Petenis putri Cina Li Na menorehkan sejarah pada turnamen Grand Slam Wimbledon 2006, awal bulan ini. Ia menjadi petenis putri Cina pertama yang bisa melaju hingga babak perempat final. Dalam perjalanan menuju 8 besar, Li Na menundukkan petenis Rusia Svetlana Kusnetzova di babak ketiga. Svetlana merupakan runner Prancis Terbuka tahun ini dan juara AS Terbuka 2004. Setelah itu, Li Na menyingkirkan petenis Republik Cek yang baru berusia 17 tahun Nicole Vaidisova melalui pertarungan tiga set 4-6 6-1 6-3. Kemenangan atas Vaidisova membawa Li Na maju ke babak delapan besar dan akan menghadapi mantan petenis nomor satu dunia asal Belgia Kim Clijters. Li Na berhasil melampaui prestasi rekan senegaranya Zheng Jie yang mampu lolos hingga babak keempat Perancis Terbuka pada 2004.
Mimpi untuk terus melaju hingga babak semifinal terhenti ketika Li Na takluk di tangan Kim Clijters 4-6 5-7. Tampil sebagai non unggulan, Li justru tampil grogi. Beberapa kali Li melakukan kesalahan sendiri yang membuat Clijters mendapatkan angka dengan mudah. Baru pada set kedua, Li Na memperlihatkan kehebatannya melalui pukulan forehand drive nya yang kuat. Para penonton yang menyaksikan pertandingan itu sempat memberikan tepuk tangan yang bergemuruh ketika pukulan backhand Li Na melesat kencang ke pojok kanan garis pertahanan Clijters. Setelah melalui perjuangan keras, Clijters pun menutup set kedua dengan 7-5. Usai pertandingan, Li Na mengaku sempat grogi di awal-awal pertandingan. Namun, ia mengakui, hal yang wajar tampil grogi di partai besar seperti di Wimbledon. Li Na mengatakan, sejumlah temannya di Cina mengirimkan pesan pendek yang mengucapkan selamat atas keberhasilannya lolos ke babak 8 besar di Wimbledon. Saya bangga terhadap diri saya dan kepada negara saya atas keberhasilan ini, kata Li Na, melalui penerjemah dalam konferensi pers pasca kekalahannya atas Kim Clijters. Pada Wimbledon tahun ini, ada tiga petenis China yang tampil di babak utama yaitu Li Na, Zheng Jie dan Peng Shuai. Zheng Jie kalah di tangan Kim Clijters dan Peng Shuai dikalahkan Flavia Pennetta. Kesuksesan Li Na di Winbledon mendapat pujian dari petenis Belgia Justine Henin Hardenne Kata Justine, Li mengalahkan Svetlana dan Vaidisova yang artinya dia adalah petenis yang baik. Bukan tidak mungkin akan semakin banyak petenis putri Cina yang tampil lebih baik lagi di masa yang akan datang. Menghadapi petenis Cina tidak berbeda dengan melawan petenis Rusia. Mereka adalah tipe pejuang, tidak pernah mudah untuk meraih angka, puji Justine. Li Na lahir pada 26 Februari 1982 di Wuhan Hubei Cina. Pada 1999, Li mulai berkiprah di dunia tenis profesional. Ia mulai mengikuti turnamen tenis ITF, untuk nomor perorangan dan juga ganda putri. Di sepanjang tahun 1999, Li Na meraih tiga gelar juara tunggal dan tujuh ganda putri. Tahun berikutnya, koleksi gelar juaranya melonjak menjadi delapan di perorangan putri, termasuk turnamen ITF dengan hadiah 50 ribu dolar Amerika. Pada Maret hingga April 2000, Li Na secara beruntun menjadi juara di empat turnamen dengan hadiah 10 ribu dolar Amerika. Ia berhasil mengalahkan sejumlah petenis yang lebih dulu berkecimpung di dunia profesional seperti Flavia Penetta dari Italia, Tamarine Tanasugarn dari Thailand dan Yayuk Basuki dari Indonesia. Peringkat WTA Li Na pun melonjak ke posisi 136, yang membuatnya berhak tampil di turnamen tenis WTA di Tashkent, Uzbekistan. Meski langsung kalah di nomor tunggal putri, namun Li Na berhasil keluar sebagai juara di nomor ganda putri bersama Li Ting. Duetnya bersama Li Ting menghasilkan enam gelar juara pada tahun 2000. Pada Februari 2002, untuk pertama kalinya Li Na keluar sebagai juara di turnamen ITF dengan hadiah 75 ribu dolar Amerika di Midland, Amerika serikat. Namun, setelah itu Li Na hanya memainkan satu pertandingan yaitu pada turnamen di Dinan, Perancis sebelum menghilang selama dua tahun dari dunia tenis. Hingga kini, masih belum ada keterangan yang jelas tentang absennya Li Na dari dunia tenis selama dua tahun. Sejumlah informasi menyebutkan Li Na harus istirahat dengan alasan kesehatan sedangkan informasi lainnya menyebutkan Li Na meneruskan studinya di Universitas. Setelah 25 bulan absen, Mei 2004, Li Na kembali ke dunia tenis. Meski tidak lagi mempunyai peringkat WTA, Li mampu meraih kemenangan pada 26 pertandingan secara beruntun dan meraih tiga gelar juara. Dengan demikian, sudah 18 gelar juara tunggal putri yang sudah diraih Li Na sepanjang karirnya di dunia tenis profesional. Melalui hadiah wild card, Li Na diizinkan tampil di turnamen WTA di Guangzhou. Di luar dugaan, Li Na mampu keluar sebagai juara dan mencatatkan diri sebagai petenis Cina pertama yang mampu menjuarai turnamen tenis WTA. Pada 4 Oktober 2004, peringkat Li Na melonjak ke urutan 100 dunia. Pada 2005, Li Na tidak lagi mengikuti turnamen tenis ITF dan lebih fokus ke level WTA. Ia mencapai babak ketiga Australia Terbuka dan menjadi finalis di Estoril Open. Di akhir tahun, peringkatnya melonjak ke posisi 56 dunia. Awal tahun 2006, Li Na langsung tersisih di babak pertama Australia Terbuka dari Serena Williams. Namun, kemenangan Serena didapat dengan susah payah melalui pertarungan tiga set. Mei lalu, Li Na kembali gagal menjadi juara di Estoril setelah ditundukkan rekan senegaranya Zheng Jie di final. Namun, peringkat Li Na terus naik ke posisi 30 dunia. Ia menjadi petenis Cina pertama yang masuk dalam daftar unggulan di turnamen Grand Slam Wimbledon yaitu sebagai unggulan ke-27. Wimbledon lah yang menjadi saksi kehebatan Li Na yang mampu menundukkan unggulan kelima Svetlana Kuznetsova dan unggulan kesepuluh Nicole Vaidisova sekaligus menjadi petenis putri Cina pertama yang mampu lolos ke babak 8 besar di sebuah turnamen dengan kategori Grand Slam. Pelatih kepala tenis Cina Jiang Hongwei mengatakan, olahraga tenis di Cina memang lambat berkembang. Satu-satunya cara untuk mengembangkan olahraga tenis adalah dengan mengirimkan sebanyak-banyaknya pemain di turnamen WTA dan Grand Slam. Prestasi petenis putri Cina lebih maju dibandingkan petenis putra karena Asosiasi Tenis di Negeri Tirai Bambu itu memang lebih banyak mengucurkan dana untuk sektor putri. Li Ting dan Sun Tintian meraih medali emas di Olimpiade 2004. Zheng dan Yan Zi menjadi petenis putri Cina pertama yang meraih gelar juara di turnamen Grand Slam di Australia Terbuka dan Wimbledon. Keberhasilan Tim Fed Cup Cina lolos ke Grup Dunia semakin membuktikan kehebatan petenis putri Cina di kancah internasional. (Doddy Rosadi, KBR 68 H) __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> See what's inside the new Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/2_TolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY. ========================================================== Milis Tabloid BOLA Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED] ========================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/bolaml/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
