Selasa, 27 Sept 2005, Ombak Biru Sambut Alonso
OVIEDO - Fernando Alonso jadi "raja" baru Spanyol setelah menjadi juara dunia termuda dalam sejarah Formula 1, Minggu lalu (kemarin dini hari WIB). Jutaan warga negeri matador menyambut gembira sukses tersebut, ribuan turun ke jalan di kawasan Asturias, tempat pembalap Renault itu berasal. Wajah Alonso menghiasi hampir seluruh media cetak di Spanyol. Grand Prix Brazil, lomba yang menentukan itu, juga menjadi tayangan televisi paling populer sepanjang tahun. Lebih dari 13 juta pemirsa -sekitar sepertiga penduduk Spanyol- menyaksikannya. Sebagai perbandingan, pertandingan sepak bola tim nasional Spanyol atau duel Real Madrid-Barcelona biasanya ditonton "hanya" lima juta sampai tujuh juta pemirsa. Perayaan terbesar tentu terjadi di Oviedo, kota asal Alonso di Asturias, bagian utara negeri tersebut. Begitu lomba berakhir sekitar pukul 22.00 waktu setempat, ribuan orang turun ke jalan, berpesta sampai pagi. Warna biru kuning muncul di mana-mana. Yang menarik, warna tersebut seolah menunjukkan takdir Alonso. Sebab, warna Tim Renault itu sama persis dengan warna bendera Asturias. Para pendukung Alonso menyebut diri mereka sebagai Marea Azul alias ombak biru. Usai mengunci gelar di Sirkuit Interlagos, Sao Paulo, Alonso langsung mengucapkan terima kasih kepada seluruh penggemarnya. "Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua penggemar dan warga Spanyol," kata Alonso usai mengunci gelar di Sirkuit Interlagos, Sao Paulo, Minggu lalu. "Hari ini adalah hari penting bagi saya, keluarga saya, dan teman-teman dekat saya," tambahnya. Sayang, warga Spanyol baru bisa melihat sosok Alonso begitu musim balap 2005 berakhir, Oktober mendatang. Dari Brazil, dia tak akan pulang, melanjutkan perjalanan ke Jepang dan China, mengikuti dua seri terakhir di sana. Alonso memang termasuk orang yang sangat menjaga privasi. Untuk menghindari penggemar fanatis di Spanyol, dia memilih tinggal di Oxford, Inggris. Dia juga tak ingin kepulangannya nanti disalahgunakan. "Saya tak mau kembali ke Spanyol sekarang. Karena di sana terlalu banyak kepentingan politis yang ingin diikutkan," ujarnya. Usai Grand Prix Brazil, Alonso memang menerima banyak sekali ucapan selamat. Kabarnya, pada satu jam pertama usai finis lomba, ada 300 telepon yang dia terima. Termasuk ucapan selamat dari Raja Spanyol. Sangat mungkin, warga Spanyol baru bisa melihat langsung Alonso pada 21 Oktober. Saat itu, dia dijadwalkan menerima penghargaan tertinggi atlet Spanyol, Principe de Asturias. Rencananya, penghargaan tersebut diberikan di Oviedo. Alonso mengunci gelar setelah finis di urutan ketiga di Brazil, di belakang pasangan McLaren-Mercedes Juan Pablo Montoya dan Kimi Raikkonen. Pembalap 24 tahun itu tercatat sebagai juara dunia termuda Formula 1, memecahkan rekor Emerson Fittipaldi, yang menjadi champion saat berusia 25 tahun bersama Lotus, 1972. (rtr/aza) ------------------- Selasa, 27 Sept 2005, Alonso; Momen-Momen Akhir Menuju Juara Dunia Mobil "Bunyi" Jelang Finis Formula 1 punya juara baru, termuda dalam sejarah. Fernando Alonso mengunci gelar itu di Grand Prix Brazil, setelah finis di posisi ketiga. Bagaimana perasaannya ketika lomba, menjelang finis? Apa yang ada di benaknya sekarang? Ulasan Azrul Ananda Semua yang mengikuti Formula 1 tahu, hanya bencana besar bisa menghadang laju Fernando Alonso tahun ini. Gelar dunia itu tinggal menunggu waktu. Bisa di Brazil, atau tertunda sampai seri terakhir di China. Dan ternyata, kita tak perlu menunggu lama. McLaren-Mercedes mendominasi GP Brazil, Juan Pablo Montoya dan Kimi Raikkonen finis 1-2. Namun, Alonso membawa mobil Renault-nya finis sesuai kebutuhan, di posisi ketiga. Itu sudah cukup untuk mengunci gelar. Andai Raikkonen yang menang di Brazil, jumlah poinnya tetap tidak cukup untuk menunda pesta Alonso. Bagi pemirsa, perjalanan lomba Alonso di Sirkuit Interlagos tampak lancar-lancar saja. Seolah tidak ada masalah, seolah tidak memaksa. Khas Alonso, dia seolah tampil tenang, dari awal sampai akhir. Tapi ternyata, pembalap 24 tahun itu sempat merasa deg-degan. Khususnya di dua atau tiga lap terakhir. Malam sebelum lomba, Alonso mengaku bahwa dirinya sebenarnya masih sangat tenang. Bahkan, menjelang start pun dia masih bisa rileks. "Tidak ada yang istimewa. Saya tidur seperti biasa, paginya makan, lalu meeting untuk mengatur strategi lomba. Sebelum lomba, saya tidur lagi. Saya sama sekali tidak stres sejak akhir pekan dimulai," papar Alonso usai perlombaan. "Saya tahu masih ada tiga seri tersisa, dan saya hanya butuh finis di urutan tujuh tiga kali. Jadi saya tidak stres," tegasnya. Dalam lomba pun, Alonso memulai dan menjalaninya seperti biasa. Tetap tampil secepat mungkin, tanpa memberi beban ekstra kepada mobil. Dia terus mengawasi laju Ferrari yang dikendarai Michael Schumacher, karena mobil merah itulah yang bisa mengalahkannya naik podium, menunda pesta perayaan gelar dunia. Di luar itu, Alonso mengaku hanya lebih hati-hati saat meng-overlap mobil lain. Khususnya Minardi dan Jordan. Dia tak ingin mengalami nasib sama seperti Juan Pablo Montoya, yang ditabrak saat menyalip Tiago Monteiro di Turki dan Antonio Pizzonia di Belgia. "Apa saja bisa terjadi dalam lomba, dan setiap lap adalah momen-momen berisiko bagi saya. Dan 71 lap adalah lomba yang sangat panjang," tuturnya. Apalagi, lanjut Alonso, mobilnya tidak sempurna. "Secara keseluruhan, keseimbangan mobil kami agak bermasalah. Kalau ditambah (downforce) di depan, mobil jadi oversteering. Kalau diperbaiki di belakang, malah understeer. Mobil kami tak pernah sempurna," ungkapnya. Momen-momen paling menegangkan dirasakan Alonso menjelang finis. Dia mulai merasakan hal-hal yang sebelumnya tak terasa, saat mengantisipasikan finis dan gelar. "Dalam dua atau tiga lap terakhir, saya mulai mendengar bunyi-bunyian dari mobil. Saya jadi khawatir terhadap kemungkinan masalah pada mobil. Baru ketika itu saya stres," paparnya. "Saya baru merasa lega ketika melintasi garis finis," tambahnya. Begitu melintasi garis finis, Alonso mengaku berteriak dengan "volume maksimal" lewat radio, kepada para mekanik. Dia mengucapkan terima kasih dan kelegaan atas hasil tersebut. Di atas podium, Alonso pun merayakan gelar dengan gaya Spanyol, khususnya gaya Asturias, kawasan di utara negeri matador, tempat Alonso berasal. Dia mengangkat botol sampanye tinggi-tinggi, lalu menuangkan isinya ke dalam trofi dari atas kepala. Baru kemudian meminumnya. "Di tempat asal saya, Anda harus menuangkan minuman ke dalam gelas dari udara," ucapnya. Alonso mendedikasikan gelar ini hanya kepada keluarga dan orang-orang yang benar-benar dekat dengannya. Tanpa menyebutkan nama, Alonso bilang jumlahnya hanya tiga atau empat orang. "Saya datang dari negara yang tidak punya tradisi F1. Pada dasarnya saya berjuang sendirian, nyaris tanpa bantuan sepanjang karir. Saya hanya dibantu oleh tiga atau empat orang, tidak lebih dari itu," paparnya. Nah, setelah menjadi juara dunia termuda dalam sejarah, apa yang dikejar Alonso sekarang? Dia bilang, gelar ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Alonso terus terang mengaku bingung, sekarang mau apa. "jadi juara dunia F1 adalah impian semua pembalap. Tapi saya masih berumur 24 tahun, dan setelah ini tak banyak hal yang lebih tinggi. Saya adalah juara dunia termuda, dan sekarang saya harus menemukan target baru," katanya. Bagaimana dengan gelar tahun depan? Alonso tak mau terlalu memusingkannya dulu. Sebab, tahun depan nasibnya bisa berubah. "Tahun ini adalah tahun saya, nyaris tanpa masalah. Keberuntungan selalu bersama saya, seluruh anggota tim juga selalu mendukung. Di lomba selanjutnya, atau tahun depan, situasi mungkin bisa berbeda," ujarnya. (*) ---------- Selasa, 27 Sept 2005, Sempat Depresi Bersama Minardi Sejak kecil, Fernando Alonso sudah menunjukkan "keajaiban" di atas kendaraan empat roda. Namun karir pembalap kelahiran 29 Juli 1981 itu sebenarnya dimulai secara tidak sengaja. Ayah Alonso adalah seorang pakar bahan peledak di industri pertambangan di Asturias, utara Spanyol. Ibunya bekerja di sebuah department store. Mulanya, sang ayah membuatkan go-kart bukan untuk Alonso, melainkan untuk kakak perempuannya. Eh, ternyata sang kakak menolak. Di usia tiga tahun, Alonso pun memulai petualangannya di ajang adu kebut. Di usia 13 tahun, dia pun menjadi juara go-kart Spanyol. Dari situ, karir Alonso meroket. Tahu-tahu dia jadi juara dunai go-kart junior. Pada tahun 2000, saat berlaga di ajang F3000 Internasional, dia ikut didapuk jadi test driver Minardi. Usianya waktu itu masih 18 tahun. Debut Fernando Alonso di Formula 1 terjadi di GP Australia 2001. Di lomba yang sama, Kimi Raikkonen dan Juan Pablo Montoya mengawali karir mereka di ajang paling bergengsi ini. Bedanya, waktu itu perhatian untuk Alonso sedikit, karena dia ada di belakang. Flavio Briatore, manajer Alonso yang juga manajer Renault, memang sengaja menempatkan pembalapnya itu di tim kecil. Supaya dia bisa belajar tanpa banyak beban perhatian. Walau berguna, masa-masa di Minardi itu ternyata sempat membuat Alonso depresi. "Awal karir saya sedikit depresi. Sebelum masuk F1, saya terbiasa menang di mana-mana. Di Minardi, saya selalu berada di posisi buncit," ungkapnya, usai mengunci gelar di Brazil Minggu lalu. Alonso sempat lebih pusing lagi saat harus "istirahat" di musim 2002. Briatore menariknya keluar dari Minardi, namun tak punya kursi lomba di Renault (ada Jenson Button dan Jarno Trulli). Jadilah Alonso test driver selama setahun. Baru pada 2003, peluang emas itu tiba. Alonso langsung menggebrak, menjadi pemenang dan peraih pole position termuda dalam sejarah. Dan sekarang, dia jadi juara dunia pertama asal Spanyol, termuda dalam sejarah. "Sejak 2003 sampai sekarang, saya terus mengembangkan kemampuan," katanya. Patrick Faure, presiden Renault F1, mengaku bangga bisa memberi peluang kepada Alonso. Dia lebih bangga lagi, karena Alonso memberi Renault gelar dunia pertama sebagai konstruktor murni, bukan sekadar supplier mesin. "Bocah itu (Alonso, Red) terus membuat saya takjub. Ketika Flavio Briatore menyebut namanya kepada saya untuk kali pertama, empat atau lima tahun lalu, dia menyebutkan beberapa kualitas istimewa. Yaitu agresivitas dan konsistensi. Ketika di Renault, Fernando langsung menunjukkan itu. Dan tahun ini, dia menambahkan lagi senjata hebat. Dia menunjukkan bahwa dia juga jago strategi dan dewasa," papar Faure. Faure yakin, kemampuan Alonso masih bisa bertambah. "Dia masih 24 tahun. Kita sedang menyaksikan tumbuhnya seseorang dengan bakat istimewa," tegasnya. (aza) --------- Selasa, 27 Sept 2005, Nothing To Lose demi Gelar Konstruktor Fernando Alonso dan Renault boleh berpesta usai Grand Prix Brazil, merayakan gelar dunia pembalap. Tapi, mereka tak bisa berpesta lama. Sebab, klasemen konstruktor kini dipimpin McLaren-Mercedes, dengan hanya dua seri tersisa. Dan tampaknya, kita bakal menyaksikan pertarungan luar biasa, karena kedua tim berjanji tampil habis-habisan. Ingat, pertarungan ini tak hanya antara dua pembalap, melainkan tim secara keseluruhan. Dua lawan dua di lintasan, plus ratusan lawan ratusan (anggota tim) di belakang layar. Dengan finis 1-2 di Sirkuit Interlagos, McLaren kini hanya unggul 2 poin, 164-162. Namun tim itu sudah bisa merasakan nikmatnya meraih gelar konstruktor. Mereka merasa punya mobil terbaik, dan punya semangat ekstra setelah kehilangan gelar pembalap. Usai GP Brazil, Kimi Raikkonen dan Ron Dennis langsung melontarkan tantangan itu kepada Alonso dan Renault. "Sekarang dia (Alonso, Red) harus tampil lebih baik lagi. Dia akan kesulitan mengalahkan kami di seri-seri yang tersisa," kata Dennis, bos McLaren. Juara di Brazil, Juan Pablo Montoya pun tak sabar segera balapan di Jepang dan China. "Saya kira kami layak menjadi juara konstruktor," ucap pembalap Kolombia tersebut. Renault mengaku siap menghadapi tantangan McLaren. Alonso juga siap tampil all-out, karena kini tak lagi terbebani perebutan gelar pembalap. "Kami membuat beberapa keputusan konservatif dalam beberapa lomba terakhir. Sekarang, kami bisa tampil nothing to lose sampai akhir musim," ucapnya. Alonso -dan rekan setimnya Giancarlo Fisichella-mengakui bahwa mobil McLaren lebih baik. Namun itu bukan alasan untuk melepas gelar begitu saja. Toh, Renault masih punya satu keunggulan atas McLaren, yaitu ketahanan yang lebih prima. "Kalau Fisi dan saya bisa selalu finis bersama, kami bisa bertarung sampai akhir. Mungkin saja salah satu mobil McLaren gagal finis," ujar Alonso. Hal yang sama ditegaskan Pat Symonds, bos teknis Renault. Dia juga berjanji menyediakan mobil yang lebih baik untuk Alonso dan Fisichella. "Sekarang kami 100 persen fokus ke gelar konstruktor. Tim kami terus bekerja keras mengembangkan mobil, membuatnya lebih cepat lagi," pungkasnya. (aza) Hasil Grand Prix Brazil 1. Juan Pablo Montoya, McLaren-Mercedes 2. Kimi Raikkonen, McLaren-Mercedes 3. Fernando Alonso, Renault 4. Michael Schumacher, Ferrari 5. Giancarlo Fisichella, Renault 6. Rubens Barrichello, Ferrari 7. Jenson Button, BAR-Honda 8. Ralf Schumacher, Toyota Klasemen Pembalap (Setelah 17 dari 19 lomba) 1. Fernando Alonso 117 poin* 2. Kimi Raikkonen 94 3. Juan Pablo Montoya 60 4. Michael Schumacher 60 5. Giancarlo Fisichella 45 6. Jarno Trulli 43 7. Ralf Schumacher 38 8. Rubens Barrichello 38 9. Jenson Button 32 10. Mark Webber 29 * Kunci gelar dunia 2005 Klasemen Konstruktor 1. McLaren-Mercedes 164 poin 2. Renault 162 3. Ferrari 98 4. Toyota 81 5. Williams-BMW 59 6. BAR-Honda 33 7. Red Bull-Cosworth 27 8. Sauber-Petronas 17 9. Jordan-Toyota 12 10. Minardi-Cosworth 7 -------------- Selasa, 27 Sept 2005, Congratulation, Alonso! Kimi Raikkonen: Awas Tahun Depan! Selamat kepada Fernando. Tapi awas, dia harus bersiap menghadapi saya dan McLaren di sisa musim ini dan tahun depan. Tentu saja saya kecewa perjuangan saya di gelar pembalap sudah berakhir, namun sebenarnya kami sudah sadar peluang kami kecil. Sekarang saya akan fokus memenangkan gelar konstruktor untuk tim, tampil maksimal di dua seri terakhir. Michael Schumacher: Saya Tidak Sedih Selamat kepada Fernando dan orang-orang di sekitarnya. Mereka telah bekerja dengan sangat baik. Saya tidak sedih kehilangan gelar dunia, setelah (memenanginya) begitu lama. Saya lebih suka memikirkan tahun depan, mencoba merebutnya kembali. Semoga saya bisa melakukannya. (Schumi juga mengaku senang melihat para mekanik Renault, yang pada 1994-1995 dulu membantunya meraih gelar bersama Benetton). Saya merasa tersentuh melihat mereka begitu bahagia, karena mereka harus menunggu sepuluh tahun sebelum merasakan lagi gelar dunia. Paul Stoddart (Bos Minardi): Dari Dulu Sudah Juara Fernando Alonso adalah juara dunia pertama dari Minardi. Dia akan menjadi seorang juara hebat, menjadi duta istimewa bagi Formula 1. Seperti banyak pembalap lain, Fernando mengawali karirnya di Minardi. Bahkan di awal karirnya tersebut, bakat dan kemampuannya sudah terlihat. Dengan tim dan mobil yang tepat, kami tahu (gelar) ini pasti terjadi. -- Best Regards Tombo Ati +------------------------------------------+ "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain" +------------------------------------------+ ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/2_TolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY. ========================================================== Milis Tabloid BOLA Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED] ========================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/bolaml/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
