ROUND 7 - 28/05/2006 MONACO, MONTE CARLO
Circuit length: 3,340 km
Race distance: 78 laps (260,520 km)
Qualifying: 19.00 WIB --- live Global/Star Sports
Start: 19.00 WIB --- live Global/Star Sports

Kimi Raikkonen jujur. Katanya, kita tak bisa menutup diri kalau mobil tidak kencang di Catalunya, itu artinya sulit bersaing untuk memperebutkan juara dunia.

Jenson Button blak-blakan. Lidahnya enteng bicara, saya tak berharap banyak di Catalunya, tapi di Monte Carlo bolehlah.

Untuk mengukur kehebatan mobil, Catalunya dan Monte Carlo memang bak Tom & Jerry. Catalunya is prime, Monte Carlo is even. Maksudnya, di Catalunya itulah hebat-tidaknya mobil bisa ketahuan. Hebat di sana, berarti kemungkinan besar bisa jago di mana pun. Justru Monte Carlo-lah yang bisa membuat ketimpangan antara mobil bagus, mobil agak bagus, dan mobil biasa-biasa saja, menjadi hilang. Di sini semua even, imbang. Tapi, masih ada tapinya, tidak untuk mobil yang memang secara teknis jelek. Sialnya, mobil jelek itu pun biasanya digeber oleh pembalap dalam kelas "biasa-biasa saja ke bawah".

Kenapa bisa even? Aerodinamika berperan tak terlalu besar di sini. Dipastikan downforce maksimum disetel di setiap mobil di sirkuit ini. Terpaan angin dari kanan-kiri, depan-belakang, yang biasanya mengganggu mobil di sirkuit lain, nyaris tak ada di sini. Mobil tetap harus kencang, tapi harus mencengkeram bagus supaya bisa diajak kompromi kala menikung. Cengkeraman itulah yang didapat lewat downforce maksimal. Dan tikungan demi tikungan di Monte Carlo jelas banyak bedanya dengan di tempat lain. Mesin berpower tinggi gak ngaruh. Itu dua faktor yang sudah membuat McLaren, BAR, Williams, dan Toyota give-up bersaing dengan Renault dan Ferrari untuk menjadi juara dunia. Mereka senang pergi ke Monte Carlo karena inilah kesempatan besar untuk mencuri kemenangan dari kedua tim papan atas itu. Bahkan, BMW dan Red Bull pun bisa berharap banyak di sini, sambil menunggu sial tim lain.

Walau begitu, kalau pada dasarnya mobil itu bagus kemungkinan besar pembalap yang menggebernya pun akan dapat hasil bagus di sini.

FAKTOR PEMBEDA
Kalau masalah aero dan mesin untuk tim papan atas dan tengah bisa dianggap seimbang, pembeda tetap harus ada. Yang paling menonjol tentu keterampilan pembalap. Ada pembalap yang bagus saat masuk tikungan, ada pula yang jago saat keluar tikungan. Ada pembalap yang hebat di tikungan cepat, ada pula yang mampu mencuri sepersekian detik justru di tikungan lambat. Semua akan menentukan di sini.
Dengan mesin V8 2,4-ltr musim ini, semestinya itu akan menolong mereka yang jago keluar cepat di tikungan lambat. Mesin V8 ini jelas "kalah kelas" dari mesin V10 musim lalu. Tenaga mereka tak sebesar pendahulunya. Kalau mesin V10 akan enak dipakai di trek berkarakter medium hingga cepat, mesin V8 justru bisa jadi unggulan di trek lambat kayak Monte Carlo. Sisa tenaga mobil V8 akibat pengereman yang mesti dikendalikan pembalap saat masuk tikungan tak akan sebesar V10. Dengan demikian akselerasi lebih baik bisa dilakukan ketika keluar tikungan. Siapa yang paling jago menggunakan semua kondisi ini, dialah yang bakal mendapatkan grid bagus di kualifikasi. Dampaknya dia bisa leluasa mengatur irama lombanya.
Pembeda lain adalah taktik lomba. Ini berkaitan dengan kompon ban yang mereka pakai. Dengan regulasi sekarang, ban super-soft atau extra-soft yang famous di 2004 akan kembali menjadi primadona. Bila menggunakan ban ini, dipastikan taktik 2-stop dipakai. Tapi bila ada yang berani mencoba pakai ban soft dan bahan bakar lebih banyak, siap-siap melihat kejutan 1-stop membuat kacau peta persaingan.

KUALIFIKASI
Banyak pembalap khawatir dengan kualifikasi model knock-out ini, terutama di 15 menit pertama. Selain traffic, yang pasti akan mengganggu mereka yang sedang flying-lap, juga masalah kemungkinan besar ada yang crash. Apalagi bila crash itu terjadi di menit-menit yang rawan, 4-5 menit terakhir. Ada dua kemungkinan besar yang terjadi di 15 menit pertama ini:
-/ pembalap top sekalipun banyak yang sudah keluar sejak menit-menit awal, untuk menghindari kemungkinan kehabisan waktu bila keluar di akhir sesi lalu terjadi red flag akibat ada pembalap lain yang crash.
-/ lap time yang dibuat di sesi ini sudah langsung "kompetitif", di mana mereka menggunakan ban unggulan (sekaligus baru) dan bahan bakar tipis. Tujuannya adalah ingin mengamankan diri lolos dulu ke Sesi 15 menit kedua. Penggunaan ban unggulan dan mungkin baru ini untuk mengantisipasi aspal yang masih dianggap "kotor" dan tidak nge-grip akibat belum banyak karet yang menempel karena sesi baru saja dimulai.
Dua kemungkinan itu tak terlihat sejak seri pertama di Bahrain. Rata-rata di 15 menit pertama ini para pembalap top baru keluar di 5 menit terakhir dan lap time yang mereka buat "biasa-biasa saja" karena toh itu sudah cukup untuk menggugurkan 6 pembalap dengan lap time terburuk.

Sesi 15 kedua juga bukan tanpa masalah, walau pembalap yang ambil bagian sudah berkurang. "Psikologi" sesi ini akan sama dengan Sesi 15 menit pertama. Yang sedikit membedakan mungkin mereka tak perlu terlalu terburu-buru lagi keluar. Mereka bisa menunggu 5 menit, sambil melihat siapa yang bakal jadi pembersih trek. Masalahnya, siapa yang mau jadi penyapu jalan, yang keluar di awal sesi? Kalau kemungkinan besar di 15 menit pertama saja lap time-nya sudah kompetitif, maka di sini apalagi.

Sesi 20 menit terakhir akan sama dengan di sirkuit-sirkuit lain. Parade sudah akan terjadi sejak detik pertama. Yang menarik adalah di detik-detik akhir, di mana waktu akan bertumbangan silih berganti dengan cepat dan kemungkinan ada 10 pembalap yang bisa menempati pole position! Kenapa? Karena ini trek penyeimbang kekuatan mobil dan tergantung bahan bakar yang ada di mobil masing-masing. Jadi bisa saja Christian Klien atau Nico Rosberg steal the show. Di sirkuit lain bolehlah pole jadi rebutan Renault dan Ferrari. Tapi di sini, nanti dulu!

Melihat segala kemungkinan ini, jangan heran bila ada pembalap top yang sudah gugur bahkan sejak Sesi 1, mungkin bukan salah dia tapi nasibnya saja yang apes karena kondisi mengharuskannya tak melanjutkan kualifikasi. Yang paling mungkin terjadi adalah pembalap top rontok di Sesi 2 dan kejutan di Sesi 3.

MONTE CARLO
Tight and twisty, sekaligus bumpy. Untuk mengantisipasinya, selain downforce maksimum, juga dengan meninggikan reference plane (bidang terbawah) mobil dari biasanya, sekitar 5-7 cm. Ini untuk menjaga mobil mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, terutama ketika trek menjadi licin di setiap awal sesi baik itu latihan, kualifikasi, maupun lomba.
Power mesin tak terlalu menentukan, tapi kerja girboks akan luar biasa karena perpindahan gigi di trek ini tak terkira banyaknya. Karena di sini mobil jarang digeber dalam kecepatan tinggi, maka bantuan angin untuk mendinginkan mesin pun berkurang. Biasanya tim akan membuat lubang-lubang tambahan di mobil agar mobil tidak over-heating. Jadi selain banyak sayap untuk mengakali "kedatangan" downforce, akan punya banyak lubang di bodi mobil. Di tempat lain, penambahan lubang tak bisa dilakukan sembarangan karena akan mempengaruhi efektivitas aerodinamika, tapi karena di sini hal itu tak terlalu vital maka akan dengan senang hati mobil berlubang-lubang.
Jarak lomba di Monte Carlo berkurang sekitar 45 km dari tempat lain (260,520 km). Referensinya adalah waktu lomba. Bila tetap mengacu pada toleransi 305 km, maka jumlah lap akan lebih dari 78 dan dipastikan waktu yang ditempuh lebih dari dua jam (batas maksimal durasi lomba F-1).
Setiap tahun ada saja yang mempertanyakan kelayakan Monte Carlo masuk kalender F-1, mengingat mobil F-1 yang selalu lebih kencang, tetapi safety standard di trek itu tetap. Tapi tak ada tempat seatraktif Monte Carlo, kalau bicara F-1.

TYRE WAR
Michelin (Renault, McLaren, Honda, Red Bull, BMW, Toro Rosso)
Bridgestone (Ferrari, Toyota, Williams, Midland, Super Aguri)
Bridgestone datang membawa penasaran selama lima tahun. Kali terakhir mereka menang di sini memang tahun 2001, bersama Ferrari dan Schumi. Karena itu secara terus terang mereka katakan akan menggunakan ban super-soft di sini. Toh durasi lomba di Monte Carlo tak sepanjang seperti di sirkuit-sirkuit lain. Jadi masuk akal mereka secara terang-terangan sudah mengeluarkan calon senjata unggulan.
Michelin paham akan tantangan dari Bridgestone. Ban mereka selalu unggul, walau terkadang memakan korban tim-tim yang secara teknis tidak terlalu siap ketika masalah menghadang. Seperti dialami Renault musim lalu yang karena penyetelan suspensi belakangnya terlalu "kejam" terhadap ban membuat mereka tak bisa berbuat apa-apa.
Adu ban super-soft diramal bakal terjadi kali ini. Kedua kubu sudah menguji maksimal, ada yang frontal ada pula yang di tempat berbeda. Faktanya adalah tak ada satu pun tempat yang pas untuk menguji ban bila balapan akan dilangsungkan di Monte Carlo. Tapi lap time diperkirakan akan luar biasa. Sampai saat ini lap time edan memang terjadi tahun 2004. Fastest lap dibuat oleh Schumi dengan 1:!4,439, sementara "best lap" dibuat oleh Trulli (Renault) saat merebut pole tahun 2004, 1:13,985.

TEAM BY TEAM
RENAULT
1 Alonso
2 Fisichella
Alonso tak suka Monte Carlo, saya pikir bukan karena secara teknis dia gak jago di sini, atau karena dia gak mampu memanfaatkan semua potensi mobil yang selayaknya. Tapi semua karena fakta hasil terbaik dia di sini adalah finis ke-4. Podium saja dia belum pernah! Bukan juga karena dia sehari-hari tidak tinggal di sini. Saya pikir sejak tahun ini pikirannya akan berubah soal Monte Carlo, karena paket Renault pun sudah jauh berubah. Ketika Renault masih jadi tim kelas dua tahun 2004 saja mereka bisa menang, apalagi sekarang. Tahun lalu mereka gagal karena kesalahan penyetelan suspensi belakang yang terlalu banyak membuat aus ban belakang. Tahun ini pasti beda, karena pelajaran 2005 amat mahal dan harusnya sudah diperbaiki.
Fisichella juga gak pernah menang di sini, tapi pernah jadi runner-up tahun 1998 (Benetton). Karena secara psikologis Alonso sudah tidak suka Monte Carlo, mestinya ini momen pas bagi Fisichella untuk mengalahkan rekan setimnya itu.

McLAREN
3 Kimi
4 JPM
Tahun lalu McLaren pakai berlian dan menang (Kimi)! Tahun ini pakai berlian lagi. Bedanya bukan ditaruh di helm, tapi di gagang setir. Steinmetz dan McLaren tak pernah henti mencari sensasi di tempat penuh sensasi pula. Kimi dan JPM sama-sama pernah menang di sini, Kimi tahun lalu JPM tiga tahun lalu. McLaren adalah tim paling sukses di Monte Carlo dengan koleksi kemenangan 13 kali. Alain Prost, mendiang Senna, David Coulthard, Mika Hakkinen, dan Kimi menjadi hero McLaren, dengan tentu Senna penyumbang terbanyak (5 wins). Menyiasati masalah engine cooling yang bakal menjadi nightmare di sini akibat lay-out trek, seperti tim-tim lain, McLaren sudah mengujinya di Paul Ricard pekan lalu.

FERRARI
5 Schumi
6 Massa
Mentang-mentang sudah melewati rekor pole position Senna, jangan dikira Schumi gak punya beban lagi. Justru di Monte Carlo inilah biangnya. Schumi hanya defisit menang sekali lagi untuk sama menang 6 kali. Tapi rentang defisit itu sudah terjadi sejak 2001. Jadi bisa dimaklumi kalau ada yang paling penasaran untuk menang ya memang Schumi, apalagi dia juga baru kalah di Catalunya. Tak ada yang perlu diomongin lagi dari dia soal skill.
Massa mendapat hiburan: Rossi gak jadi ke F-1 (baca: ke Ferrari)! Walaupun saat ini head-to-head masih lebih bagus Massa untuk urusan nyetir mobil F-1, pasti mendapatkan Rossi adalah headline besar bagi tim mana pun, apalagi Ferrari. Seperti halnya Fisichella terhadap Alonso, ini pula kesempatan Massa mendekati atau bahkan melewati Schumi. Bedanya, Schumi justru suka Monte Carlo.

TOYOTA
7 Ralf
8 Trulli
Pakai mobil baru untuk Ralf dan Trulli, TF106B. Ralf belum pernah menang di sini, tapi Trulli sudah. Tahun lalu Toyota (Trulli) dianggap sebagai trouble maker karena ada di grid bagus, tapi menghalang-halangi pembalap dengan mobil lebih cepat di belakangnya. Jangan salah, tahun ini hal itu bisa terjadi lagi! Bahkan yang potensial jadi penghalang bukan satu, tapi dua-duanya sekaligus. Itu karena sasis Toyota sudah terbukti bagus untuk sesi kualifikasi. Bila Ralf dan Trulli memilih opsi sedikit bahan bakar, well, lomba kondisi akan menarik. Pole? Why not. Tapi race pace mereka sekali lagi akan membuat nikmat tontonan di hari Minggu. Bukan karena tidak kencang, tapi karena bisa membuat kacau susunan pembalap. Ini Monte Carlo, bung, Toyota bisa punya race pace bagus dengan sasis baru.

WILLIAMS
9 Webber
10 Rosberg
Rosberg rookie di F-1, tapi bukan di Monte Carlo. Dia tinggal di sini dan tahun lalu balapan di GP2. Apa yang sempat hilang dari duo Williams, bagus di kualifikasi, mungkin saja muncul lagi mengingat tak ada yang bisa memastikan hasil "lotere" di hari Sabtu itu. Kebetulan, Webber pun punya skill bagus untuk urusan kualifikasi. Kedua pembalap bakal menggunakan mesin Cosworth baru. Webber pasti masih ingat bagaimana meraih podium pertamanya di F-1 tahun lalu.

HONDA
11 Rubens
12 Button
Di pengantar, saya sudah singgung harapan Button. Honda sendiri sudah mengadaptasi Monaco-style dengan tes di Vallelunga pekan lalu. Hasil tes itu jelas menggembirakan karena kemungkinan besar akan terealisasi pula pekan ini. Seperti Williams dan Toyota, Honda juga bisa membuat kacau grid. Di Catalunya mereka sudah menunjukkan race pace bagus dan bahkan menyamai performa McLaren. Tak ada salahnya bila berharap Button dan Barrichello bakal untuk kali pertama menang di "rumah" mereka. Rubens, walau telat, meminta secara khusus agar di Monte Carlo regulasi kualifikasi diubah karena potensi bahaya.

RED BULL
14 DC
15 Klien
Terbang bersama Superman. Red Bull, seperti biasa, sibuk dengan urusan glamor mereka. Kalau tahun lalu bawa Star Wars, sekarang Superman. DC dan Klien hanya berharap ada insiden menimpa tim-tim papan atas sehingga mereka bisa dapat poin.

BMW-SAUBER
16 Heidfeld
17 Villeneuve
Tes di Paul Ricard sekali lagi menegaskan bahwa tim ini punya kemampuan besar, bila dipertahankan secara konsisten performa itu. Kalau mau dikumpulkan, BMW bisa perang secara sehat melawan Red Bull-Toyota-Williams. Heidfeld dan Villeneuve punya bekal bagus dengan race pace meyakinkan untuk tim sekelas mereka di Catalunya.

MF1
18 Monteiro
19 Albers
Monteiro punya banyak pengalaman lomba di trek jalan raya, tapi di F-1 baru sekali, tahun lalu. Dia kenyang di Champ Car. Kalau tahun lalu dia bisa finis, tahun ini pun rasanya bisa lagi. Dan itu menjadi tugas berat Albers untuk menyaingi performa Monteiro.

TORO ROSSO
20 Liuzzi
21 Speed
Kalau di tempat lain V10 mereka tak ada artinya, di sini sama saja. Di Catalunya mereka double retirement. Itu harus memaksa mereka untuk tampil lebih bagus, terutama terhadap saudara tua. Sampai saat ini belum ada poin disumbangkan oleh V10. Di Monakokah itu?

SUPER AGURI
22 Takuma-san
23 Montagny
Montagny lega karena diberi kesempatan lebih lama untuk balapan bersama Super Aguri. Ini pula balapan Montagny di Monte Carlo. Yang diharapkan bosnya adalah membawa mobil selamat sampai finis. Sato tahun lalu absen (bersama Button) karena timnya, BAR, kena larangan tampil akibat dianggap menggunakan mobil ilegal di GP San Marino. Wajar kalau dia ingin memberikan sesuatu yang terpendam, karena dia tak pernah sekali pun finis di sini sejak 2002.

from many sources,
arief k.


[Non-text portions of this message have been removed]



HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED]
==========================================================




SPONSORED LINKS
Sports fund raising Sports psychology degree Sport psychology college
Sport psychology course Sport nutrition Sport fishing


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke