ROUND 13 - 06/08/2006 - HUNGARY, HUNGARORING
Circuit length: 4,381 km
Race distance: 70 laps (306,663 km)
Qualifying: 19.00 WIB --- live Global/Star Sports
Start: 19.00 WIB --- live Global/Star Sports
Anggap ini juga sebagai post-Hockenheim, walau lebih luas karena hanya
dalam empat hari terakhir ini banyak sekali berita yang mencuat. Mass
damper boleh dipake dulu, Villeneuve/Kubica, Webber/Wurz, Ross Brawn mau
istirahat, etc.
Hockenheimring memang mengejutkan. Ketika Ferrari finis 1-2 di Indy itu
dianggap kebetulan dan one-off, tapi Schumi melanjutkan dominasinya di
Magny-Cours walau tak diikuti Massa. Begitu "Indy 2006" terulang di
Hockenheim, banyak yang bilang Schumi tinggal tunggu waktu jadi juara
dunia lagi. Semudah itu, tapi bisa juga tak semudah itu.
Tak ada yang menyangka memang Renault yang menang 4 GP berurutan bisa keok
bak anak kemarin sore di tiga seri berikut. Sebaliknya untuk Ferrari.
Kayaknya ketika Renault menang di 4 GP berurutan itu Ferrari seperti ada
di musim 2005, tapi tiga seri berikutnya seperti melihat Ferrari 2004.
Fakta-fakta ini kian membuktikan F-1 memang olahraga paling susah ditebak,
biarpun kata orang secara teknis mudah menerka si ini bakal unggul, si itu
bakal keok. Ini juga yang membuat sisa 6 seri dijamin bakal seru.
MASS DAMPER
Mass damper tak dipakai Renault di Hockenheim karena takut hasil lomba
mereka dianggap gak sah bila banding FIA terhadap keputusan steward
diterima. Seperti apa makhluk bernama mass damper ini kayaknya sudah
banyak yang tahu. Mass damper ini sesungguhnya buatan orang Jawa, karena
kalau bikinan orang Batak mungkin disebut opung damper, dengan huruf e
dibaca seperti mengucapkan ember.
Alat ini terletak di hidung mobil sasis Renault R26. Dikembangkan sejak
akhir musim 2005 dan dinyatakan mampu menolong performa mobil hingga 0,2
sampai 0,3 detik lebih cepat per lap. Kita jelas percaya karena masa-masa
itu Renault sedang on fire.
Mass damper ini beratnya sekitar 9 kg dan dipasang secara vertikal di
antara dua per di hidung mobil itu. Tujuannya, membuat mobil stabil dan
seimbang terutama ketika melaju di lintasan bergelombang atau di atas
kerb. Juga untuk membagi beban mobil ketika melaju di bagian cepat dan
lambat. Karena mobil selalu seimbang itulah aerodinamika mobil akan selalu
efisien.
Karena kerb lebih banyak ada di sekitar tikungan (memasuki, persis, atau
saat keluar tikungan), maka bisa dimaklumi bila mass damper ini bekerja
maksimal di sana. Di era modern ini, lap time memang jauh lebih banyak
didapat di tikungan, bukan di trek lurus. Downforce dibutuhkan setiap kali
mobil masuk, melintas, dan keluar tikungan, tapi FIA membatasi downforce
itu lewat perubahan regulasi setiap tahun. Pembatasan2 ini yang membuat
tim-2 mencari akal bagaimana mencari "downforce" yang hilang itu dengan
tidak melulu mengandalkan sayap2 mobil. Salah satunya, mass damper inilah
solusinya. Dia tidak secara langsung menghasilkan downforce agar mobil
nge-grip, tapi dia membuat mobil stabil dan seimbang sehingga bisa tetap
nge-grip.
Tim-tim lain juga punya akal serupa, misalnya Ferrari menggunakan ballast.
Bedanya, ballast di Ferrari tidak bergerak sementara mass damper Renault
bergerak bersama per dan mengikuti permukaan trek. McLaren disinyalir
punya alat serupa, walau tak terekspos lebih detail.
GP Jerman adalah seri di mana Renault sekali-kalinya gak menggunakan mass
damper dan mereka mendapatkan hasil lomba terburuk sepanjang 2006. Menurut
Pat Symonds, itu bisa dimaklumi karena sasis R26 dibuat sudah dengan
konsep mass damper nempel di sana. Jadi ketika alat itu dicabut, ya
otomatis mobil jadi gak karuan.
Kenapa mass damper dilarang? Karena alat ini bergerak dan Regulasi Teknis
FIA melarang semua benda yang dapat mempengaruhi aerodinamika itu
bergerak, walau sebenarnya jelas-jelas alat ini bukan bagian dari
perangkat aerodinamika karena sama sekali tak berhubungan dengan angin.
MASALAH RENAULT
Dengan mass damper Renault memang digdaya, tapi dengan alat ini pula
mereka pernah tak berdaya. Kekalahan di Imola dan Nurburgring, lalu di
Indianapolis dan Magny-Cours membuktikan ada masalah tambahan yang membuat
mereka kewalahan. Ada dua masalah yang saling terkait satu sama lain,
pertama adalah ban Michelin dan kedua geometri suspensi belakang.
Di Hockenheim Renault memperkenalkan suspensi belakang terbaru itu.
Sayangnya, test-record alat ini masih terbatas. Jadinya, ketika dipakai
pertama kali di Hockenheim alat ini malah memperburuk penggunaan ban yang
bikin cepat aus. Renault memutuskan memarkir dulu untuk sementara alat ini
dan kembali ke selera asal. Alat itu bakal dites lebih intensif lagi
selepas GP Turki.
Soal ban, Michelin sebenarnya juga sudah menemukan solusi baru pada tes di
Jerez pra-Hockenheim. Tidak terucap apakah itu ban hard atau soft, tapi
dari gelagatnya Renault menggunakan ban hard di Hockenheim. Mereka sudah
tahu akan ada "proyek kerja keras" ban belakang, jadi mereka main aman
dengan memakai ban keras. Ban itu pastinya lama untuk mendapatkan grip
bagus, tapi dijamin awet. Eh yang ada malah aneh, sudah pakai ban keras
tapi kok ya tetap cepat aus. Ini praktek yang sungguh2 di luar teori.
Berarti memang ada kesalahan pada suspensi belakang di sasis R26 yang
membuat ban cepat sekali aus. Dan masalah itu sudah terdeteksi Renault.
Bandingkan dengan McLaren yang memakai 3-stop (ban soft) tapi sama sekali
tak mengalami masalah berarti pada keausan ban. Begitu juga dengan Honda.
Ada masalah, tapi tak terlalu menggerogoti penampilan.
Secara simultan, Renault dan Michelin berencana memperbaiki semua
kesalahan mereka. Memang tak boleh ada tes, tapi paling tidak bila secara
teori mereka sudah mengerti masalah, biasanya memang penampilan akan
membaik. Dengan fakta mass damper boleh digunakan lagi, Michelin yang
langsung tanggap, plus suspensi belakang yang "baik hati" tak jadi
dibuang, Renault memang dijamin bisa improve. Tapi, tentu yang menjadi
tanda tanya adalah seberapa hebat perbaikan itu relatif dibanding
kemantapan Ferrari-Bridgestone?
HUNGARORING
Mirip Monte Carlo. Trek ini butuh downforce tinggi, karena jarak
antar-tikungan begitu dekat dan trek begitu berliku. Bedanya, ruang
bernapas di Hungaroring lebih besar ketimbang di Monte Carlo. Kalau ada
kasus Safety Car keluar, mesin mobil tak perlu terlalu khawatir cepat
panas karena tak gak dapat pendinginan dari angin. Di sini angin tetap
bisa bertiup dari segala arah, tak terhalang gedung-gedung tinggi seperti
di Monte Carlo.
Bisa dibayangkan betapa bahagianya Renault mass damper diizinkan dipakai
lagi. Bila tidak, mereka benar-2 bak di neraka. Dengan trek berliku di
mana kerb jadi makanan utama dan mobil terus-terusan
ngerem-ngegas-ngerem-ngegas, kerja suspensi jelas berat. Mass damper jadi
perantara terbaik untuk mendapatkan grip.
Dengan aspal yang mulus, kemungkinan besar tim-2 ada yang memakai ban soft
untuk mengoptimalkan 3-stop. Apalagi, sama dengan Monte Carlo, menyusul
dipastikan sulit. Jadi posisi start akan menguntungkan dan itu bisa
diawali dari mengisi bahan bakar ringan selama di kualifikasi untuk dapat
grip bagus.
Cuaca di Hungaroring juga senantiasa panas. Fisik pembalap jadi perhatian
utama, bukan semata2 untuk mengendalikan mobil dengan tangannya, tapi
"mengendalikan otak" agar selalu punya konsentrasi tinggi. Kalau fisik
loyo, otak pun jadi ngaco.
Karena peran mesin tak terlalu dominan di sini, maka Hungaroring jadi
tempat paling pas untuk mengukur skill pembalap, taktik lomba, dan tentu
saja kejelian Bridgestone dan Michelin dalam mengeluarkan ban yang tepat
untuk dipakai.
TYRE WAR
Michelin (Renault, McLaren, Honda, Red Bull, BMW, Toro Rosso)
Bridgestone (Ferrari, Toyota, Williams, Midland, Super Aguri)
Bridgestone pasti berangkat dengan segudang harapan tinggi. Ban soft
mereka terbukti bisa dipakai selayaknya ban hard. Tahan lama tapi daya
cengkeram tetap terjaga dengan tingkat keausan relatif rendah. Ban hard
mereka pun sebaliknya punya sifat layaknya ban soft, tetap punya grip
bagus dengan durasi panjang. Tampaknya para pemakai Bridgestone tinggal
memperhatikan perilaku para pemakai Michelin selama free practice Jumat
dan Sabtu. Toh pemilihan ban dilakukan menjelang kualifikasi, jadi kartu
truf bisa dimainkan hingga deadline. Suhu panas tak lagi jadi kendala,
karena Magny-Cours dan Hockenheim sudah memberikan bukti. Di Hungaroring,
Bridgestone akan membawa ban dari keluarga soft.
Michelin mengandalkan hasil karya "on paper". Kesalahan terbesar di
Hockenheim dijamin tak terulang. Saya tetap melihat mereka bernafsu ingin
meninggalkan F-1 di akhir musim dengan high achievement. Kalaupun karya on
paper mereka belum bisa menandingi Bridgestone di Hungaroring dan
Istanbul, setelah itu mungkin mereka akan mati-matian. Masih ada 4 seri
tersisa untuk bangkit. Menurut Michelin, mereka membawa dan mempersilakan
tim2 pemakainya untuk memakai ban (soft) yang terlalu agresif di
Hockenheim. Itulah yang menyebabkan ban cepat aus, terutama ban belakang.
Tapi, ternyata disinyalir ban (hard) mereka pun cepat aus bila dipakai di
sasis yang tak pas seperti yang dilakukan oleh Renault. Dengan kondisi ban
belakang bakal jadi acuan utama lagi di Hungaroring, maka Michelin
dipastikan berjudi lagi. Menang, menang sekalian. Kalah, babak belur
(lagi) sekalian.
TEAM BY TEAM
RENAULT
1 Alonso
2 Fisichella
Sudah banyak diulas di atas.
McLAREN
3 Kimi
4 Pedro
Jangan heran bila Kimi diskenariokan dapat pole lagi. Pengakuan bahwa dia
dpt pole di Hockenheim karena kesalahan pengisian bahan bakar mungkin
bakal diulanginya mengingat grid position amat penting di Hungaroring.
McLaren sudah menegaskan mereka bakal menyerang lagi sejak awal, walau
belum tentu berbuah kemenangan, persis seperti di Hockenheim. Kimi jelas
jadi pemeran utama. Tahun lalu pun dia menang, walau bedanya dengan
bertahan dulu baru menyerang kemudian. Sasis MP4-21 jelas jauh membaik
dari paruh pertama. Tingkat reliability Mercedes pun menunjukkan gejala
positif.
Apa pun skenario yang bakal dilakukan oleh McLaren terhadap Kimi dan
Pedro, itu tetap bakal mempengaruhi peta Alonso vs Schumi dan Renault vs
Ferrari. McLaren pasti tak ingin ikut campur, tapi dipastikan dipaksa ikut
campur. Tinggal lihat siapa yang menangis, kalau terus-terusan seperti di
Hockenheim, ya Alonso/Renault yang sedih.
FERRARI
5 Schumi
6 Massa
Tak ada challenge yang lebih tinggi bagi seorang Schumi selain sisa 6 seri
ini. Dia sudah sukses memangkas 14 poin Alonso di tiga seri terakhir dan
kini ia punya kans untuk jadi juara dunia dengan memenangi semua seri
tersisa, di mana pun Alonso finis. Soal fokus dan tetap berpijak di bumi,
Schumi paling jago berkampanye untuk itu. Dia, Ferrari, dan Bridgestone
sudah mati-matian membalikkan peta kekuatan dan kini akan mati-matian pula
mempertahankannya hingga tujuan tercapai. Memang Schumi bisa berjuang
sendiri sekarang, tanpa bantuan Massa. Tapi, mustahil Massa tak bisa
membantu melihat mobil Ferrari sekarang yang bisa menang kapan dan di mana
pun. Di Hungaroring, skill Massa jadi penentu. Kalau dia sama jagonya
dengan Schumi, Ferrari akan lenggang kangkung lagi dan itu bakal menolong
Schumi memangkas poin Alonso. Berkaca dari Monte Carlo di mana penampilan
Massa so-so, mungkin saja dia gagal. Tapi, semua sudah membaik sekarang.
Sasis bagus, ban oke, dan Massa pun sudah kian nyetel dengan apa yang
dimaui Ferrari.
Ross Brawn bilang, sasis 248 F1 dari pertama dibuat sudah kencang. Dengan
pengembangan terbaru sasis ini bertambah kencang, tinggal ban Bridgestone
yang belum nge-klik. Sekarang sudah nge-klik dan menurut dia paket mereka
akan sangat kuat di sisa musim. Sayangnya, kalau trend ini berlanjut dan
Schumi juara dunia lagi, tahun depan Brawn mungkin akan istirahat
(sabbatical). Kayaknya dia capek di F-1. Semua titel Schumi diraih bersama
Brawn. Dan ia hanya semusim gak bareng Schumi, itu terjadi pada 1996 tahun
perdana sang maestro di Ferrari. Karena Hungaroring juga berpotensi
memperlihatkan hasil lomba berbekal strategi jitu, akhir pekan ini
mahakarya Brawn bisa terlihat lagi.
Tahun lalu, dengan mobil "payah" saja Schumi bisa menempati pole dengan
gap 0,9 detik terhadap JPM. Tahun ini kalau dia mau, dia bisa melakukan
itu lagi dengan paket perang yang jauh lebih baik.
TOYOTA
7 Ralf
8 Trulli
Performa mereka sedang menanjak, tapi nasib masih belum mengikuti. Ralf
dan Trulli silih berganti dapat nasib sial walau mereka sudah punya race
pace yang bagus untuk selalu dapat poin. Beruntung bagi Toyota tim yang
hanya berselisih tiga poin di klasemen konstruktor, BMW, juga kerap dapat
nasib buruk. Kalau mereka memilih opsi pakai 3-stop, posisi start dijamin
"berantakan" karena kedua pembalap punya rapor bagus belakangan ini di
sesi kualifikasi.
WILLIAMS
9 Webber
10 Rosberg
Kabar mengejutkan, Webber terdepak dan Alex Wurz, test driver mereka yang
terakhir kali menjadi pembalap reguler tahun 1999, kembali dapat
kesempatan itu tahun depan. Wurz tampaknya menjadi pilihan tunggal Frank
Williams setelah Webber menolak perpanjangan atau (diputus) kontraknya dan
(sepertinya) memilih opsi untuk mengisi kursi kosong di Renault
sepeninggal Alonso. Webber adalah anak asuh Briatore dan dia bisa kapan
saja memakainya. Kebetulan, pengesahan Kimi ke Ferrari memang kian santer
setelah Jean Todt kelepasan ngomong pasca-Hockenheim bahwa Kimi adalah
pembalap favoritnya.
Rosberg jelas menjadi proyek jangka panjang Williams. Frank akan mati2an
mempertahankan anak ini. Tahun ini dia buat kesalahan, seperti di
Hockenheim, tapi itu wajar karena dia rookie. Kalau mesin Cosworth
reliable, mestinya memang duet Webber-Rosberg sudah menyumbangkan lebih
dari 10 poin yang mereka dapat sekarang. Ban Bridgestone yang lagi
menggila juga bisa ikut merusak pasaran di Hungaroring. Ingat, di Monte
Carlo Webber juga tampil sama hebatnya seperti ketika di Hockenheim lalu.
Jadi, mari bersiap melihat Webber galak lagi, sebelum (mungkin) dipaksa
berhenti akibat reliability lagi.
HONDA
11 Rubens
12 Button
Balapan ke-300 tampaknya memberi motivasi lebih pada Honda di Hockenheim.
Mereka jauh membaik ketimbang seri-seri sebelumnya. Button mestinya bisa
dapat podium bila tak mengalami kendala pada ban. Barrichello mungkin gak
dapat podium, tapi dia bisa ada di 8 besar kalau mesin mobilnya gak
meledak. Tapi, masalah terbesar Honda adalah start yang buruk. Mobil
mereka dengan mudah dilewati lawan, bukan satu-satu, dua sekaligus bahkan.
Di Hungaroring, sebagus apa pun posisi start, tapi kalau startnya buruk
posisi itu akan hilang dengan segera dan menangisinya di akhir lomba
karena susah untuk kembali menyusul.
RED BULL
14 DC
15 Klien
Klien cepat dapat poin (di Bahrain) tapi kemudian menunggu lama karena
baru dapat lagi di Hockenheim. Ia ingin itu tak terulang, dalam arti kini
mesti dapat poin lagi dalam waktu singkat. DC tak soal dapat poin, ia cuma
ingin ditabrak lagi dan sesegera mungkin dapat kesempatan menjajal mobil
buatan Newey lagi.
BMW-SAUBER
16 Heidfeld
17 Kubica
Polandia akhirnya punya pembalap F-1. Gara-2 tabrakan di Hockenheim,
Villeneuve memilih gak ikut balapan dulu. Bisa dimaklumi karena tantangan
di Hungaroring amat berat bagi mereka yang gak punya fisik prima. Jadilah
Robert Kubica ketiban rejeki. Pembalap 21 tahun itu bakal menemani
Heidfeld sepanjang Sabtu dan Minggu, dan tidak lagi hanya pada hari Jumat
menjadi "free practice driver". Hari Jumat itu, Kubica sering menempati
P1. Tapi pasti kondisi saat itu adalah nothing to lose. Mesin mobilnya
mungkin dipasang pada rev tinggi, ban pun tak perlu takut kehabisan. Kini,
dengan jumlah ban terbatas dan mobil harus dipakai hingga Minggu, ia
mungkin akan mengikuti jejak regular driver yang lain di hari Jumat.
MF1
18 Monteiro
19 Albers
Yang diributkan tim-tim lain, yang kena ban malah Midland. Sayap mereka
terbukti fleksibel dan karenanya hasil lomba Monteiro dan Albers di
Hockenheim dicoret. Sayap itu sesungguhnya tak berpangaruh banyak, jadi
kalau sayap itu diganti pun tak apa2 bagi mereka.
TORO ROSSO
20 Liuzzi
21 Speed
Kini mulai bangga bisa bertarung head-to-head dengan saudara tua, Red
Bull. Masalahnya, bisakah hasil di Hockenheim itu terulang di trek yang
jauh berbeda, Hungaroring. Secara tim, Toro Rosso kian matang, terbukti
dengan mampu membuat mobil Speed yang sudah hancur di kualifikasi untuk
siap pakai saat lomba dan bisa finis di urutan 12. Good job.
SUPER AGURI
22 Takuma-san
23 Sakon-san
Memanfaatkan race weekend layaknya test days bagi sasis baru mereka, SA06.
Sebuah langkah logis mengingat bukan cuma sasis itu yang belum matang,
tapi juga Sakon Yamamoto yang tak banyak melibas race distance di
Hockenheim. Masalah reliability yang menghantam paket SA06 mungkin terjadi
lagi, tapi itu yang malah justru diharapkan bagi sasis baru mengingat
mereka toh tak punya beban apa-apa.
from many sources,
arief k.
HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.
==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL
PROTECTED]
==========================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bolaml/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/