---------- Forwarded message ----------
From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Jul 11, 2006 9:17 PM
Subject: Selamat Jalan Zidane

Oleh Sindhunata
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0607/11/utama/2797222.htm
=============================

Manusia itu mudah pecah. Hidupnya dapat menjadi berantakan, dan
berakhir dengan kehancuran tak terkira, yakni kematian. Kebahagiaan
juga mudah pecah. Bahkan, cinta pun rawan terbelah. Itulah derita
yang harus ditanggung manusia, seperti ia harus menanggung hidupnya.

Manusia itu mudah pecah berserpih-serpih. Setiap serpih pecahan
adalah ingatan, yang menyadarkan bahwa tidak hanya kaca atau gelas,
tetapi juga dirinya sendiri mudah pecah. Sebab, ia adalah insan, yang
dapat bersalah, dan fana. Mau apa, manusia memang terbuat dari
daging, mempunyai nafsu, ketakutan, kerinduan, dan cinta. Memang, ia
tidak terbuat dari plastik yang liat atau baja yang kuat, karena itu
ia mudah pecah.

Itulah realitas yang harus dihadapi setiap insan, seperti ditulis
oleh pengarang Rudolf Walter dalam kumpulan renungannya tentang
perlunya hati yang terbuka agar manusia menerima dirinya dan menjadi
bahagia.

Dan realitas itulah yang dialami oleh Zinedine Zidane dalam
perpanjangan waktu di final Piala Dunia 2006 kemarin. Siapa menyangka
dalam saat yang demikian menentukan Zidane diusir dengan kartu merah
oleh wasit Horacio Elizondo?

Ia telah mencetak gol penalti ke gawang Gianluigi Buffon. Sampai
perpanjangan waktu, dengan kepala dingin ia memimpin kawan-kawannya
menggedor pertahanan Italia. Sampai saat itu, di kaki Zidane masih
tersimpan harapan Perancis untuk menjadi juara dunia.

Dan sebelumnya, menjelang final, segala pujian dilantunkan kepada
Zidane, sampai Raymond Domenech khawatir, jangan-jangan segala pujian
itu justru akan menghancurkannya. Memang dengan gila-gilaan, suporter
Perancis mengelu-elukan Zidane. Kata mereka, "Zidane harus menjadi
presiden."

Bersama Lilian Thuram, Patrick Vieira, Fabien Barthez, dan Claude
Makelele, Zidane disanjung sebagai "pahlawan yang berada di luar apa
yang baik dan yang buruk". Pada Zidane sudah tak dapat dikenakan lagi
norma baik dan buruk karena ia adalah Messias yang akan membebaskan
Perancis. Itulah kemuliaan Zidane.

Terusir dengan nista

Namun, justru di puncak kemuliaannya, Zidane tersandung dan
terhempas. Tiba-tiba ia membalikkan badannya dan menyeruduk Marco
Materazzi, padahal sedang tak ada bola di kaki Materazzi. Kontan
wasit Elizondo mengusirnya dengan kartu merah. Zidane terhempas,
padahal piala kemuliaan sedang berada di depan matanya. Maka ia pun
terusir dengan nista sebagai orang yang terpidana.

Tak jelas, mengapa Zidane berbuat senekat itu. Mungkin ia
terprovokasi Materazzi. Mungkin ia tercekik oleh sistem permainan
selama ini. Sebab, kata Michel Platini, permainan bola selama Piala
Dunia 2006 cenderung mendewa-dewakan pertahanan. Dalam sistem seperti
ini, pemain seperti Zidane atau Ronaldinho dipaksa memperbudakkan
diri bagi pertahanan. Tentu ini bisa membuat frustrasi pemain
seofensif Zidane.

Itu pun belum bisa menerangkan mengapa Zidane menjadi gusar. Maklum,
selama ini ia dikenal sebagai bapak keluarga yang pendiam dan rendah
hati. Ia bukan popstar seperti David Beckham. Ia justru banyak
menyumbangkan penghasilannya buat karya karitatif. Ia sangat
menghormati ayahnya yang mengajarinya untuk rendah hati dan memberi
respek kepada sesamanya.

Namun hidup Zidane ternyata juga mempunyai sisi gelap. Ia mengaku
bisa tiba-tiba marah. Perasaan marah itu terpendam di lubuk hatinya,
dan sewaktu-waktu bisa meluap keluar. Pada keadaan begini, Zidane
bagaikan kucing jinak yang tiba-tiba menjadi binatang liar. Karena
ledakan emosi itu, cukup banyak kartu merah dikantonginya.

"Saya memendam tumpukan agresi. Saya tak dapat mengatakannya dengan
kata-kata apa sesungguhnya agresi itu. Tetapi suatu saat tiba-tiba,
agresi itu keluar, dan saya meledak," katanya pada suatu kesempatan.
Dan ia pun bercerita lagi, "Saya berasal dari lingkungan yang keras
di pinggiran Marseille. Di sana saya tidak ingin berkelahi. Tetapi
jika seseorang memprovokasi saya, saya tidak bisa tinggal diam. Saya
bisa terjangkit untuk membalasnya. Itulah saya," cerita Zidane jujur.

Ternyata, dalam pertandingan yang demikian menentukan di Berlin,
sekali lagi ia tak mampu membendung luapan emosinya. Maka bukan bola,
tetapi Materazzi yang ditanduknya. Ia diusir, lalu dengan tertunduk
dan gontai ia meninggalkan lapangan. Di kabin, mungkin ia berpikir,
andaikan bukan David Trezeguet tetapi ia sendiri yang mengambil
penalti, mungkin kans Perancis tetap terbuka untuk jadi juara. Tapi
sesal kemudian tak ada gunanya.

Di luar, kembang api bertaburan. Domenech menengadah, terdiam seperti
orang kehilangan akal. Lilian Thuram menangis. Hati Zidane kiranya
juga sedih teriris-iris. Ia telah melengkapi takdirnya sebagai pemain
bola, tetapi bukan dengan kesuksesan dan kegembiraan, melainkan
dengan kegagalan dan kesedihan. Ia ternyata bukan dewa tetapi
hanyalah manusia biasa yang mudah pecah.

Piala Dunia 2006 telah berakhir. Kita bergembira bersama Italia, dan
bersedih bersama Perancis. Tetapi betapa pun, kita boleh bersyukur
dengan kisah Zidane yang tragis. Sebab, meski dengan negatif, Zidane
telah menjawab teka-teki kebijaksanaan hidup yang diberikan Roberto
Baggio kepada Luca Toni, "Jika kamu mau menjadi pemain bola yang
baik, kamu harus menjadi manusia yang baik."

Memang Zidane tak berhasil menjadi pemain bola yang baik karena ia
tak dapat menahan amarahnya. Tetapi dengan demikian, ia mengantarkan
kita untuk melihat diri kita yang sesungguhnya: Seperti dia, kita
adalah manusia yang mudah pecah. Itulah serpih ingatan yang amat
berharga untuk kita bawa pulang ke dunia harian kita yang nyata,
setelah sebulan kita berpesta dengan Piala Dunia.




[Non-text portions of this message have been removed]



HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke