Circuit length: 5,148 km
Race distance: 60 laps (308,863 km)
Qualifying: 19.00 WIB --- live Global/Star Sports
Start: 19.00 WIB --- live Global/Star Sports
Tahun lalu, season F1 ada 6 back-to-back races, tahun ini cuma tiga. Setelah Bahrain-Malaysia, back-to-back kedua segera digelar, antara GP Eropa dan GP Spanyol. Dua seri selang seminggu ini menarik, yang bisa dibaca dari tes yang dilakukan oleh tim-tim pre-Nurburgring.
Most Michelin teams, dan sebagian Bridgestone, pergi ke Silverstone. Bisa ditebak mereka sengaja memfokuskan diri ke balapan yang jauh lebih menantang: GP Spanyol di Sirkuit Catalunya yang hanya digelar persis seminggu setelah Nurburgring. Dalam banyak hal, Catalunya memang mirip dengan Silverstone, terutama dari sisi aerodinamika. Jadi, walaupun mereka sudah sering tes di Catalunya, tetap saja persiapan matang sekaligus mencari perbandingan dari sesama sirkuit aerodinamika, diperlukan. Apalagi, GP Inggris di Silverstone digelar pasca-Monte Carlo, yang punya karakter 180 derajat. Artinya, kalau mobil bisa smooth di Silverstone/Catalunya, kemungkinan besar di trek-trek lain mobil itu juga bagus. Jadi, tes di Silverstone dipakai untuk tiga tujuan sekaligus: Nurburgring, Catalunya, dan Silverstone itu sendiri.
Kalau melihat hasil tes, Renault tampaknya menjadi tim yang paling merasa "kalah". Mereka seolah-olah ingin memperlihatkan pada dunia, kami masih yang terbaik. Bahkan ketika tes di Silverstone itu mereka dianggap luar biasa, bukan hanya cepat untuk one-lap tapi juga race simulation. Hal serupa pernah mereka lakukan pada pre-Imola saat mereka mendominasi tes di Catalunya. Cuaca yang tak menentu di Silverstone itu juga mendukung pra-kondisi ke Nurburgring. Maklum, di sirkuit ini juga kondang dengan uncertain weather-nya.
So kenapa Ferrari dan Toyota pilih ke Paul Ricard? Ini pasti atas permintaan Bridgestone. Paul Ricard saat ini dianggap sebagai sirkuit terbaik untuk menguji material tertentu, seperti ban, karena sirkuit ini diperbaiki menjadi High Test Track Circuit dengan tujuan itu. Menurut Schumi, Bridgestone penasaran dengan masalah yang ia hadapi di Imola, terutama selepas pit stop pertama, di mana ia kok tiba-tiba jadi "melempem". Paul Ricard pun dipilih. Schumi melahap begitu banyak lap di Paul Ricard dan lap time-nya sekali lagi menegaskan Bridgestone memang hanya ingin menguji reliability ban soft baru mereka. Schumi gak perlu ngotot untuk menjadi yang tercepat, karena sasis 248-F1 sudah terbukti cepat. Toyota juga merasakan dampak tes berdampingan dengan Ferrari ini. Mereka dengan cepat bisa berdiskusi tentang semua hal yang bisa dikembangkan bersama.
NURBURGRING
Old Nurburgring disukai karena alami. Gimana gak alami, wong panjangnya aja 22 km. Modern Nurburgring sejak 1984 tidak terlalu disukai, karena lay-out yang terlalu biasa. New Nurburgring sejak 2002 yang dimaksud untuk memberikan more challenge terhadap modern Nurburgring, ternyata sama saja. Bahkan Jerman sekarang bisa dapat dua seri hanya karena ada Schumacher, yang M bukan R. Kalau ada satu seri yang dibuang, pastilah yang di Nurburgring ini bukan Hockenheim, toh titel German GP ada di sirkuit yang disebut belakangan. Tapi perkembangan terakhir menyebutkan, Jerman tetap dapat seri, hanya digelar bergiliran antara Nurburgring dan Hockenheim.
Sampai sekarang jarang pembalap yang suka dengan sirkuit di Pegunungan Eifel ini. Sebenarnya dari sisi karakter, sirkuit ini lengkap. Ada tikungan cepat, lambat, plus chicane menjebak. Beberapa slow corner bahkan membuat mobil harus selalu dalam kondisi yang bagus, terutama traksi saat keluar dari sana. Namun dengan berkurangnya power mobil akibat degradasi dari V10 ke V8, hal itu tak terlalu memusingkan lagi.
Cuaca diramal panas, tapi seperti yang sudah-sudah, hujan akan bisa selalu menggoda. Jangankan hujan, salju saja masih bisa datang di bulan Mei ini. Balapan hujan memang sudah lama menghilang dari F-1. Siapa tahu muncul akhir pekan ini.
Walau aspal tergolong mulus, tapi trek ini masih punya beberapa bagian yang bumpy. Grip medium, ada juga yang bilang bagus dan jelek. Memang, tergantung dari mana mereka memandang. Mesin, rem, dan ban tak akan stress di sini. Setelan juga cenderung medium, walau bisa jadi ada yang mengarah ke high downforce karena di trek ini nyaris gak ada lintasan panjang untuk menggeber habis mobil.
TYRE WAR
Michelin (Renault, McLaren, Honda, Red Bull, BMW, Toro Rosso)
Bridgestone (Ferrari, Toyota, Williams, Midland, Super Aguri)
Michelin mestinya tak punya PR sama sekali. Hasil di Imola bagus, hasil tes terakhir pun luar biasa. Mereka tinggal mengandalkan siapa untuk meraih kemenangan, Renault, McLaren, atau Honda. Cuaca yang tak menentu membuat pemilihan ban jadi agak sulit di sini. Karena itu dibutuhkan ban yang memiliki range luas dari segala aspek, terutama dalam hal pemakaian, semata untuk mengakomodasi semua hal yang tak pasti akibat cuaca.
Bridgestone sendiri mengaku mendapat banyak masukan dari hasil tes bersama Ferrari dan Toyota di Paul Ricard, dan Williams di Silverstone. Khusus di Paul Ricard, hujan yang sempat mengganggu tes malah dianggap membantu untuk mengantisipasi cuaca di Nurburgring. Teka-teki tetaplah mengarah pada: apakah mereka sudah menemukan titik masalah kenapa tiba-tiba ban bisa cepat aus? Kalau itu masalah mobil, dilempar ke Ferrari (karena kasus di Imola). Bila masalah ban, tes di Paul Ricard solusinya.
TEAM BY TEAM
RENAULT
1 Alonso
2 Fisichella
Kedua pembalap sudah pakai mesin upgrade. Nada tinggi terlontar dari mereka, bahwa kali ini mereka yakin bisa mengatasi semua musuh. Bahkan Ferrari dianggap sebagai "angin lalu", dengan fokus beralih ke McLaren dan Honda semata karena sesama pemakai Michelin. Renault sah-sah saja beranggapan demikian, karena mereka sedang jadi benchmark. Tapi tampaknya mereka melihat musuh terlalu "hitam-putih". Mereka mestinya belajar dari kasus Imola, bahwa anggapan itu justru bisa jadi bumerang. Mereka anggap Ferrari kewalahan setelah pitstop 1 Schumi, tapi ternyata Ferrari punya "nyawa cadangan" sehingga Schumi bisa cepat sebelum melakukan pitstop kedua, yang mengagetkan bukan cuma Renault, tapi juga dunia.
Renault pastinya sudah belajar untuk meng-counter hal itu kalau mereka hadapi lagi di Nurburgring. Saya masih percaya mereka masih #1. Tapi, perkembangan F1 yang dari seri ke seri membuat status itu akan tergerogoti, cepat atau lambat. Soal taktik lomba, Renault tak perlu mengubah strategi. Mereka bisa seperti McLaren yang terlalu konvensional mengisi bahan bakar banyak untuk periode start sampai pitstop 1. Mereka bisa dengan mudah menyusul siapa saja asal mobil itu memang secara teknis lebih pelan. Nurburgring memungkinkan hal itu terjadi, tidak seperti di Imola. Alonso sudah menyadari dia bakal dapat lawan sengit. Fisichella sekali lagi mesti me-reset frame of mind dia sejak Jumat. Tak boleh lagi ada miskalkulasi sepele, apalagi kalau sampai salah gara-gara tak mengantisipasi regulasi baru.
McLAREN
3 Kimi
4 JPM
Masih ingat flat-spotted Kimi tahun lalu yang spektakuler, di lap terakhir, saat ia sedang leading? Saya sudah lihat langsung kayak apa ban flat-spot, yang memang bisa peyang sedikit atau peyang besar. Saya lihat ban jenis itu di A1GP, diberitahu Ananda Mikola ini lho kondisi flat-spot tyre. Bahasa gampangnya memang peyang, tapi sesungguhnya kalau dilihat secara utuh ban itu masih bundar. Tapi begitu dilihat dari dekat, di tapak ban itu ada permukaan hitam-licin membentuk sebuah bidang flat. Permukaan licin pertanda ban itu aus, dan pada kasus ini ausnya terjadi secara bersamaan di area flat (datar, padahal ban kan bundar) setelah biasanya ban itu dipakai untuk mengerem secara keras.
Bisa terbayang seperti apa flat-spot Kimi tahun lalu, di mana dia mengerem terus-terusan secara keras di permukaan ban yang sama. Kalau tadinya mungkin flat-spot-nya kecil, lama-lama jadi besar, melebar, dan akhirnya membuat ban peyang sepeyang-peyangnya. Ujung-ujungnya suspensi jebol dan membuat mobil oleng. Kimi tak mau hal itu terjadi lagi, karena regulasi sudah berubah. Ban kini boleh diganti setiap kali pit stop, tanpa harus ada keterangan "rusak" seperti musim lalu.
Yang bisa menguntungkan McLaren kali ini adalah mereka bisa mengoptimalkan taktik yang selama ini mereka usung, mengisi bahan bakar agak banyak untuk longer first stint. Setelah itu mendapatkan posisi demi posisi ketika pembalap di depan masuk pit. Karena tempat untuk menyusul di Nurburgring ada lebih dari satu, kans ini mestinya akan memberi advantage bagi pembalap yang punya mobil lebih kencang walau bahan bakar sedang lebih banyak.
Kalau Montoya bisa naik podium paling kiri di Imola dengan taktik ini, mestinya dia dan atau Kimi tetap ada di sana untuk mengisi salah satu di dua tempat podium yang lain.
FERRARI
5 Schumi
6 Massa
Kalau Schumi mendapat tugas khusus dari Bridgestone di Paul Ricard, Massa difokuskan hanya menatap Nurburgring dengan banyak melahap lap di Fiorano. Banyak yang meragukan kapasitas Ferrari untuk mempertahankan performa di Imola. Tapi, kalau merinci masalah demi masalah yang menimpa mereka, rasanya hanya faktor penggunaan ban yang perlu jadi perhatian khusus. Mesin sudah teratasi, walau masih bisa ngadat. Sasis sudah terbukti cepat. Kalau tes di Paul Ricard yang dianggap Schumi memuaskan jadi patokan, bisa jadi faktor home di Nurburgring akan membawa Schumi kesetanan, bukan kemasukan setan lho...
TOYOTA
7 Ralf
8 Trulli
Masih berbenah, terutama membenahi paket mobil mereka yang belum juga bertaji, terutama di lomba. Tes di Paul Ricard lebih banyak membuat senang Bridgestone, karena dilakukan bersama Ferrari. Yang menarik adalah "ancaman" Trulli yang akan mengganggu Schumi di sesi kualifikasi di salah satu seri pasca-Imola. Ia ingin membalas sakit hatinya yang gak diberi jalan oleh Schumi di Imola, padahal Trulli lagi flying-lap sedangkan Schumi sedang out-lap. Mungkin pembalasan itu sulit dilakukan di Nurburgring mengingat trek ini cukup lebar. Di Monako siapa tahu?
WILLIAMS
9 Webber
10 Rosberg
Rosberg merasa at home gak ya? Ini balapan pertama dia sebagai anggota "Nazi". Bersama Webber, baru kali ini Cosworth memberi kebebasan keduanya untuk melahap lebih banyak lap di hari Jumat, tugas yang selama ini diemban oleh Alex Wurz sendirian. Cosworth pasti merasa reliability sudah ditingkatkan walau sebenarnya ini adalah GP kedua bagi mesin Cosworth di mobil Webber dan Rosberg. Selama ini Cosworth memang "frustrasi" karena bisa bikin V8 mentok di rpm 20.000, tapi selalu dikurangi ke angka kurang dari itu karena reliability yang belum sempurna. Kayaknya, khusus untuk Nico, more laps di hari Jumat ditujukan untuk sengaja menyentuh limit, sehingga kalau sukses ya sekalian sukses, kalau gagal juga nothing to lose. Siapa tahu, menyusul sukses Heidfeld tahun lalu yang merebut pole, tahun ini Rosberg mendapat tugas khusus untuk "steal the show" lagi.
HONDA
11 Rubens
12 Button
Setelah semedi, Honda mestinya tampil sempurna kali ini. Mentok-mentok, runner-up. Saya melihat tim ini belum mampu menjadi pemenang bila salah satu di antara duet Renault, McLaren, atau Ferrari lagi "off-day". Honda memang kencang, tapi itu hanya kalau bahan bakar tipis. Tes di Silverstone pekan lalu sekali lagi memperlihatkan potensi mereka ada di level mana. Kalau mau sekalian agresif, sebenarnya Honda bisa pasang taktik 3-stop lagi seperti di Imola. Syaratnya, race pace Button dan Rubens benar-benar terjaga, dalam artian tidak drop selepas pit stop pertama. Dengan low fuel di kualifikasi, mestinya Honda bisa pole. Setelah itu, siapa tahu hasil semedi mereka di Brackley malah bisa membuat Button atau Rubens kesetanan dan tiba-tiba...menang!
RED BULL
14 DC
15 Klien
Uang jelas sakti untuk membentuk kekuatan. Setelah Adrian Newey dan Peter Prodromou, kini satu lagi mantan McLaren bergabung bersama mereka, Neil Martin. Dari ketiganya, Newey yang paling ngetop. Tapi ketiga orang ini pernah membentuk tim teknis dan operasional tangguh di McLaren. Kalau nanti Red Bull punya pembalap papan atas yang masuk berbarengan dengan hasil kerja Newey cs. bisa jadi menang lomba menjadi barang mudah buat mereka.
BMW-SAUBER
16 Heidfeld
17 Villeneuve
Pole yang direbut Heidfeld tahun lalu statusnya masih sama sampai kini, pertama dan satu-satunya. Di lomba, Heidfeld pun gak jelek-jelek amat karena dia jadi runner-up. Sementara itu Villeneuve gak suka Nurburgring, tapi kemenangan pertama (1996) dan terakhirnya (1997) ada di sirkuit ini. Uniknya, prestasi terbaik Heidfeld dan Villeneuve itu diraih sama-sama di atas mobil Williams. Kini bersama BMW yang baru pulang dengan rasa "kecewa" dari Imola, kedua pembalap mendapat mesin kembangan baru yang semestinya bisa kembali membawa mereka kompetitif untuk bertarung di posisi 5-8 seperti di tiga seri awal.
MF1
18 Monteiro
19 Albers
Berharap tidak terjadi insiden yang tidak mengenakkan lagi, karena mereka ingin selalu melihat kedua mobil finis walau tak dapat poin. Albers merasa full fit dan berharap dukungan penonton "kompeni", karena letak geografis yang dekat antara Nurburgring dan negerinya. Petinggi Midland, Johnny Herbert, pernah menang di sini tahun 1999, walau itu tidak diperkirakan banyak orang karena ia menggeber mobil Stewart.
TORO ROSSO
20 Liuzzi
21 Speed
Bos Toro Rosso, Gerhard Berger, tak suka Montoya. Katanya, Red Bull atau Toro Rosso mendingan dapat anak muda kalau gak bisa mendapatkan Schumi, Kimi, atau Alonso. Dua pembalap Toro Rosso sekarang adalah pilihan yang dimaksud Berger, ketimbang Montoya. Dari sisi skill mungkin saja Montoya lebih bagus, tapi dalam perjalanan waktu Liuzzi dan Speed bisa mengarah ke sana karena usia mereka masih memungkinkan untuk mengembangkan skill.
SUPER AGURI
22 Takuma-san
23 Yuji-san
Yuji mengawali dengan meminta maaf pada Albers dan mengaku dia masih anak bawang di F-1. Dia sendiri belajar Nurburgring cuma dari video. Sato pasti punya kenangan indah, ketika posisi start terbaiknya terjadi di sirkuit ini tahun 2004, kedua, front row bareng Schumi. Sementara itu, untuk mempercepat keberadaan sasis baru SA06 di trek, mulai Nurburgring ini Super Aguri akan memanfaatkan jatah third driver di hari Jumat. Mantan Renault, Franck Montagny, dipakai jasanya untuk tugas itu. Pengalaman Montagny dipercaya akan menjadi masukan berharga bagi calon sasis SA06.
akhirnya... karena renault meremehkan ferrari, karena michelin dianggap masih di atas bridgestone, karena hasil tes bridgestone sendiri masih dalam taraf meraba-raba, karena sukses schumi di imola membuat permintaan tiket di nurburgring melonjak, karena banyak yang menyimpulkan sukses ferrari di imola adalah one-off, kesimpulannya adalah: ttm, teka-teki michael...di balapan di tempat masa kecilnya dihabiskan di kerpen.
from many sources,
arief k.
[Non-text portions of this message have been removed]
HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.
==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED]
==========================================================
SPONSORED LINKS
| Sports fund raising | Sports psychology degree | Sport psychology college |
| Sport psychology course | Sport nutrition | Sport fishing |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "bolaml" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
