Selama ini banyak orang Italia bilang sepakbolanya mengandung konspirasi, 
khususnya dalam hal pengaturan hasil pertandingan melalui tindakan suap. Dan 
pameo itu ternyata benar menyusul diturunkannya Genoa sebanyak tiga tingkat ke 
Serie C1 akibat terbukti melakukan tindakan suap. 

Bukti nyata terakhir adanya konspirasi itu muncul hari Rabu lalu (27/9) di mana 
Genoa yang baru saja mendapatkan tiket promosi ke Serie A harus kembali turun. 
Tak tangung-tanggung, Komisi Disiplin Federasi Sepakbola Italia (FIGC) 
menurunkan mereka hingga Serie C1 atau setingkat Divisi Tiga. 

Menurut FIGC dan Lega Calcio --komisi Liga Italia, Genoa diketahui telah 
membayar dana sebesar 250.000 euro kepada Venezia, lawan mereka di partai 
terakhir Serie B musim lalu. Tujuannya sudah jelas, Venezia harus mengalah demi 
kemenangan Genoa sehingga klub sekota Sampdoria itu mulus promosi ke Serie A. 
Bukti itu diperkuat dengan adanya rekaman percakapan telpon antar kedua kubu 
yang mengandung maksud senada. 

Namun, apa yang dilakukan oleh Genoa ini memang bukan yang pertama di Italia. 
Orang Italia yang sedikit banyak memang gemar melakukan trik sempat tercengang 
kala dua tim elite mereka melakukan hal nista itu. Tahun 1980, AC Milan dan 
Lazio diturunkan ke Serie B karena terbukti melakukan suap. Di tahun itu pula, 
penyerang Paolo Rossi merupakan satu dari 20 pemain yang dikenai sanksi akibat 
terlibat dalam pengaturan skor pertandingan. 

Rossi kemudian mendapat skorsing selama tiga tahun yang akhirnya dikurangi 
menjadi dua tahun. Uniknya, Rossi kemudian menjadi bintang Italia di Piala 
Dunia 1982 sekaligus mengantar Gli Azzurri menjadi juara ketiga kalinya plus 
gelar top scorer. 

Namun pencapaian Rossi itu tetap tidak dapat menghilangkan citra buruk pemain 
mengenai kecurangan dan suap. Tahun lalu, enam pemain dari dua divisi mendapat 
larangan tampil akibat terlibat perjudian yang mengatur hasil pertandingan. 

Klub Serie B Modena kemudian dihukum dan pemain bertahan Stefano Bettarini yang 
kini memperkuat Sampdoria mendapat skorsing selama lima bulan plus denda bagi 
klubnya. 

Pelatih Siena di Serie A, Giuseppe Papadopulo, juga pernah dilarang aktif 
selama lima bulan, sementara pemain belakang Roberto D'Avera mendapat hukuman 
lebih panjang sebulan. Keduanya terbukti terlibat jaringan judi ilegal Napoli. 

Kasus Tak Biasa 
Meski modus penyuapan agak lazim di Italia, namun kasus Genoa boleh dibilang 
tak biasa. Apa yang dilakukan Genoa adalah penyuapan guna menolong mereka 
meraih tiket promosi. Padahal biasanya, penyuapan dilakukan untuk menentukan 
hasil pertandingan yang melibatkan para penjudi. Dan yang dilakukan Genoa sama 
sekali tidak melibatkan kalangan perjudian baik ilegal maupun legal. 

Di bulan Mei silam, pertandingan derby della capitale antara AS Roma dan Lazio 
yang berakhir imbang sempat memancing kecurigaan banyak orang. Tak biasanya 
pertandingan berakhir tanpa gol dan orang pun menyebut pertandingan itu sudah 
direkayasa. Bahkan surat kabar Il Messaggero menyebut pertandingan itu sebagai 
"derby yang memalukan". Sementara Corriere dello Sport menjelaskan pertandingan 
itu "Jorok". 

Tetapi pada akhirnya semua kecurigaan itu tak terbukti. Padahal dengan hasil 
imbang itu, kedua tim menjadi punya tambahan nilai yang lumayan untuk 
menjauhkan diri dari ancaman degradasi. 

Korupsi Divisi Bawah 
Persepsi umum di Italia mengatakan bahwa mereka yang gemar melakukan korupsi, 
penyuapan, atau perjudian adalah klub-klub dari divisi bawah. Persepsi itu 
cukup signifikan karena klub-klub itu pada umumnya adalah klub kecil dengan 
anggaran dana terbatas. Artinya, para pemain tentu akan mencari uang tambahan 
dari luar klub, tak peduli apa hasilnya bagi klub. Atau bisa dibilang, mereka 
bersedia saja menerima uang suap dengan imbalan mengalah. Itu yang ditulis oleh 
pria Amerika Serikat, Joe McGinnings, dalam bukunya "The Miracle of Castel Di 
Sangro" (Keajaiban Castle Di Sangro). 

Castel Di Sangro, klub dari sebuah kota yang berpenduduk 5,000 jiwa itu, 
berhasil naik dari divisi bawah ke Serie B. Namun McGinnings sempat mendengar 
pembicaraan para pemain sesaat sebelum melakukan partai tandang ke Bari di 
partai terakhir suatu musim kompetisi. 

Para pemain itu, menurut McGinnings, mendiskusikan proses mengalah kepada Bari. 
Dan faktanya, Castel Di Sangro memang kalah dari Bari dalam permainan yang 
cukup aneh. Namun, penguasa sepakbola Italia tak pernah melakukan penyelidikan 
terhadap pertandingan itu. 

Bulan Agustus 1999, Italia kembali mendapat cap buruk mengenai korupsi dari 
seorang pemain yang tak disebut namanya. Ia mengirim sebuah surat kepada 
majalah mingguan Famiglia Cristiana yang berisi kesaksian mengenai korupsi di 
sepakbola negerinya. 

"Yang terhormat Bapa...Saya seorang pesepakbola dan telah menjual diri saya di 
pertandingan penting," tulisnya. 

"Saya telah melukai tim saya karena tergoda akan janji sebuah kontrak 
bagus...Saya tahu itu menyimpang dari nilai-nilai sportivitas, oleh karenanya 
maafkanlah saya atas tindakan itu. Apa yang bisa saya lakukan? 

"Hal seperti ini sudah biasa terjadi di dunia sepakbola. Aliran uang telah 
membunuh segalanya dan saya pun menjadi korban." 


[Non-text portions of this message have been removed]



HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke