimi, dan Schumi bahkan kalah dari DC. Saya menduga, faktor heatwave masih berperan di sini. Artinya, dgn panas menyengat, Michelin lebih kentara superioritasnya. Yg menarik adlh komentar Pierre Dupasquier. Dia bilang, dia sdh melihat dan "merasakan" flat-spot di ban mobil Kimi saat pit stop keduanya berlangsung di lap 43. Bahkan, Pierre bilang flat-spot terlihat "very clearly". Tambah jelas kan, kenapa McLaren seharusnya menyuruh Kimi masuk pit sekali lagi utk menyelamatkan that 6 valuable points. TEAM BY TEAM FERRARI 1 Schumi 2 Barrichello 8 race, ya 8 race tanpa menang. Ini rekor terburuk Ferrari di era Schumi. Yg lebih parah adalah blm ada tanda2 mereka bakal menang. Ternyata bukan cuma ban Bridgestone yg gak tahan udara panas, tapi juga sasis F2005. Barrichello memang dpt podium, tapi performanya di atas trek sungguh jauh dari kadar memuaskan. Bahkan kalau DC gak kena drive thru penalty, Barrichello bisa stuck di urutan 5 (tentu kalau Kimi juga gak sial). Schumi sendiri udah jelas2 ngaku: Gua kagak mungkin bisa nyusul DC, dlm kondisi apa pun! Artinya, kalaupun lap pertama clear gak ada insiden, ya posisi lomba gak jauh2 dari ini. Poor red... BAR 3 Button 4 Sato/Davidson Sama mengecewakannya dgn Ferrari. Mesin 5 minggu benar2 gak bisa diajak kompromi. Menurut Button, mau di-save kayak apa juga waktu free practice, yg namanya mesin uzur ya tetap susah diajak kencang. RENAULT 5 Alonso 6 Fisichella Kalau Alonso yg udah ditabrak Ralf terus benar2 retire, di lain sisi Kimi menang, poin jadi 49-37 atau selisih 12. Tapi, kejadiannya terbalik: Alonso gak retire malah Kimi yg kandas. Poin 59-27, gap 32. Sekali lagi, ini bukti calon tim dan pembalap juara. Selain secara teknis hebat, faktor luck juga harus ikut menyertai. Kalau melihat ekspresi kocak Alonso yg mukul2 ban Michelin bisa kelihatan di mana modal utama kemenangannya. Ban belakang Michelin udah gak ngegerogotin lagi, tentu itu faktor suspensi belakang yg juga ramah. Dgn ban harder, Alonso "meniru" Ferrari, dgn menggunakan taktik longer first stint. Taktik ini sukses berat, karena dari ke-6 (start) Alonso bisa ada di urutan 2 (normal) dan bahkan akhirnya menang. Fisichella sendiri gak bisa dianggap enteng. Start dari pit lane (berarti more than last grid), dia bisa tenang utk bisa finis keenam. Sekali lagi, inilah tim tipikal juara. Bagus secara teknis, juga ada luck di sana! WILLIAMS 7 Webber 8 Heidfeld Heidfeld dan Webber memanfaatkan betul apa itu media exposure! Sadar mobil mereka belum punya race pace setara McLaren dan Renault, mereka mencuri show sehari sebelumnya. Isi bahan bakar ringan, geber habis, dapat pole! Yg penting sepanjang Sabtu itu dan sampai Minggu pagi orang masih membicarakan kehebatan Williams di kualifikasi. Secara tidak langsung, keputusan FIA memindahkan kualifikasi ke Sabtu adlh tepat. Show dan media exposure yg diharapkan benar2 tercipta. Sayang, start yg lagi2 buruk, membuat Heidfeld dan Webber gak bisa memberi show lanjutan, biarpun cuma sebentar sifatnya karena cepat atau lambat McLaren dan Renault melewati mereka. Kalau dijumlahkan, maka Heidfeld "memimpin klasemen" back-to-back races. Dia dpt poin 16, Alonso 15, Kimi 10, dst. hehehe.... Webber no show. McLAREN 9 Raikkonen 10 Montoya/de la Rosa/Wurz Kalau udah kayak gini, maka "janji" McLaren utk suatu saat memberikan team order pada JPM bisa terbukti. Cuma memang tinggal bagaimana team order itu dilakukan. Pasti asap-lah: as smooth as possible. SAUBER 11 Villeneuve 12 Massa Juara dunia dikerjain anak kemarin sore. Villeneuve diajak drag race sama Narain. Menurut Villeneuve itu membuat dia kehilangan waktu 40 detik. Penyebabnya? Villeneuve terkepung kejadian di tikungan pertama lap 1. Massa mengalami vibrasi, tapi bukan gara2 flat-spot. Lombanya jadi terganggu karena dia sebenarnya bisa finis di depan that poor Ferrari (Schumi) dan JPM. RED BULL 14 Coulthard 15 Klien/Liuzzi Jangan salahkan insiden di lap 1 yg membuat posisi DC melonjak 8 titik, dari 12 ke 4! Sesungguhnya DC pantas memiliki kecepatan itu karena dia memang lagi cepat saat lomba. Kalau Schumi ngaku gak bisa ngejar DC, ya itu ada benarnya. Dari fastest lap maupun gap hasil finis sudah terlihat bahwa DC adalah Man of The Race di Nurburgring. Pengalaman berbicara bhw DC mengambil sisi dlm di lap 1 dan itu menghindarinya dari tragedi. Tapi, gara2 mau menyusul mobil Albers di pit, dia malah melanggar batas kecepatan. Kalo gak, mungkin podium layak buat DC. Salute! Liuzzi mengakhiri termin pertamanya dgn nyaris dpt poin. Understeer membuat dia terpaksa merelakan beberapa lawan menyusul. Di akhir dia berjuang melawan Trulli utk last point yg gak sengaja diperebutkan menyusul tragedi Kimi. TOYOTA 16 Trulli 17 Ralf Potensi gak keluar. Trulli sekali memperlihatkan bahwa dia adalah jagoan kualifikasi. Sayang, kecerobohan kru grid Toyota yg gak bisa minggir pada tanda 15 DETIK sebelum formation lap membuat dia kena drive thru penalty. Kalau gak, normal dia bisa dpt podium lagi. Ralf juga kena sial lagi. Kena stuck di insiden awal, bahkan mesti ganti sayap depan, plus nyaris kesepian saat lomba. Understeer, melintir, dan the end... JORDAN 18 Monteiro 19 Karthikeyan Dari berbagai sisi, Narain sdh mulai sulit menyaingi Monteiro. Ketika Monteiro kena drive thru penalty akibat mengabaikan bendera biru, ditambah pit stop pertama yg tepat, Narain sebenarnya sempat di depan Monteiro selama 27 lap. Tapi, kesalahan kecil justru membuatnya disusul dgn mudah oleh Monteiro. Satu nilai minus lain Narain adalah hasil kualifikasinya yg jeblok, kalah dari Minardi. Sayang, padahal dia sempat main kucing-kucingan sama Villeneuve. MINARDI 20 Friesacher 21 Albers Sasis baru, PS05, akhirnya bisa finis berbarengan. Itu juga berkat mereka start paling belakang sehingga bisa melihat pembalap di depan mereka saling bertabrakan di tikungan pertama. Albers menjadi pembalap keempat yg kena drive thru penalty akibat tidak membiarkan DC lewat pdhl bendera biru sudah berkibar berkali-kali. salam, arief k. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/B9pRWD/3MnJAA/Y3ZIAA/2_TolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY. ========================================================== Milis Tabloid BOLA Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED] ========================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/bolaml/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
