--- In [email protected], "Arif" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Eh kemaren gw liat lagi di astro pas mu vs porto di amsterdam baru
omong2 soal Astro :
Dari Kompas dgn judul asli : Gaji Riza Primadi Rp 125 juta
TIDAK mudah mendapat posisi dengan "gaji" sekitar Rp 50 juta per
bulan dan dapat mobil dinas BMW seri 3 di Tanah Air saat ini,
meskipun itu sudah biasa untuk jabatan direktur di media televisi.
Banyak yang menduga, pemilik jabatan itu pastilah berusaha memegang
erat kedudukannya di zaman susah ini.
Tapi hal itu tidak berlaku bagi Riza Primadi, 44 tahun. Direktur
Pemberitaan dan Humas Trans TV ini malah pindah ke Astro TV,
perusahaan televisi berlangganan milik Malaysia, terhitung awal
Oktober lalu.
"Saya mencari tantangan baru. Selama ini saya bekerja di perusahaan
lokal, sekarang go regional," kata Riza. Lalu dia menambahkan, dalam
hidupnya dia kerap terkena siklus lima tahunan. Ya, lima tahun kerja
lalu pindah ke tempat lain.
Riza mengakui kedekatannya dengan Chaerul Tanjung, pemilik Trans
TV, pertama-tama cukup memberatkannya berpisah dengan Trans TV yang
ikut dibangunnya sejak awal berdiri. Tetapi setelah dipikir ulang
dia memberanikan diri untuk bicara dan pindah. Apa karena faktor
gaji?
"Tentu itu juga menentukan. Kalau sekadar dua kali lipat, saya tidak
mau pindah," kata Riza, yang menolak menyebutkan angka, namun
menurut ancar-ancar Warta Kota, di tempat baru Riza akan mendapat
take home pay tidak kurang dari Rp 125 juta perbulan.
Riza menceritakan proses rekrutmen dirinya oleh perusahaan milik
jutawan Malaysia, Anand Krishnan, itu berlangsung cepat, tidak
sampai dua minggu. Suatu hari dia diminta memberikan resume
curriculum vitae (CV)-nya, beberapa hari kemudian diwawancara, lalu
diajak melihat kantor di Kuala Lumpur, dan langsung diterima.
Hampir lima tahun dia bekerja di media cetak dan di BBC London, lalu
sekitar lima tahun di SCTV dan lima tahun di Trans TV. Apakah juga
lima tahun di Astro TV? "Wah nggak tahu deh," katanya sambil ketawa.
Menurut informasi Riza dikontrak untuk masa kerja tiga tahun.
Posisinya nanti tetap sebagai Direktur Pemberitaan di anak
perusahaan Astro TV yang bergerak dalam pembuatan berita. Berita-
berita itu kemudian disuplai ke pelanggan Astro TV bersama dengan
paket lainnya seperti hiburan sinetron lokal Indonesia. Inilah yang
dijadikan nilai tambah dibandingkan dengan pay television lain yang
umumnya cuma menyajikan film, musik, dan terakhir saluran sepakbola.
Riza sebenarnya seorang sarjana kimia lulusan Fakultas Ilmu Pasti
dan Ilmu Alam (kini MIPA) Universitas Indonesia. Tetapi setamat
sekolah lelaki kelahiran Jakarta, 7 September 1961, ini malah
menjadi wartawan di Harian Pelita dan kemudian Jawa Pos, masing-
masing selama dua tahun. Tahun 1990 dia bekerja di Seksi Indonesia
BBC London. Saat itu dia merangkap menjadi pengulas sepak bola di
Jawa Pos. Kebetulan pula rumahnya tidak jauh dari markas klub
sepakbola West Ham United di London Selatan. "Saking dekatnya, kalau
gol teriakan penonton pasti kedengeran ke rumah," ucapnya.
Dalam bekerja, Riza mengaku terpengaruh dengan etos para pemain West
Ham. Menurutnya, secara tim West Ham sebenarnya tidak menonjol
tetapi mampu mencetak pemain handal, seperti Frank Lampard, Joe
Cole, dan Rio Ferdinand.
"West Ham itu entah di divisi satu atau di divisi utama, sebagai
tim main selalu penuh semangat. Pemain tampil habis-habisan, kerja
keras. Pertama-tama bukan bagi tim, tetapi bagi diri mereka sendiri.
Kalau main bagus, bisa saja kelak direkrut tim lain yang lebih
besar," ujar Riza.
Semangat itu pula yang mendasari filosofi kerja Riza: selalu
berusaha menjadi yang terbaik di bidangnya. Setiap hari yang
dilewati adalah upaya untuk mencapai hal terbaik, tidak ada waktu
bermalas-malasan atau berpuas diri. Sewaktu kembali ke Indonesia
Riza bekerja di SCTV.
Bersama Karni Ilyas dia termasuk ikut membangun stasiun televisi itu
menjadi yang terbaik dalam pemberitaan lewat Liputan 6, mampu
mengalahkan program Seputar Indonesia RCTI. Di Trans TV pun dia
merasa program beritanya (Reportase) sudah setara dengan Liputan 6
ketika dia tinggalkan. "Ratingnya sudah sama, meski citranya kami
masih kalah," ungkap Riza.
Dengan masuk ke Astro TV, Riza mengatakan dia ingin seperti pemain
sepakbola Selangor FC asal Indonesia, Bambang Pamungkas dan Elie
Aiboy, yang berhasil menjadi yang terbaik di Malaysia. "Mereka luar
biasa. Dan saya terpacu untuk menyamai prestasi mereka dalam bidang
lain, yaitu televisi," ujar suami psikolog Risa Kolopaking dan ayah
tiga anak ini. Artinya berita-berita yang akan ia garap akan lebih
unggul dari stasiun televisi pesaing di Tanah Air, sebuah ancaman
yang harus diperhatikan para kompetitornya.
Anak-anak diajak ke Kuala Lumpur? "Nggak. Mereka sudah nyaman di
sekolah baru di kawasan Timur Jakarta. Saya saja yang bolak-balik
dari Kuala Lumpur setiap akhir pekan," katanya.
Pekerjaannya sendiri menuntut Riza menjadi penglaju Jakarta-KL.
Menurut aturan yang ada di Indonesia, televisi asing tidak boleh
menyiarkan berita. Oleh karena itu berita-berita eks Indonesia itu
sebelum diterima pemirsa pelanggan Astro TV terlebih dahulu akan
dikirim ke markas Kuala Lumpur dan baru dari sana diteruskan ke
Jakarta.
Nggak repot? "Dengan teknologi, jarak tidak masalah. Hampir semua
televisi berita melakukan itu. Paling-paling biaya karena semua
pengiriman harus melalui satelit agar mutu gambarnya bagus,"
ujarnya. (hcb/luc)
HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.
==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL
PROTECTED]
==========================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bolaml/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/