Round 4 - 23/04/2006 SAN MARINO, IMOLA
Circuit length: 4,933 km
Race distance: 62 laps (305,609 km)
Qualifying: 19.00 WIB --- live Global/Star Sports
Start: 19.00 WIB --- live Global/Star Sports

Back with sorry...karena absen di pre- dan post-Melbourne lantaran tugas ke Shanghai dan other office stuffs.

Gap tiga minggu disyukuri oleh tim-tim. Paling tidak mereka yang selama ini merasa tertinggal, bisa melakukan tes intensif untuk mengejarnya pakai kereta super-ekspress. Melihat hasil tes terakhir di Catalunya, saya bisa mengerucutkan lagi kemungkinan peta persaingan menjadi Renault-McLaren-Ferrari di atas, lalu Honda sedikit di bawah, kemudian Williams-Toyota menyusul. Selain Renault dan Alonso yang sudah mantap di singgasana sementara, pihak-pihak lain banyak yang menganggap lomba di Imola adalah puber kedua mereka. Mereka ingin menjadi Imola sebagai acuan untuk mencari cinta baru, yaitu cinta memburu poin-poin penting untuk berburu titel dunia.

San Marino adalah balapan pertama di Eropa. Karena itu motorhome baru akan terlihat, terutama bagi tim baru muncul atau berganti nama seperti Toro Rosso, Midland, Super Aguri, dan jangan lupa BMW-Sauber. Cuaca diprediksi mendung cenderung hujan. Tapi bisa jadi saat lomba malah kering. Hanya, di salah satu sesi sejak Jumat kayaknya akan diganggu oleh trek basah.

IMOLA
Setelah banyak sekali perubahan signifikan, akhirnya saya tidak menampilkan data-data sirkuit yang biasa dipakai untuk mesin V10. Saya pikir data itu menjadi tidak relevan lagi untuk mesin V8 sekarang ini. Imola adalah sirkuit pertama dari rangkaian tiga-I yang semuanya anticlockwise, Imola, Istanbul, dan Interlagos. Tapi sesungguhnya bukan anticlockwise ini yang menjadi masalah besar setiap kali menyebut Imola.
Kerb dan braking, ini sumber petaka. Kerb yang tinggi tak bisa dihindari para pembalap mengingat layout Imola yang membuat kerb-kerb itu harus dilibas sebagai bagian dari racing line. Hantaman kerb ini pasti akan mengganggu kestabilan mobil bila menghantam bagian apa pun. Tapi, karena semua tim sudah punya pengalaman segudang tampil di sini, ya mereka juga sudah punya senjata untuk menangkalnya. Senjata itu yang paling sering terungkap adalah mencari kompromi antara suspensi yang halus untuk meredam getaran saat melibas kerb, dan suspensi yang kokoh karena mobil mesti stabil saat melaju kencang di chicane.
Soal rem, karena trek ini stop-go, atau ngebut sebentar lalu ngerem terus ngebut sebentar dan ngerem lagi, maka mau tidak mau juga mesti punya pendingin yang baik. Bersama Montreal di Kanada, Imola adalah dua trek terkejam untuk urusan rem.
Karena berliku dan nyaris tak ada real long straight, Imola pun dengan mudah masuk kategori high-downforce track. Sayap-sayap tambahan dipastikan akan muncul. Tahun lalu, Renault memperkenalkan "jemuran" di kanan-kiri ujung sayap depan. Karena Renault adalah tim jawara, sampai sekarang jemuran itu ditiru oleh banyak tim lain. Tambahan sayap ini akan membuat pembalap pede melaju kencang di tikungan. Mereka tak akan takut melintir, karena downforce sudah tinggi sebagai dampak sayap tambahan yang memang dibutuhkan itu. Tapi, seperti layaknya sirkuit high-downforce yang biasa terkenal sebagai tempat sulit untuk menyusul, di Imola juga begitu. Posisi start dan taktik lomba akan menentukan hasil akhir. Makanya, jangan heran bila ada pembalap yang pakai 3-stop tahun ini.
Walau aspal tergolong mulus dan grip bagus, tapi Imola terkenal tidak kejam terhadap ban. Mungkin karena fakta inilah bakal banyak pembalap yang menggunakan ban soft, karena selain cepat toh ban itu akan terlalu cepat aus sehingga mereka bisa fleksibel mengatur taktik lomba.

VIBRASI MESIN V8
Gak usah di Imola, di trek lain pun mesin V8 masih dianggap terlalu banyak menghasilkan vibrasi. Getaran itu dipastikan akan lebih terasa di Imola yang memang tak kenal kompromi. Karena itu, pembalap yang datang ke Imola dengan kondisi menggunakan mesin bekas akibat sudah dipakai di seri sebelumnya kemungkinan besar akan "pelit" keluar hari Jumat. Mendingan menunggu input dari pembalap setim (kalau rekannya itu pakai mesin baru). Selain masalah getaran, over-revving juga bisa bermasalah terutama ketika mobil melintas kerb tinggi dan ban yang bergerak tidak menempel di aspal.

TYRE WAR
Michelin (Renault, McLaren, Honda, Red Bull, BMW, Toro Rosso)
Bridgestone (Ferrari, Toyota, Williams, Midland, Super Aguri)
Bagi Michelin, pukulan telak mereka tahun 2005 bukan cuma di Indianapolis, tapi juga Imola. Benar waktu itu Alonso menang, tapi itu murni karena karakter Imola yang sulit buat menyusul dan kehebatan Alonso sendiri dalam mendikte serangan Schumi di 10 lap terakhir lomba. Faktor Michelin sama sekali tidak diperhitungkan sebagai penentu kemenangan Alonso saat itu di Imola. Berangkat dari "kegagalan" itulah Michelin juga memanfaatkan jatah tes dua minggu untuk mengoptimalkan paket mereka. Bahkan, mereka juga sudah siap bila ternyata Imola bakal diganggu oleh hujan. Salah satu yang menjadi perhatian Michelin adalah ban yang mesti tahan direm mendadak, lalu digeber kencang. Itu memang karakter Imola yang stop-and-go.
Bridgestone datang ke Imola dengan kepercayaan diri tinggi. Selain "sukses" tahun lalu, mereka juga lega karena akhirnya Ferrari percaya dengan ban "suhu dingin" yang selama ini dianggap momok. Di Melbourne, Bridgestone memang dikritik gagal memberikan ban yang cepat panas terutama ketika safety car ada di trek di mana temperatur ban yang sudah panas harus dingin lagi. Kini Ferrari dan Bridgestone sudah menyatu untuk itu dan mereka yakin ban terbaru mereka yang berkarakter medium-to-soft itu bakal menghasilkan sesuatu yang spesial di Imola. Ban jenis ini pula yang amat diharapkan mengangkat performa tim-tim pemakai Bridgestone lain selain Ferrari.

TEAM BY TEAM
RENAULT
1 Alonso
2 Fisichella
Alonso cuma mau jadi runner-up? Apa gara-gara ia gak dapat mesin baru, karena mesin di Aussie yang mesti terus dipakainya? Bukan itu. Alonso gak jealous sama Fisichella yang dapat mesin baru. Dia cuma berpikir logis bahwa berbekal tes rame-rame di Catalunya pekan lalu, Ferrari bakal menjadi tim paling kelihatan ngotot untuk menang dengan semua kekuatan terbaru mereka. Plus McLaren pun gak bisa dianggap enteng lagi. Makanya, membawa pulang poin sebanyak mungkin dari Imola adalah target utama Alonso dan itu gak mesti harus 10 poin. Lagi pula, poin Alonso sekarang dua kali lipat dari rival terdekat yang juga teman setimnya sendiri. Fisichella yakin banget dengan mesin baru Renault, yang ia percaya bakal membawanya meraih podium tertinggi. Ini memang balapan rumahnya, tapi Fisichella mesti menghilangkan dulu mitos ia kalah cepat dari Alonso. Kalau itu sudah bisa diatasinya, apalagi secara konsisten, dia baru bisa meraih hasil maksimal.

McLAREN
3 Kimi
4 JPM
Apa jadinya Imola 2005 bila Kimi gak out terlalu dini? Mungkin Imola 2006 jawabannya. Kalau Kimi tidak membuat kesalahan sepele seperti di Melbourne, di mana dia memaksa duel yang semestinya bisa dihindari dengan Montoya, plus dia juga memaksa menyusul Button sampai akhirnya membuat bannya flat-spot sehingga tak stabil lagi setelah itu, Imola 2006 bakal jadi good race buat dia. Masalahnya, Imola lewat layout-nya juga mengundang pembalap untuk berbuat kesalahan. Kimi mesti menolak
undangan itu.
JPM amat menyukai karakter Imola, yang menurutnya tak ada satu pun long straight untuk memaksimalkan power mobil. Bila asumsi Ron Dennis benar bahwa JPM sudah bekerja amat keras untuk sukses musim ini terbukti, berarti Imola akan membuka jalan bagus buat JPM.

FERRARI
5 Schumi
6 Massa
Schumi sudah "minta maaf" dulu pada mendiang Senna, karena mungkin dia akan memecahkan rekor 65 kali pole position yang sekarang mereka pegang bersama, di sirkuit di mana almarhum merintis "jalan kematiannya". Schumi pun amat yakin dengan pengembangan terbaru paket Ferrari yang ditesnya di Vallelunga dan Catalunya. Dengan pola mantap, di Vallelunga ia menguji ban baru Bridgestone dan di Catalunya menjajal paket aero, dia yakin bisa mewujudkan kemenangan pertama musim ini, dan dimulai dengan pole dulu. Feeling saya, Schumi akan mengisi sedikit bahan bakar untuk dapat pole. Setelah itu, ini juga feeling, dia berlomba pakai 3-stop. Kalaupun dua, stint-nya adalah pendek-panjang-pendek.
Menurut Ross Brawn, kalau selama ini Ferrari kelihatan melempem, itu karena putaran mesin mereka memang dikurangi 400 rpm akibat main safe karena piston masih bermasalah. Sekarang masalah itu mereka yakini sudah teratasi dan mereka siap untuk bermain di level sesungguhnya lagi.
Gak ada angin gak ada hujan, Felipe Massa tiba-tiba under pressure. Bukan melulu gara-gara performa di atas treknya jeblok, tapi semata silly season. Schumi bertahan, Schumi ke Renault, Schumi ke Red Bull, Kimi ke Ferrari, Rossi ke Ferrari, semua saling terkait tanpa menyebutkan secuil pun nama Massa akan bertahan musim depan. Kalau dia bisa mengambil sisi positif yang berkembang selama tiga minggu terakhir ini, Massa akan menjadi hantu kecil yang menakutkan di Imola.

One last shot. Mungkin banyak yang gak ngeh kalau Schumi masuk pit Toyota pasca-tabrakan di Melbourne itu semata-mata demi safety. Dia sadar pasti gak lama setelah itu akan banyak pembalap melakukan pit stop. Kalau dia tak mempercepat langkah masuk ke garasi, walau itu garasi orang, pasti dia sudah ada di kerumunan pit stop tim-tim lawan. Makanya dia masuk garasi (orang) secepat mungkin agar tak mengganggu semua pit stop pembalap lain. Terbukti hanya dalam hitungan detik (yang kalau Schumi meneruskan langkahnya di pit lane menuju garasi Ferrari walau sudah dekat, pasti mengganggu) gerombolan pit stop menyerbu pit lane.

TOYOTA
7 Ralf
8 Trulli
Balapan pertama tanpa Mike Gascoyne. Bisa apa Toyota? Semestinya tetap bisa mendapatkan poin. Simpang siur kenapa Gascoyne dipecat. Resminya adalah tak ada kesamaan pandangan soal masa depan Toyota. Tapi yang paling santer ada dua, soal peralihan ke Bridgestone dan domisili Gascoyne yang tak mau beranjak dari Inggris. Tapi sudahlah, gak perlu diperpanjang. Toyota can survive without Gascoyne.
Uniknya, podium pertama mereka di Melbourne disinyalir justru dibantu oleh performa Bridgestone yang kini bakal jadi benchmark. Ralf, si peraih podium itu, sayangnya meyakini bahwa sampai saat ini Imola bukan good track buat Toyota. Karakter kejam yang selama ini kondang buat Imola akan kembali menyulitkan dia dan Trulli. Trulli sendiri merasa senang balapan berikut setelah balapan sulitnya di Australia adalah di kandangnya sendiri. Di Aussie dia memang sakit, bahkan mesti tinggal beberapa hari di RS. Kini ia sudah sembuh.

WILLIAMS
9 Webber
10 Rosberg
Sebelum lomba, Webber bakal menerima Trofeo Lorenzo Bandini dulu untuk performanya sepanjang 2005. Trofi itu memang dibagikan kepada pembalap yang tampil kompetitif, walau tak mesti jadi juara dunia atau bahkan juara seri sekalipun. Berbekal fisik yang prima, Webber menanti tantangan Imola yang memang selalu menghantam fisik pembalap. Rosberg punya pengalaman saat tampil di GP2 musim lalu, kebetulan saat itu ia memakai ban Bridgestone juga seperti Williams kini. Kalau masalah ban dan reliability sudah teratasi, Williams akan jadi ancaman serius Honda dan Toyota. Untuk menantang Renault, mungkin itu jatah Ferrari dan McLaren dulu. Tapi, sekedar mengejutkan lagi di kualifikasi bisa saja dilakukan oleh Webber atau Rosberg.

HONDA
11 Rubens
12 Button
Semoga tak ada karma, karena niat Honda menyuruh Button "meledakkan" mesinnya di Melbourne adalah logis. Mereka tak mau kejadian Felipe Massa dan David Coulthard di Bahrain terjadi, di mana mesin rusak setelah si pembalap menyelesaikan lomba. Honda tak mau Button mundur 10 posisi di Imola, gara-gara ia finis walau dapat poin lumayan di Melbourne. Memang, kalau Button finis di Melbourne, dipastikan dia pakai mesin yang sama di Imola dan mesin itu sudah rusak. Pastinya dalam proses di Imola mesin itu akan diganti dan Button mundur 10 grid. Sekarang dia aman, dan berbekal pole Imola 2004 dan pole Melbourne 2006, ia mungkin dapat pole lagi. Tapi, seperti yang sudah-sudah, belum tentu juga itu bakal menghasilkan kemenangan pertamanya di F-1.
Apa masalah Rubens? Adaptasi, itu yang paling gampang. Tapi, seperti di awal-awal balapannya bersama Ferrari, Rubens juga kerap dirundung masalah bila mesti mengerem pakai kaki kiri. Dia memang jago kalau pakai kaki kanan. Mengerem di F-1 bukan barang sepele, karena hasilnya adalah keseimbangan mobil. Kalau pembalap gak pe-de dengan cara dia mengerem, otomatis mobilnya pun kerap tak seimbang. Ketika di Ferrari Rubens mendapat hasil bagus setelah dia pakai rem kaki kanan, di Honda dia mesti menunggu. Lamanya, kalau kata lagu, ya 2-3 bulan purnama gitulah.

RED BULL
14 DC
15 Klien
Mestinya akan merasakan dampak dari performa mesin Ferrari juga, karena masalah piston, katanya, sudah selesai. Tapi di seri mana pun di Eropa, Red Bull selalu jadi bintang karena motorhome dan hospitality mereka yang memang selalu mengundang selera. Tahun lalu DC beaten by Liuzzi di sini, jadi ini tantangan bagi Klien kalau sesungguhnya dia bisa juga melakukan apa yang Liuzzi lakukan.

BMW-SAUBER
16 Heidfeld
17 Villeneuve
Membawa momentum hasil bagus di Aussie di mana Nick finis 4 dan Jacques 6. Sebenarnya BMW konsisten bisa mencapai itu bila engine problem tak kerap menghantui mereka, seperti saat Nick yang sudah ada di posisi 4 harus rela mundur dari lomba karena mobilnya berasap tebal. Di Imola kendala terbesar mereka, bisa jadi, adalah kedua pembalap menggunakan mesin yang sama dengan di Aussie. Dengan tuntutan besar mesin mesti reliable terutama akibat getaran yang dihasilkan dari kerb Imola yang kejam, jangan-jangan potensi Nick dan Jacques tak terdelivery dengan baik karena mileage mesin BMW mereka yang sudah pada batas ambang. Tapi, mudah-mudahan itu tidak terjadi, karena lomba akan semakin seru kalau BMW terus dapat poin.

MF1
18 Monteiro
19 Albers
Malah sibuk dengan rencana penjualan tim akibat Alex Shnaider gak lagi kuat menanggung hidup di F-1. Bos Midland Group ini akan senang bila ada sekoper uang yang dibawa seseorang, dengan syarat uang itu lebih banyak dari yang diinvestasikannya untuk membeli Jordan dulu. Setelah Adrian Burgess, sporting director, pergi, kini giliran managing director Collin Kolles yang bakal cabut. Masalah Midland memang lebih ke nonteknis sebelum berangkat ke Imola.

TORO ROSSO
20 Liuzzi
21 Speed
Speed masih penasaran dengan poinnya yang hilang di Aussie gara-gara tambahan 25 detik akibat menyusul DC saat bendera kuning dikibarkan. Mestinya, itu adalah poin pertama Toro Rosso musim ini. Liuzzi juga pasti terpacu dengan hasil Speed di Aussie, karena sepanjang 2006 finis terbaiknya baru ke-11.

SUPER AGURI
22 Takuma-san
23 Yuji-san
Setelah menyelesaikan tugas pertama sebagai pembalap F-1, finis lomba, Yuji Ide mau mengulanginya lagi di Imola, sirkuit baru baginya. Sayang bagi Ide, ia gak bisa menguji lebih banyak saat tes di Catalunya karena mobil yang tersedia tak reliable. Karena itu sebagian besar waktunya di Imola akan ia habiskan berdiskusi dengan Takuma-san yang jauh lebih hafal Imola.

from many sources,
arief k.

[Non-text portions of this message have been removed]






HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED]
==========================================================




SPONSORED LINKS
Sports fund raising Sports psychology degree Sport psychology college
Sport psychology course Sport nutrition Sport fishing


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke