8. 12/06/2005 CANADA, MONTREAL Circuit length: 4,361 km Race distance: 70 laps (305,270 km) Kualifikasi: 00.00 WIB (Minggu, 13/06) --- Live Global/Star Sports Start: 00.00 WIB (Senin, 13/6) --- Live Global/Star Sports
INTERMESO Berita ini memang di luar F-1 tapi masih nyinggung olahraga dan kemanusiaan, makanya saya pakai intermeso. Martunis, bocah ajaib yang terombang-ambing dan terdampar 21 hari di laut akibat korban tsunami, baru pulang dari Portugal. Bocah itu dpt kesempatan nonton sepakbola Portugal vs Slovakia. Martunis kini jadi "DUTA SEPAKBOLA DAN PERDAMAIAN INDONESIA" di arena internasional. Gara2 terombang-ambing sambil mengenakan kostum Portugal dan itu tersorot Sky News, dia jadi sorotan dunia terutama pelaku sepakbola Portugal. Dia sudah bertemu semua idolanya, para pemain Portugal, di Portugal langsung. Sudah begitu, oleh Presiden FIFA, Sepp Blater, Martunis pun dijadikan simbol perjuangan hidup. Luar biasa! Bagaimana Martunis dari dekat? Hari Selasa pagi, dia mampir ke kantor BOLA. Gak lama, cuma 45 menit. Anak itu lugu. Bisa berbahasa Indonesia, tapi lebih suka ngomong Aceh. Ditanya orang dia mengerti, tapi malu menjawab atau mungkin gak pede dgn bahasa Indonesianya. Dia membawa baju Portugal asli bernomor 1 dengan tulisan MARTUNIS di belakang. Baju itu penuh dgn tanda tangan semua pemain timnas Portugal. Tapi, dia pun membawa baju yang membuat kita trenyuh melihatnya: kostum Portugal yang dia pakai saat hanyut diterjang tsunami lalu. Baju itu bertuliskan PORTUGAL di dada plus ada lambang Korea-Japan 2002, lalu nomor 10 bertuliskan RUI COSTA di punggung. Baju itu tentu "baju-bajuan" yg kata bapaknya, Sarbini, dibeli di pasar di Banda Aceh. Martunis memang hanya mengagumi Portugal, tidak Persiraja Banda Aceh, tidak timnas Indonesia! Ini tentu bukan sikap a-nasionalis, tapi keluguan seorang bocah. Rui Costa adalah orang yang menemaninya di tribun saat Portugal vs Slovakia berlaga di Stadion Da Luz. Hebatnya, di setiap gol yang tercetak malam itu, tentu untuk Portugal, Rui Costa mengajak Martunis tos. Itu cerita bapaknya yg juga duduk di tribun. Dari sini kita mudah memahami betapa Martunis jauh lebih mendunia ketimang timnas kita atau juga PSSI. Di BOLA, ketika ditawari minum, Martunis ditanya mau apa, dia jawab: Fanta merah! Wah hebat juga pagi-pagi minum fanta. Ternyata itu memang minuman kesukaannya. Begitu datang, satu botol fanta merah dengan cepat habis. Ditanya mau lagi, cukup katanya. Ketika kami sedang ngobrol, Martunis sambil melihat jam tangannya ngomong pakai bahasa Aceh ke bapaknya. Saya tanya dia ngomong apa, bapaknya jawab: "Di Portugal sekarang jam 3 pagi." Alamak, jam tangannya masih waktu Portugal rupanya! Sambil sama-sama melihat jam dinding menunjukkan pukul 9 pagi WIB itu kami pun semua tertawa. Martunis, Martunis, lucu sekali kau nak... Setelah menyerahkan suvenir dan foto-foto, Martunis lalu keliling kantor BOLA di lantai V dan IV di Palmerah Barat. Tentu banyak yang mau foto bareng sama dia. Kebetulan tampang Martunis memang imut-imut. Karena waktu mepet dia harus segera terbang lagi ke Banda Aceh, Martunis dan rombongan pun kami antar ke Bandara. Cuma 45 menit di BOLA, tapi kesan yang tertangkap dari seorang Martunis tak terbatas oleh waktu. Tak terbayang anak berumur 8 tahun yg sempat dikelilingi ratusan mayat saat terdampar dan hanya makan mie instan dan air mineral ala kadarnya utk menyambung nyawa, sekarang masih hidup dan segar bugar, mendunia lagi. Teman dekat Martunis, Cristiano Ronaldo, akan datang ke Indonesia. Dia ke Aceh hari Sabtu dan di Jakarta ada acara amal hari Minggunya. Martunis suka semua berbau Portugal, tapi tanggal lahirnya, 2 Mei (1997) persis dengan David Beckham. Jangan heran kalau suatu waktu Beckham dpt bocoran ini dan akhirnya juga ingin memanggil Martunis... BERJUANG SANA-SINI Di F-1, tentu perjuangan melawan hidup ala Martunis sdh pernah terjadi dgn semua kisah sukses dan gagal. Tim Lola, Prost, Arrows pernah gagal. Jordan juga gagal karena tahun ini tutup buku. Minardi sukses, walau masih pas-pasan. Berkaca dari persaingan musim ini, ada pula perjuangan-perjuangan lain. Ferrari, misalnya, masih ingin berusaha memenangi seri. Jangan dulu deh berpikir mempertahankan gelar juara dunia pembalap atau konstruktor. Williams sdh siap berjuang mencari mesin baru, karena BMW ngebet mau beli Sauber utk menjadikan tim itu underbow mereka atau malah jadi tim pabrikan sekalian macam Renault, Toyota, dan Ferrari. Frank Williams sdh mengisyaratkan dia bakal mencari solusi pengganti BMW dan dgn diplomatis dia bilang: "Memang, kerja sama kami dgn Renault dan Honda dulu jauh lebih sukses ketimbang dgn BMW." Tinggal tunggu waktu kayaknya, BMW akan mengakuisisi Sauber. Renault dgn gaya khas Briatore menyatakan, kami rela deh kalah asal F-1 gak boring. McLaren, walau lagi punya mobil terbaik, berjuang utk memastikan bhw kemenangan benar-benar milik mereka. Ron Dennis sebenarnya punya ucapan kondang "to finish first, first you must finish" dan itu jadi momok mereka paling tidak menyusul kejadian spektakuler di Nurburgring. Banyak lagi perjuangan-perjuangan di F-1, tapi kita tak perlu mendeklarasikan Formula 1 Perjuangan. F-1 means business. Siapa kuat dia menang dan langgeng bertahan, siapa lemah dia tergusur. It is survival of the fittest. MONTREAL Fuel effect: 0,4 dtk/10 kg bahan bakar Fuel consumption: 3,1 kg/lap Tyre usage: 3, skala 1-5 Brake wear: 4, skala 1-5 Grip level: 3, skala 1-5 (bisa 4 dgn new surface) Downforce level: 3, skala 1-5 Full throttle: 58% rata-2 satu lap Imola with long straight. Selain long straight menjelang tikungan terakhir, Montreal memang nyaris copy-paste dari Imola. Kerb, chicane, tight racing line, dan penggunaan rem yang di atas rata-rata, membuat kedua sirkuit spt anak kembar. Memang hanya straight itu yang membedakan. Gara2 straight itu Montreal punya satu tempat potensial utk menyusul, di mana Imola tidak. Long straight di Montreal bisa menjadi jebakan. Bukan hanya karena ada tembok derita di tikungan terakhir, tapi rata2 mesin yg dipakai oleh sebagian besar pembalap adlh pada GP yg ke-2 alias mesin yg sama yg dipakai di Nuerburgring. Dgn mesin yg sdh separuh masa pemakaian, godaan utk menggeber abis di long straight itu tentu bisa jadi bumerang. Mereka ingin dpt lap time bagus, tapi sekaligus juga harus berpikir menjaga kelangsungan mesin. Spt di Imola, brake duct juga akan lebih besar di sini sbg ventilasi buat rem. Besar dimaksud tentu tetap harus masuk batas toleransi. Tahun lalu Williams kena batunya, di mana mereka memakai ukuran yg di luar batas toleransi. Karena engine cooling system tak boleh terganggu selama lomba, kru pit stop kudu lebih rajin membersihkan radiator. Di sini, potensi potongan rumput menghalangi radiator amat besar. Sirkuit yg ada di tengah danau dgn angin bertiup kencang terkadang juga membawa daun-daun ke tengah trek yg berpotensi masuk ke sidepod di mana radiator berada. Utk pit stop, kalau benar Bridgestone mau memakai ban softer, bisa jadi di antara Rubens atau Michael menggunakan taktik 3-stop. Ferrari sdh mempelajari taktik 3-stop ini dgn menjadikan Rubens kelinci percobaan di Nuerburgring, trek yg secara normal adlh trek 2-stop. Alasan pakai 3-stop selain krn ban softer adlh pit lane yg relatif pendek. Utk pemakai Michelin rasanya mereka akan terlalu konservatif dgn menggunakan 2-stop. FIA FLEXIBILITY TEST Menyusul 'tes khusus' terhadap Renault R25 di Imola, FIA berencana melakukan tes fleksibilitas lagi terhadap sayap belakang. Dgn kondisi dua lomba ke depan hanya berselang seminggu dan digelar di dua sirkuit kompromistis, di mana Montreal dan Indianapolis sama2 punya bagian twisty dan bagian full throttle, kecerdikan para ahli aerodinamika akan diawasi oleh tes fleksibilitas ini. Jo Bauer, technical delegate FIA, mengakui ada perkembangan khusus yg dilakukan tim-tim saat ini. Dari sisi 'sentuhan tangan' sayap belakang di semua mobil F-1 terkini jelas legal, karena mereka tak diutak-atik sejak kualifikasi dan tak dikontrol by computer utk menjadi fleksibel. Masalahnya, ada sayap belakang di mobil tertentu yg disinyalir bisa "buka-tutup" sesuai keperluan dan itu didesain cerdik memanfaatkan angin yg menerpa. Di straight sayap itu bisa 'terbuka' sehingga merendahkan downforce dan mengoptimalkan kekuatan mesin. Di tikungan, sayap itu seperti 'menutup' utk meninggikan downforce sehingga mobil bisa dpt grip bagus di tikungan. Susah ya, padahal itu termasuk penemuan brilian ala Lang Ling Lung lho. Kalau Paman Gober selalu ingin membeli hasil karya Lang Ling Lung, "Paman Gober F-1" justru sebaliknya. TYRE WAR BRIDGESTONE 0, MICHELIN 7 Bridgestone goes softer. Tapi menurut rumor, ban terbaru mereka yg katanya sdh bisa diajak cepat di kualifikasi dan konsisten utk lomba baru bisa dipakai di Indianapolis. Hmmmm... namanya jg rumor, bisa jadi betul bisa gak. Yg paling enak, lihat saja penampilan Bridgestone kalau Montreal kering. Kalau sejuk apalagi hujan, ya itu namanya belum terlihat progres mereka. Ketika mereka bagus di Imola, itu lebih banyak tertolong cuaca sejuk. Dan ketika tiga seri berikut panas, kelihatan mereka kedodoran lagi. Michelin sendiri sdh menawarkan bagian luar ban yg lebih stiff kepada para pemakainya, utk mengantisipasi kejamnya kerb Montreal, plus penggunaan berlebih ban belakang spt di kebanyakan sirkuit. Dari perang ban ini bisa ditarik garis merah dari ucapan dua tokoh dgn kondisi hati berbeda. Dulu Luca di Montezemolo bilang tahun ini bukan "perang konstruktor" tapi "perang ban" dalam menentukan juara dunia. Luca ngomong gitu tentu dlm kondisi kecewa melihat Bridgestone yg under-perform. Eh, tiba2 Flavio Briatore ngomong hal yg sama, walau kita sama2 tahu tim Renault lagi kayak apa sekarang. Berarti memang faktor lebih dominan tahun ini ketimbang tahun2 sebelumnya. Briatore menginginkan hanya ada satu pemasok ban saja, biar kualitas mobil-lah yg lebih menentukan kejuaraan. Yg tak kalah seru adlh pro-kon regulasi baru soal ban. Banyak yg bilang regulasi one set of tyre sekarang ini berbahaya, tapi banyak juga yg mendukung. FIA sendiri mengharuskan semua tim berpikir keselamatan pembalap, dgn tetap menyiapkan dan menggunakan sematang mungkin ban agar reliable sampai finis. Ironisnya, FIA tetap menyebut regulasi skrg adlh 'perfect'. Di lain sisi, Charlie Whiting sbg race director tetap F-1, menyimpulkan bahwa ban yg dipakai Kimi Raikkonen di Nuerburgring sudah masuk kategori damaged/rusak dan boleh diganti. Saya pikir, ucapan Whiting ini sedikit melunturkan kesimpang-siuran ban spt apa yg bisa dikategorikan damaged. Whiting hanya menguatkan bhw pit stop utk ganti ban rusak atau puncture itu tidak boleh bersamaan dgn pit stop utk mengisi bahan bakar. Pastinya, itu sudah merupakan "hukuman" tersendiri. TEAM BY TEAM FERRARI 1 Schumi 2 Barrichello Schumi boleh punya sejarah di sirkuit ini (7x menang), tapi 2005 sdh membuktikan rekor2 bagus dia di sirkuit lain tak bisa bicara banyak. Imola, Catalunya, Monako, dilaluinya dgn kekalahan. Saya melihat satu2nya kans mereka menang di Kanada adlh cuaca sejuk atau hujan. Schumi dpt libur, sementara Rubens tes menjelang back-to-back Kanada-AS. Kalau Ferrari masih dianggap salah satu mesin powerful, tentu F2005 bisa lebih memberikan perlawanan dgn memanfaatkan kecepatan di straight. Patokan di mana Schumi/Rubens berada saat lomba bisa dilihat dari free practice Sabtu (kalau kering). Kalau keduanya ada di deretan 7-12, ya hasilnya gak jauh beda dgn seri2 sebelumnya. Paling banter podium lagi dan dapat fastest lap. Tapi kalau keduanya udah bisa nembus 1-6, apalagi dgn gap gak sampai 0,5 dtk dari pembalap tercepat, barulah kans menang terbuka lebar. BAR 3 Button 4 Sato/Davidson Nightmare mesin usang sdh hilang. BAR kini harus berjuang ala Martunis, mengembalikan nama besar mereka. Kalau mereka loyo lagi, maka kesan bhw mereka hanya bisa bagus dgn berbuat curang akan menguat. Sebaliknya, bila bagus, minimal dpt poin, barulah kecurangan di Imola itu memang tidak disengaja. Yg paling diharapkan BAR tentu adlh mesin baru mereka. Bahkan, utk itu mereka melakukan tes spartan di dua tempat berbeda menjelang ke Montreal ini. Menurut Honda, mesin yg akan dipakai bukan hanya sekedar baru, tapi juga upgrade. RENAULT 5 Alonso 6 Fisichella Renault sdh bisa mengatasi kendala ban blkg yg cepat aus, terbukti di Nuerburgring mereka sukses. Sukses di sini bukan berarti mereka cepat, tapi dlm hal tyre-reliability. Soal cepat, jelas Renault masih kalah dari McLaren. Saya memprediksi perjuangan Renault sampai akhir Juli akan memakai taktik ala cattenaccio. Mereka bakal merapatkan barisan dgn pertahan gerendel, utk mengamankan keunggulan poin yg sdh didapat susah payah selama ini. Mereka sadar, total football Belanda yg ada pada McLaren sdh benar-benar mengancam. Belum lagi ancaman ala tim diesel Jerman pada Ferrari yg suatu waktu bisa melindas siapa pun secara pelan tapi pasti. Justru posisi ini yg membuat kiprah Renault menarik utk diikuti di seri-seri padat dgn minim tes ini. Kalau sampai akhir Juli, sblm F-1 libur tanpa tes selama tiga pekan, Renault masih punya tabungan poin banyak, mereka boleh lega. Tapi kalau saat itu McLaren sdh mendekati, puasa tes di bulan Agustus akan membuat mereka tertekan. Fisichella punya catatan lumayan di Montreal. Tapi, spt halnya Schumi, saat ini catatan2 itu bisa tdk berlaku karena musim 2005 begitu kompleks. Alonso sendiri yakin R25 tetap bisa membawanya menang. Asal tetap berhati-hati dan berlomba dgn perhitungan matang, dia akan pulang dari setiap GP dgn senyum. Alonso kini lagi mengasah insting berhitungnya. Kalah, tapi beda poin gak terlalu besar, okelah. WILLIAMS 7 Webber 8 Heidfeld Perseteruan meruncing. Hasil2 bagus yg diperoleh Heidfeld bukan mengacu pada kelanggengan hubungan BMW.Williams, tapi bagaimana membawa serta Heidfeld ke Sauber. Ya, itu grand design BMW kalau jadi mengikat Sauber. Logika BMW, kerja sama sejak 2000 belum juga menunjukkan hasil memadai. Jadi wajar kalau mereka ingin membangun kerajaan sendiri. Logika Williams, dlm jangka waktu yg sama (maksudnya setara 2000 ke 2005) mereka jauh lebih sukses saat bersama Honda dan Renault dulu. Kalau logika masing2 dipakai, pasti gak ketemu. Mari kita tunggu siapa yg lebih dulu mengadukan gugatan cerai ke KUA. Walau Heidfeld bilang dia kagum dgn solusi cepat ala Williams dlm mengatasi setiap kendala, beda dgn di Sauber/Jordan/Prost dulu, tapi tetap saja ada isu mesin BMW yg dipakainya bersama Webber tak dikembangkan sejak Imola. Progres selama ini disinyalir lebih pada usaha Williams utk mengembangkan sasis FW27. Wah, wah, wah...mudah2an asumsi dan rumor ini salah. McLAREN 9 Raikkonen 10 Montoya/de la Rosa/Wurz Kalau melihat hasil tes terakhir di Silverstone, MP4-20 menyeramkan!!! Tahun lalu, di mana dianggap sbg the ultimate year for sheer speed, Silverstone punya best speed 1:18,2 di kualifikasi dan 1:18,7 di lomba. Kebayang gak dgn regulasi yg udah coba mengarahkan mobil lebih pelan, tapi MP4-20 malah bisa melibas 1:16,9 di sana? Itu dilakukan Kimi saat tes menjelang Montreal ini. Selain Kimi, tak ada satu pun pembalap di tes itu yg bisa menembus 1:16. Boro2 1:16 deh, 1:17 aja gak ada! Silverstone dan Montreal memang beda, tapi Silverstone adlh sirkuit aerodinamika. Jadi kalau bagus di sana, maka di tempat lain bisa bagus juga dgn menyesuaikan kondisi. Kayaknya McLaren tetap pada pakem mereka pakai ban softer, di mana Renault harder. Ban softer ini mungkin akan membawa Kimi dpt pole dan menggila di stint 1-2. Tapi, oleh Martin Brundle, komentator ITV, Kimi disuruh mengurangi kebiasaan mabuk-mabukan. Di Montreal, Kimi pun gak boleh 'mabuk' karena sejauh apa pun dia leading, kalau 'teler' di tikungan terakhir, tembok derita jadi pelabuhan. Ini memang masa2 krusial kalau dia ingin mengejar Alonso. No more mistake. JPM sendiri selain faktor luck, juga terlihat belum pulih benar rasa percaya dirinya terhadap insting berlomba. Injury masih menghantui dirinya dgn terlihat dia biasa-biasa saja, bahkan kadang 'setara' dgn Felipe Massa. SAUBER 11 Villeneuve 12 Massa Local hero yg gak pernah dpt hasil bagus di sirkuit bapaknya. Apalagi kini mobil tunggangan Villeneuve tergolong papan tengah. Finis di 8 besar sdh merupakan 'kemenangan' bagi Villeneuve saat ini. Massa lebih yakin berdasarkan hasil di Imola, di mana Sauber amat kompetitif. Yg paling dipikirkan Sauber saat ini adalah kejelasan BMW utk menjadi bapak asuh mereka. Juni adalah M-Month yg ditunggu-tunggu. RED BULL 14 Coulthard 15 Klien/Liuzzi Jangan heran kalau straight bisa membuat salah satu mobil Red Bull ada di podium. Mesin Cosworth tahun ini termasuk salah satu yg powerful, selain Mercedes, Ferrari, dan Renault. DC pasti ingin membayar utang 'kebodohannya' di Nuerburgring sehingga dia kena drive-thru penalti yg membuat peluang podiumnya lenyap. Klien balik lagi dgn semua 'gatal-gatal' di tangannya. Kalau lagi rezeki, siapa tahu dlm kendali Klien Red Bull bisa dpt poin lagi secara konsisten. Yg menarik adalah barang dagangan baru Red Bull, Scott Speed. Anak muda ini bagus saat tes, jadi kalau di free practice Jumat dia ada di tiga besar itu bukan kejutan. TOYOTA 16 Trulli 17 Ralf Biasanya Toyota agak kedodoran di sirkuit dgn kerb hebat. Imola dan Monako sdh memberi bukti. Tapi, masak sih mereka blm punya solusi? Saya yakin sudah. Buktinya kedua pembalap yakin dpt hasil bagus di Montreal. Mike Gascoyne mengisyaratkan timnya bakal tampil dgn setelah lower downforce dari tahun2 sebelumnya di tempat sama. Tujuannya pasti mereka ingin menjajal dan memanfaatkan mesin Toyota RVX-05 terbaru yg hanya dipakai oleh Ralf. Trulli masih harus memakai mesin Nuerburgring. Kalau mesin baru ini lebih bertenaga, ya wajar mereka menurunkan level downforce utk mendapat lap time bagus dari long straight. Gascoyne menargetkan podium dari salah satu pembalap. JORDAN 18 Monteiro 19 Karthikeyan Another nightmare buat Narain. Dua race berurutan di sirkuit yg baru jelas bukan hanya soal fisik yg terkuras, tapi juga psikis. Tiago sendiri pernah balapan di Montreal di arena Champ Car. Jadi, kemungkinan melihat Tiago better than Narain lagi amat terbuka. Hebat kalau dgn kondisi spt ini Narain bisa out-qualify dan out-pace Tiago di race. MINARDI 20 Friesacher 21 Albers Albers pakai mesin baru, Friesacher gak. Tapi buat Minardi sih sama aja. Mesin baru Cosworth akan lebih terasa kalau Minardi bisa mengejutkan lagi ada di lima besar best speed saat free practice atau kualifikasi. salam, arief k. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/B9pRWD/3MnJAA/Y3ZIAA/2_TolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY. ========================================================== Milis Tabloid BOLA Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED] ========================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/bolaml/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
