Kamis, 13/07/2006 06:03 WIB
Pengakuan Zinedine Zidane
Andi Abdullah Sururi - detikSport 

 
AFP/Bertrand Guay Paris - Inilah petikan wawancara Zinedine Zidane dengan 
stasiun televisi Prancis, Canal Plus, Rabu (12/7/2006), mengenai insiden di 
pertandingan terakhirnya di final Piala Dunia 2006 lalu, saat ia menanduk dada 
Marco Materazzi sehingga diganjar kartu merah.

Tanya: Anda tahu pemain-pemain Italia telah mengenal Anda dengan baik karena 
Anda bermain di Italia selama lima tahun. Sebelum ini, apakah Anda pernah punya 
masalah dengan mereka?

Zidane: Sama sekali tidak. Anda selalu punya friksi dengan pemain-pemain 
tertentu... itulah permainan, selalu seperti itu. Tapi aku tak pernah bertikai 
dengan siapapun.

Tanya: Termasuk Materazzi?

Zidane: Tidak. Tak pernah ada apa-apa dengan dia sampai dia menarik bajuku. Aku 
minta dia berhenti menarik bajuku. Kukatakan padanya, kalau mau baju ini kita 
bisa tukaran di akhir pertandingan.

Saat itulah dia mengatakan kata-kata yang sangat kasar, yang lebih kasar 
daripada isyarat tubuh. Dia mengulanginya beberapa kali. Ini terjadi sangat 
cepat dan dia mengatakan sesuatu yang betul-betul melukai perasaanku.

Tanya: Semua orang ingin tahu persisnya kata apa yang dia ucapkan...

Zidane: Sangat serius. Sangat menyangkut pribadi.

Tanya: Tentang ibu dan saudara perempuan Anda?

Zidane: Ya. Kata-kata itu sangat kasar. Anda mendengarnya satu kali, lalu 
mencoba pergi. Tapi Anda mendengarnya lagi untuk kedua kalinya, lalu ketiga 
kalinya. Aku juga manusia dan beberapa kata-kata bisa lebih sulit untuk 
didengarkan daripada perbuatan. Lebih baik wajahku yang dipukul ketimbang 
mendengar hal itu."

Tanya: Dia menyingung ibu dan saudara perempuanku dua atau tiga kali?

Zidane: Ya. Aku bereaksi yang sesungguhnya tak boleh dilakukan. Aku harus 
menegaskan itu. Kejadian itu ditonton dua-tiga miliar orang lewat televisi dan 
jutaan anak-anak.

Perbuatanku tidak dapat dibenarkan dan oleh karena itu, kepada anak-anak dan 
mereka yang memberi pelajaran kepada anak-anak tentang apa yang boleh dan tidak 
boleh dilakukan, aku minta maaf.

Tanya: Anda minta maaf kepada mereka, tapi betulkah Anda menyesal karena 
melakukan hal ini?

Zidane: Aku tidak bisa menyesalinya karena itu berarti aku mengakui bahwa dia 
(Materazzi) berhak ngomong begitu, padahal tidak.

Kita selau bicara soal reaksi, dan tentu saja tindakan(ku) harus dihukum. Tapi 
kalah tidak ada provokasi, pasti tak ada reaksi.

Provokasi dia sangat serius. Tindakanku memang salah, tapi pelaku kejahatan 
yang sebenarnya adalah orang melakukan provokasi. 

Apakah Anda membayangkan bahwa di final Piala Dunia seperti itu, dengan 10 
menit tersisa dari penghujung karirku, aku akan melakukan sesuatu seperti itu 
karena membuatku senang?

Tanya: Dan kalau itu terjadi lagi, apakah Anda akan bereaksi sama?

Zidane Aku sudah mengutarakan apa yang kupikirkan.
(a2s) 

---------
Kamis, 13/07/2006 05:06 WIB
Materazzi Tetap Bela Diri
Andi Abdullah Sururi - detikSport 

 Milan - Zinedine Zidane sudah memberi keterangan seputar insiden di final 
Piala Dunia 2006. Namun rivalnya, Marco Materazzi, tetap membela diri dan 
menyangkal pengakuan Zidane.

"Aku tidak mengatakan apapun yang berhubungan dengan rasis, agama, atau 
politik," tuturnya kepada Gazzetaa dello Sport.

"Aku bahkan tidak menyebut-nyebut ibunya. Buatku ibu adalah sakral. Aku 
kehilangan ibu pada usia 15 tahun dan sampai sekarang masih suka menangis kalau 
membicarakannya," tambah Materazzi.

Walaupun tidak menyebut persisnya, tapi Zidane telah mengatakan bahwa Materazzi 
telah menghina ibu dan saudara perempuannya. Zidane marah besar karena ibunya 
saat ini masih bertarung melawan penyakit yang cukup serius.

"Aku tidak tahu kalau ibu Zidane di rumah sakit. Semoga ia lekas sembuh. 
Sedangkan Zidane, ia selalu jadi pahlawanku dan aku sangat mengagumi dia."

Soal "teroris", Materazzi berulang kali menyangkal telah melontarkan kata 
"sensitif" itu pada Zidane. "Aku bahkan tak tahu apa arti kata teroris," 
ujarnya. "Hinaan macam itu biasa Anda dengar lusinan kali di atas lapangan."

Selain itu Materazzi juga menceritakan insiden "baju" yang terjadi beberapa 
detik sebelum Zidane menyeruduk dadanya. "Aku memegang bajunya sebentar saja. 
Dia lalu berbalik, mengejek, dan menatapku dengan sangat arogan."

"Dia bilang 'kalau kau mau baju ini, kau bisa mendapatkannya nanti'. Sungguh, 
aku merasa terhina," pungkasnya.
(a2s) 

---------
Kamis, 13/07/2006 04:47 WIB
Zidane Minta Maaf tapi Tak Menyesal
Andi Abdullah Sururi - detikSport 

 
AFP/Bertrand Guay Paris - Akhirnya Zinedine berbicara soal insiden tandukan 
yang membuatnya dikartu merah di final Piala Dunia lalu. Ia minta maaf pada 
fans tapi tidak menyesal atas perbuatannya.

"Aku ingin minta maaf pada semua anak-anak yang menyaksikan kejadian tersebut," 
ungkap Zidane dalam wawancara eksklusifnya dengan siaran televisi Canal Plus, 
Rabu (12/7/2006).

"Aku ingin terbuka dan jujur mengenai hal ini karena disaksikan oleh dua-tiga 
miliar orang dan jutaan anak-anak," tambahnya.

Zidane "menyundul" dada Marco Materazzi di sepuluh menit akhir babak 
perpanjangan waktu dalam pertandingan final Piala Dunia antara Prancis versus 
Italia di Berlin hari Minggu lalu.

Sebelum Zidane buka suara, banyak versi yang beredar mengenai kalimat apa yang 
sesungguhnya dilontarkan Materazzi sehingga pemain terbaik dunia tiga kali itu 
sampai bereaksi demikian.

Dua dugaan terbanyak adalah Zidane disebut "teroris" oleh bek klub Inter Milan 
itu, dan hinaan yang dialamatkan kepada ibu pria berkepala botak berusia 34 
tahun itu.

Akan tetapi, meski sudah "dipancing-pancing", tetap saja Zidane tidak 
mengatakan kalimat apa persisnya yang diucapkan Materazzi. Namun yang jelas, 
katanya, adalah ibu dan saudara perempuannya yang diungkit-ungkit Materazzi.

"Kata-kata yang sangat kasar. Anda mendengarnya satu kali, lalu mencoba pergi. 
Tapi Anda mendengarnya lagi untuk kedua kalinya, lalu ketiga kalinya. Aku juga 
manusia dan beberapa kata-kata bisa lebih sulit untuk didengarkan daripada 
perbuatan. Lebih baik wajahku yang dipukul ketimbang mendengar hal itu."

Karena itulah Zidane tidak menyesali ulahnya menanduk Materazzi. "Kalau 
menyesal itu sama artinya aku mengakui dia boleh bicara seperti itu, padahal 
itu tidaklah benar."

Zidane sekali lagi mengakui ulahnya tidak dapat ditolerir, apapun alasannya. 
Namun ia juga berharap Materazzi diberi sanksi karena melakukan provokasi yang 
sangat berlebihan.

"Reaksi seperti itu tentu mesti dihukum. Tapi kalau tidak ada provokasi, reaksi 
tidak diperlukan. Yang dia lakukan adalah provokasi yang sangat serius. 
Tindakanku memang salah, tapi pelaku kejahatan sebenarnya adalah orang yang 
memprovokasi."

"Apakah Anda membayangkan bahwa di final Piala Dunia seperti itu, dengan 10 
menit tersisa dari penghujung karirku, aku akan melakukan sesuatu seperti itu 
karena membuatku senang?"
(a2s) 


-- 
Best regards,
Wong nDeso
mailto:[EMAIL PROTECTED]



HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke