Nenek-nenek pun Masih Gemar Taekwondo
SEOUL - Usia tua bukan alasan untuk menjadikan orang lemah dan rapuh.
Buktinya, nenek-nenek di Korea Selatan sedang keranjingan olahraga
bela diri taekwondo. Secara rutin, mereka berlatih melakukan
tendangan tinggi dan memukul.
Salah seorang nenek tangguh itu adalah Ji Bok-hyun yang berusia 74
tahun. Nenek yang memiliki lima cucu itu biasa berlatih taekwondo di
sebuah gimnasium Inchon, sekitar satu jam perjalanan ke barat Seoul.
Di gimnasium itu, ada 23 nenek berusia rata-rata 70-an tahun yang
berlatih olahraga bela diri tradisional Korea tersebut.
Selama ini, taekwondo memang diajarkan di sekolah-sekolah Korsel.
Bahkan, sebagian besar pemuda di negara itu berlatih bela diri itu
sebagai bagian dari wajib militer.
Namun bagi para nenek itu, taekwondo adalah cara untuk mempertahankan
kesehatan mereka. Selain itu, taekwondo membuat mereka gembira.
''Pukul! Saya benar-benar memukul papan itu. Latihan ini
menghilangkan stres,'' kata Ji, yang telah berlatih taekwondo selama
sembilan tahun terakhir.
Sabuk Hitam
Dia saat ini merupakan pemakai sabuk hitam (peringkat tertinggi) dan
dipercaya untuk memimpin latihan. Sepuluh nenek di tempat itu telah
mencapai sabuk hitam.
Umumnya, para atlet taekwondo ingin memecahkan kepingan ubin atau
bilah papan dengan kaki, tangan, atau kepala mereka. Namun para
taekwondoin lanjut usia ini memecahkan bilah-bilah plastik yang telah
dibuat retak lebih dulu.
Tidak ada pertarungan satu lawan satu di antara nenek-nenek itu.
Kendati demikian, mereka mengatakan siap menghadapi siapa pun yang
menyerang mereka.
Latihan taekwondo memang menjadi rekreasi bagi mereka. Saat berlatih
melakukan tendangan tinggi, Cho Jong-jae (74) berteriak meniru suara
Bruce Lee. Kawan-kawannya tertawa mendengar teriakan itu.
''Saya tidak pernah sakit sejak saya berlatih di sini tiga tahun
lalu. Ini sangat menyenangkan. Jika tidak senang, saya tentu tidak
akan mau berlatih,'' kata Cho, yang memakai sabuk merah.
Kim Hee-bok (77) merupakan anggota tertua dalam kelompok itu. Dia
sedang memusatkan perhatian untuk melakukan kayang dan merentangkan
kedua kakinya. Sebelum bergabung dengan gimnasium itu, dia sulit
melakukan gerakan sederhana lantaran dia mengidap diabetes dan radang
sendi selama bertahun-tahun.
''Saya dulu tidak bisa naik lima anak tangga di rumah. Kini saya bisa
naik turun lebih dari 50-60 anak tangga,'' kata dia.
''Berlatih di sini jauh lebih baik ketimbang berobat di rumah sakit.
Bahkan dokter saya akhirnya ikut latihan setiap hari,'' ujarnya.(rtr-
ben-25)
HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.
==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL
PROTECTED]
==========================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bolaml/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/