Payback time. Saya gak hobi nonton film, tapi kayaknya ada film judul Payback ya... Film di bioskop paling banter berdurasi 2 jam, tapi di F-1 film payback durasinya lama banget, setahun!

Kisahnya pun tak kalah menarik dari film "bayar lunas" di HBO. Dua pembalap F-1 terbaik saat ini, Michael Schumacher dan Fernando Alonso, menghibur dunia lewat suguhan drama balas dendam yang mengasyikkan.

Musim lalu di Imola, Alonso merintis jalan menjadi juara dunia dengan manis. Salah satu di antaranya adalah "mendikte" Schumi di trek yang sempit dan memang mustahil dipakai untuk menyusul. Berulangkali Schumi mencari jalan, walau mobilnya 2 detik lebih cepat, tapi berulangkali pula ia gagal. Schumi melakukannya sejak lap 50, tapi tetap gagal hingga finis di lap 62.

Musim ini, di trek yang sama, gantian. Giliran Schumi yang mendikte Alonso. Kondisinya kira-kira mirip. Schumi yang cepat di awal, tiba-tiba kehilangan sentuhan sehingga Alonso yang tadinya "jauh" kemudian mendekat. Keduanya menempel dalam jarak nol-koma-sekian detik. Bedanya, kali ini Alonso melakukannya lebih lama, dari lap 34 hingga lap 62 dengan "gangguan" sedikit saat dia masuk pit di lap 41.

Mungkin karena lebih lama ada di belakang Schumi itu pula Alonso membuat beberapa kesalahan. Yang saya lihat, dan ini juga dijelaskan oleh Martin Brundle di ITV/Global, adalah di Rivazza. Lalu, yang kedua adalah di Piratella. Ketiga, ini yang akhirnya membuat Alonso pasrah mengejar Schumi, terjadi di Acqua Minerali. Kalau mistake di Rivazza dan Piratella masih membuat Alonso dalam jarak nol-koma-sekian detik, yang terakhir malah menjauh, lebih dari 2 detik. Tak bisa dipastikan apakah kesalahan itu ada faktor tambahan dari pendiktean Schumi, tapi yang pasti Alonso melebar (understeer) di ketiga mistake yang dibuatnya. Tapi, ternyata, dalam pengakuan Alonso dia juga membuat beberapa kesalahan minor lagi di tikungan 5 (chicane Villeneuve) dengan melibas kerb terlalu kencang dan di chicane Variante Alta tampilan baru. Secara jujur dia katakan, setelah mencoba lebih dari 30 lap menyusul tapi gagal, ya wajar kalau lebih baik mengamankan 8 poin. Good boy.

TRICKY FERRARI
Seberapa cepat Ferrari? Ini mungkin menjebak tim selain Renault termasuk saya dalam mengomentari Jelang Balap di Global. Schumi dan Ferrari disangka akan melakukan 3-stop seperti halnya Honda. Ternyata tidak. Schumi masuk pit di lap 20, sedangkan Kimi, JPM, dan Alonso masing-masing di lap 22, 23, dan 25. Sebuah jarak yang tidak terlalu jauh.
Kalau dipakai hitungan 1 lap = 2,7 kg (berdasarkan alokasi bahan bakar yang diberlakukan FIA di Imola pasca-kualifikasi), maka Kimi, JPM, dan Alonso masing-masing hanya kelebihan 5,4 kg, 8,1 kg, dan 13,5 kg bahan bakar dari Schumi. Kalau dipakai rata-rata "penalti" lap time setiap 10 kg adalah 0,35 detik, semestinya lap time Kimi, JPM, dan Alonso dari hasil kualifikasi hanya terpaut 0,18 detik, 0,28, dan 0,47 detik. Nyatanya, Kimi terpaut 1,363 detik, lalu JPM 1,226 detik, dan Alonso 0,907 detik.
Ini memang bukan bilangan eksak yang dapat dipakai karena mungkin saja ada bahan bakar tersisa yang bisa "mengacaukan" hitungan di atas. Tapi, paling tidak, Ferrari berhasil membuat tipuan bagi lawan soal bahan bakar. Berarti pula, kecepatan Schumi saat kualifikasi memang luar biasa, apalagi ternyata Jenson Button yang ada di belakangnya masuk pit 5 lap lebih dulu untuk pitstop. Dengan bahan bakar ringan pun Honda tak bisa mengalahkan Ferrari yang lebih "berat".

TACTICAL ERROR
Tricky Ferrari berlanjut. Mobil Schumi bermasalah selepas pitstop 1, yang sampai e-mail ini posted belum ketahuan apa problemnya. Tadinya dikira ban, di mana Martin Brundle sempat menduga itu dan juga akhirnya terucap oleh saya di Kilas Balap Global. Ternyata Schumi bilang, dia malah pakai satu set ban baru masing-masing pada pitstop 1 dan 2. Itu artinya, masalah graining di ban mobilnya mungkin murni karena konstruksi di sasis 248-F1. Bisa jadi setelan suspensi belakangnya menghabiskan ban terlalu cepat dari perkiraan.
Gara-gara ini, keunggulan dia yang 11 detik selepas pitstop 1 berkurang drastis menjadi nol-koma-sekian detik sampai Alonso nempel sejak lap 34. Karena nempel terus tanpa bisa nyusul, kubu Renault merasa yakin bahwa masalah sebenarnya ada di Ferrari. Benar. Karena itu mereka mengubah taktik Alonso yang tadinya (diperkirakan) masuk pit di lap 47 menjadi di lap 41, atau 6 lap lebih cepat! Risiko yang memang mesti diambil untuk menang atau kalah.
Skenario real di Imola kayak gini:
- MS pit di lap 20, isi bahan bakar untuk 19 lap kemudian
- Alonso pit di lap 25, isi bahan bakar untuk 22 lap kemudian
- MS diprediksi Renault masuk pit di lap 39-40
- MS ternyata melewati lap 39-40 tanpa ada gejala ingin pit lagi
- Tricky Ferrari bab 2
- Renault berbalik menyuruh Alonso pit di lap 41 (dari semestinya 47)
- Renault mungkin berharap MS masuk pit di lap 43-44
- MS masuk pit di lap 42, persis 1 lap setelah Alonso pit
- Alonso belum punya banyak advantage karena bahan bakar masih penuh
- MS keluar pit di depan Alonso
- MS mendikte Alonso sampai finis

Bagaimana bila Alonso masuk pit normal di lap (47)?
- anggap MS masuk pit tetap di lap 42
- Alonso lalu leading dan race pace-nya kembali seperti dari lap 26-34 di mana dia memangkas jarak dgn MS dari 11,2 detik menjadi 0,4 detik
- durasi pit stop rata-rata di Imola sekitar 22-26 detik
- Anggap Alonso punya gap 20-an detik selepas MS pit di lap 42
- Alonso bisa lebih cepat di lap 42-47 dibanding lap 26-34, karena bahan bakar di lap 42-47 menipis sementara 26-34 masih banyak
- Alonso lalu menambah gap dari 20 detik menjadi sekitar 30 detik menjelang pitstop 2 berkat bahan bakar yang menipis dan "clear track"
- Alonso pit di lap 47
- Karena punya gap 30-an detik, Alonso keluar pit di depan MS
- Alonso bukan mendikte MS lagi hingga finis, tapi "meninggalkannya"

Dari sini terlihat tactical error Renault adalah ketika menyuruh Alonso masuk pit di lap 41 atau mendahului Schumi. Mereka seperti tidak pe-de dengan kekuatan paket mereka (plus Alonso) untuk bertahan di trek. Mereka juga mengira kecepatan mobil Alonso pada out-lap setelah pitstop 2 bisa stunning. Tapi Renault lupa, masih ada cukup bahan bakar di mobil Alonso untuk 6 lap lagi plus ditambah bahan bakar saat pitstop. Belum lagi urusan traffic yang harus diterima apa pun risikonya.
Alonso menyayangkan ini, tapi Pat Symonds sebagai master strategi Renault membantahnya. Menurutnya, kalaupun Alonso normal masuk pit di lap (47), dia belum tentu menang karena kecepatan MS kembali datang setelah pitstop 2. Symonds bahkan menambahkan, rencana pitstop 2 Alonso adalah tak jauh beda dari kenyataannya (dari lap 41), maksudnya bukan di lap 47 seperti diperkirakan. MS mengakui selepas pitstop 2 mobilnya "sembuh", tapi dari fakta sesungguhnya di trek, kesembuhan itu tidak 100% atau tidak seperti pada stint 1. Jadi, saya simpulkan Alonso mungkin benar dan Symonds hanya mencari alibi dari kesalahan taktiknya.

Akhirnya, Imola 2006 memang rezekinya Schumi. Dia bikin rekor baru di tempat bersejarah itu dengan 66 poles, dia menang lagi, dia jadi dirigen lagu kebangsaan Italia lagi dari podium, dan tifosi puas.

TYRE WAR
Michelin (Renault, McLaren, Honda, Red Bull, BMW, Toro Rosso)
Bridgestone (Ferrari, Toyota, Williams, Midland, Super Aguri)
Bridgestone lega. Mereka hampir menjadi kambing hitam kegagalan Ferrari lagi kali ini. Pengakuan Schumi pada post-race press conference memupus asumsi bahwa dia struggle gara-gara ban Bridgestone yang cepat aus. Dengan dua pasang ban baru selepas pitstop 1 dan 2, tapi mobil kecepatan bermasalah tidak seperti sejak start, berarti kesalahan ada di mobil.
Tapi, ini tetap ada tapinya. Martin Brundle dengan segudang pengalamannya melihat dari layar kaca bahwa selepas pitstop 2 ban mobil Schumi terlihat bukan baru, karena ada sebagian tapak yang sudah mengelupas. Brundle langsung mengatakan itu "used tyres". Tentu ini kontradiksi dengan pengakuan Schumi. Kalau kita anggap pengamatan mata Brundle benar, terlihat jelas bahwa Schumi amat melindungi Bridgestone atau tepatnya menghargai jerih payah mereka selama ini. Toh yang terpenting adalah, pakai ban baru kek atau ban bekas, pada akhirnya dia tetap dinobatkan sebagai pemenang.

Ini dia pernyataan Schumi:
Q. (Livio Oricchio - O Estado de Sao Paulo), Michael, on your second stint, were they new or old tyres?
MS: New. The second and third stint were new tyres.

Lalu, kita simak komentar Hisao Suganuma, Technical Manager of Bridgestone Motorsport: "We need to keep focused on the job in hand. Our tyres have performed well in the weekend's practice sessions and qualifying and we saw some fast competitive lap times from several of our runners today. Three Bridgestone drivers finished in the top six. However, we learnt a lot from the race today and we need to analyse a couple of areas of our tyre performance to see if we can improve even further. We need to keep pushing and working hard if our teams are to continue to get good results." Berarti memang mungkin saja ada masalah pada ban selama lomba, karena masalah ini tidak tampak saat free prac dan kualifikasi.

Michelin selayaknya senang meninggalkan Imola 2006 tanpa PR. Mereka sudah menjawab semua masalah yang menimpa mereka musim lalu. Ini juga tertolong Imola 2006 yang lebih hangat ketimbang Imola 2005. Kecuali yang dipakai oleh Renault, ban Michelin yang digunakan Honda dan McLaren takkan bisa mengalahkan Schumi-Ferrari yang sudah bermasalah sekalipun. Honda kelihatannya menggunakan soft compound (3-stop), sedangkan McLaren sama dengan Renault, 2-stop. Namun, kalau bandingannya sama-sama 3-stop, Michelin unggul, yaitu Honda vs Toyota. Kondisi ini hanya akan membuat musim 2006 exciting.

TEAM BY TEAM
RENAULT
1 Alonso
2 Fisichella
Alonso done.
Fisichella kian dikukuhkan sebagai 2nd-best di Renault. Sudah pakai mesin baru sekalipun, kecepatannya tak mampu menandingi Alonso sejak free practice. Sudah begitu, dia pun tak "pandai" membaca regulasi kualifikasi, di mana dia mengaku kehabisan waktu pada Sesi 2. Walau begitu saat lomba penampilannya lumayan. Berbekal stint panjang di awal dan pendek-pendek di dua stint berikutnya, dia melompat 3 posisi dan dapat poin 1.

McLAREN
3 Kimi
4 JPM
No pace at all, terutama Kimi. Start buruk membuat posisinya kian sulit karena terjebak oleh traffic. Tapi, kalau memang mobilnya kencang, begitu traffic di depan memisahkan diri dengan masuk pit, mestinya dia tetap bisa memberikan perlawanan. Nyatanya tidak terlalu "greng". Bahkan, kembali ke ulasan di atas, kecepatan dia di kualifikasi tidak sehebat yang diperkirakan.
JPM merasa senang bisa naik podium, mungkin lebih terasa karena tahun lalu dia absen di sini akibat kecelakaan "main tenis". Sama seperti Kimi, sebenarnya mobilnya tak terlalu kencang-kencang amat, hanya karena masalah Button dia bisa dapat podium. Paling tidak, usahanya menahan Massa adalah kunci dia akhirnya "terlihat" juga.

FERRARI
5 Schumi
6 Massa
Schumi done.
Massa kian dekat kalau tahun ini mungkin adalah tahun pertama sekaligus terakhirnya di Ferrari. Dengan bahan bakar setara, dia membuat kesalahan di kualifikasi dan tak mampu menandingi Schumi. Di lomba, dia memanfaatkan betul status sebagai 2nd driver dengan menahan Alonso di stint awal. Tapi kualitas Massa sesungguhnya terlihat setelah pitstop 1, di mana dia gagal menahan Button, lalu JPM, untuk tetap ada di top 3.

TOYOTA
7 Ralf
8 Trulli
Forget Mike Gascoyne. Di kualifikasi untuk kali pertama mereka menempatkan dua pembalap di top 10. Tapi sayang saat lomba, race pace mereka belum tampak. Taktik "mulia" 3-stop mestinya bisa membawa Ralf paling tidak mempertahankan posisi 6 yang didapatnya saat start. Tapi, kelebihan dan kecepatan duet McLaren plus Fisichella menghindarinya dapat poin dan bahkan mundur 3 posisi. Trulli benar-benar apes. Dia kehilangan kendali mobil langsung dari sumbernya: gagang setir.

WILLIAMS
9 Webber
10 Rosberg
Webber nyaris tak terdengar. Padahal, dia menyusul dan menghambat Kimi sejak lap 1. Setelah itu dia memaksimalkan semua potensi yang ada di diri dan mobilnya. Sukses berat, karena dia yang start dari urutan 10 bisa finis ke-6. Rosberg mendapat pelajaran lagi. Setelah membuat error di free prac dan kehilangan kesempatan di kualifikasi, di lomba dia menemui tembok demi tembok berupa traffic. Lumayan, dari 13 dia finis ke-11.

HONDA
11 Rubens
12 Button
Konferensi Meja Bundar, karena ban itu bundar. Button membutuhkan pertemuan antara semua pihak di Honda, yang dianggapnya sebagai pembangkit motivasi tim. Menurut dia, kalau terus membuat kesalahan seperti saat pitstop-nya, Honda susah menjadi pemenang tahun ini. Benar, diakuinya race pace dia belum selevel Alonso dan Schumi, tapi untuk menempati peringkat terakhir podium amat mungkin. Apalagi selama ini kecepatan mobil mereka di kualifikasi tergolong bagus, walau itu tertolong bahan bakar lebih sedikit.
Kesalahan memang bisa saja ditimpakan pada lollipop-man saat pitstop Button. Terlihat sang pemegang lollipop sudah mengangkat tanda "jalan" dan Button pun langsung jalan. Tapi ternyata kepala selang bahan bakar masih tersangkut di mobil Button. Bila setelah itu terlihat selang dan kepalanya terlepas tapi bahan bakar tidak tercecer di pit lane, berarti sang lollipop-man belum tentu bersalah. Bisa jadi memang sang pemegang selang sudah mengangkat selangnya tanda bahan bakar sudah terisi sesuai kebutuhan. Dan tanda mengangkat selang ini terlihat oleh sang lollipop-man yang dengan refleks dan kebiasaan langsung memberi tanda "jalan" pada driver. Amat bisa dimaklumi kalau lollipop-man (named Alistair Gibson) menjadikan pengangkat selang sebagai patokan terakhir dia memberi aba-aba. Soalnya, waktu untuk mengganti ban selalu lebih cepat dibanding untuk mengisi bahan bakar. Makanya, patokan akhir adalah gerakan si pemegang selang bahan bakar. Siapa pun yang salah, Button benar Honda mesti mengadakan ruwatan.
Barrichello, baru mengejutkan di kualifikasi. Itu step-nya. Di lomba dia masih kedodoran habis, terutama ada andil juga dari pitstop bermasalahnya karena selang bahan bakar tak berfunsgi. Star dari posisi 3 dan finis di urutan 10, race to forget.

RED BULL
14 DC
15 Klien
Double DNF, DC karena drive shaft, Klien karena hidrolis. Poor weekend.

BMW-SAUBER
16 Heidfeld
17 Villeneuve
No pace di kualifikasi dan lomba. Hanya bagus saat free practice. Tiba-tiba saja kemampuan BMW untuk selalu dapat poin hilang. Masih ada waktu untuk mengejar Honda di klasemen dan menghindari kejaran Williams.

MF1
18 Monteiro
19 Albers
Albers "menghibur" kita semua di awal, terutama saat dia mengacungkan jempol tanda dia aman-aman saja. Dia tenang karena Ide diberi peringatan keras oleh FIA. Monteiro sekali lagi mampu membawa mobilnya finis, walau di urutan terakhir classified drivers.

TORO ROSSO
20 Liuzzi
21 Speed
Double finis, 14 dan 15, paling gak lebih baik dari kakak kandung yang double DNF.

SUPER AGURI
22 Takuma-san
23 Yuji-san
Terlalu banyak ide, malah jadi berantakan. Yuji Ide diberi peringatan keras oleh FIA agar tidak seenaknya membuat mobil orang guling-gulingan di udara lagi. Sato melengkapi double DNF timnya. Sang bos, Aguri Suzuki, menyesali bukan tindakan anak buahnya, tapi kegagalan membawa sasis baru di seri perdana Eropa ini.

from many sources,
arief k.

[Non-text portions of this message have been removed]





HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED]
==========================================================




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke