Rasisme dalam Sepak bola

Cabang olahraga paling populer di muka bumi itu pernah dinominasikan menjadi
salah satu kandidat penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2001 oleh Akademi
Swedia. Menurut *International Herald Tribune*, sepak bola dipilih karena
dinilai bisa menjembatani saling pengertian antarbudaya.

Pilihan Akademi Swedia itu sebenarnya tak keliru. Anggaran Dasar Federasi
Sepak Bola Internasional (FIFA) pun telah mengasaskan hal yang sama. Menurut
anggaran dasar itu, sepak bola bertekad menjadi sarana melunturkan semua
prasangka. Tapi, di dunia sepak bola sendiri, cita-cita mulia itu ternyata
menjadi paradoks --kalau bukan parodi-- kenyataan sehari-hari.

Stadion-stadion sepak bola di Eropa kini menjadi tempat subur bagi kebencian
rasial. Kaum ekstremis berpikiran picik seolah telah berhasil meracuni
penonton yang hadir. ''Wajah konyol rasisme kini muncul di semua tempat,''
kata Lennart Johansson, Presiden UEFA --Asosiasi Sepak Bola Uni Eropa. ''Dan
sayangnya, kita tak cukup berupaya mencegah perkembangannya.''

Sinyal yang dilontarkan Johansson bukanlah isapan jempol. Malahan, kekerasan
rasisme tak cuma berhenti di dalam stadion. Pada awal 2001, di sebuah jalan
kota Oslo, Norwegia, seorang pesepak bola penuh bakat berusia 15 tahun
dikejar sekelompok pemuda, dan ditikam hingga mati. Benjamin Hermansen, anak
muda itu, dibunuh hanya karena ia berdarah Afrika dan berani bicara
menentang rasisme.

Setelah penikaman Hermansen, tak kurang dari 30.000 orang, termasuk Raja dan
Perdana Menteri Norwegia, melakukan demonstrasi di jalanan kota Oslo,
mengutuk penikaman itu. Terbunuhnya Hermansen membuat goyah sendi-sendi
persepakbolaan Norwegia. Maklum, negeri itu tengah berharap, kehadiran
pemain berdarah Afrika dan Asia bisa mengangkat prestasi tim nasionalnya.

''Kami punya dua pemain berbakat, dari Ghana dan Maroko, serta satu lagi
yang lebih muda dari Pakistan,'' kata Havard Lunde, direktur
*marketing*klub sepak bola Valerenga --klub asal Hermansen. Di sekolah
sepak bola
Valeranga, kini berkumpul ratusan pemain berbakat dengan 70 kebangsaan.
''Jadi, kami harus bekerja keras menentang kebencian rasial semacam ini,''
kata Havard.


*Ku Klux Klan Masuk Stadion*

TAK hanya masyarakat sepak bola Norwegia yang mengambil langkah. Dua pekan
lalu, pada 16 Maret, England's Member Club, sebuah kelompok *fans* sepak
bola, dinyatakan terlarang oleh Pemerintah Inggris. Kelompok dengan anggota
sekitar 30.000 orang ini dinilai selalu mengampanyekan ''huliganisme'' dan
rasisme setiap melawat ke luar negeri menemani tim nasional.

Pembubaran organisasi ini diputuskan oleh FA, Persatuan Sepak Bola Inggris.
''Penyalahgunaan sepak bola harus dihentikan,'' kata Adam Crozier, *Chief
Executive* FA. Tindakan ini diambil untuk meniadakan pengaruh British
National Party, Combat 18, dan unsur rasis lain yang selama ini menyusup
sebagai penonton pada pertandingan-pertandingan tim nasional Inggris di luar
negeri.

Inggris adalah salah satu negara Eropa yang mengalami skala kekerasan dan
kebencian rasial paling tinggi. Sebuah laporan bersama Departemen Dalam
Negeri dan FSA --Asosiasi Penonton Sepak Bola Inggris-- melaporkan
peningkatan kultur xenofobia di kalangan penonton sepak bola Inggris.
''Mereka menunjukkan persepsi yang keliru tentang patriotisme,'' tulis
laporan itu.

Paul Thomas, Koordinator Internasional FSA, misalnya, mencontohkan
pertandingan persahabatan antara Inggris dan Prancis di Stade de France,
September lalu. Umpatan-umpatan rasis dari penonton asal Inggris sangat
mengganggu. Umpatan itu tak hanya ditujukan kepada para pemain Prancis,
melainkan juga kepada pemain Inggris seperti Sol Campbell --yang kebetulan
berkulit hitam.

''Level rasisme memang makin memburuk dua tahun belakangan ini,'' kata Paul
Thomas. Musim gugur lalu, Andy Frain dan Jason Mariner dijatuhi hukuman
penjara tujuh dan enam tahun. Aksi kampanye rasisme dua pemuda pengunjung
setia pertandingan sepak bola ini tertangkap basah kamera tersembunyi.
Ternyata, keduanya adalah pengurus kelompok rasis Combat 18 dan Ku Klux
Klan.

Tapi ternyata bukan Inggris, melainkan Italia-lah yang dijuluki sebagai
pusat kekerasan rasial sepak bola di Eropa. ''Dibandingkan dengan bagian
dunia mana pun, rasanya kami memiliki stadion-stadion yang paling tak
beradab dan paling tak bersahabat,'' kata Arrigo Sacchi, pelatih yang
membawa Ruud Gullit dan Frank Rijkaard bermain di *the dream team* AC Milan.


*''Monyet Hitam'' vs ''Gipsi Sialan''*

ARRIGO Sacchi tahu persis apa yang dialami kedua pemainnya itu. Penggemar
sepak bola mana pun tahu, betapa Rijkaard dan Gullit telah menyuguhkan
permainan sepak bola kelas satu kepada publik Italia. Toh, Sacchi tak habis
mengerti, mengapa kedua pemain Belanda berkulit hitam asal Suriname itu
masih selalu mengalami perlakuan rasis yang kasar di stadion-stadion sepak
bola Italia.

''Di stadion-stadion kami, budaya olahraga nyaris tak lagi tersisa,'' kata
Sacchi. Tak hanya Sacchi yang merasakan atmosfer rasisme yang buruk di
stadion-stadion Italia. Persatuan Sepak Bola Inggris, FA, malah secara resmi
pernah mengajukan protes keras pada UEFA, atas perlakuan yang diterima salah
satu pemainnya di Stadion Delle Alpi di Turin.

Tatkala bermain dalam pertandingan persahabatan melawan tim nasional Italia,
November 2000, penyerang tengah kesebelasan Inggris yang berkulit hitam,
Emile Heskey, mengalami perlakuan tak mengenakkan. Sepanjang pertandingan,
Heskey tak henti-henti memperoleh cemoohan rasial yang tak pantas dari para
penonton. Setiap ia memperoleh umpan, sorak-sorai rasial itu malah makin
membahana.

Sepekan sebelum kasus Heskey muncul ke permukaan, sebuah kasus lain yang
lebih menghebohkan terjadi. Hingga usai pertandingan Liga Champions antara
klub Italia, Lazio, dan klub Inggris, Arsenal, Sinisa Mihajlovic, pemain
bertahan Lazio asal Yugoslavia, dan Patrick Vieira, pemain tengah Arsenal
asal Prancis, terlihat masih terus saling *ngotot* hampir adu pukul.

Keributan yang dimulai di tengah pertandingan itu tak beroleh sanksi apa pun
dari wasit. Tapi, belakangan UEFA menghukum Mihajlovic dengan larangan
tampil di dua pertandingan, karena terbukti mengeluarkan hinaan rasis kepada
Vieira. Kepada pers, Mihajlovic, yang separuh Serbia separuh Kroasia,
mengaku mengumpati Vieira.

''Saya cuma memanggilnya *black shit*, dan tak memanggilnya monyet hitam,''
kata Mihajlovic. Menurut Mihajlovic, Vieira lebih dulu mengumpatnya sebagai
gipsi sialan. ''Tapi, ini kan bagian dari sepak bola,'' katanya. Tak hanya
Mihajlovic yang menerima sanksi: UEFA juga mendenda Lazio US$ 40.000 karena
perilaku rasis pendukungnya pada pertandingan di Stadion Olimpico, Roma,
itu.


*Klub Diktator Mussolini*

PENDUKUNG klub Lazio memang sudah lama dikenal sebagai kubu paling rasis di
antara seluruh kubu pendukung klub-klub Seri A di Liga Italia. Maklum saja,
dulu klub ini adalah klub kecintaan diktator Italia, Benito Mussolini. Tak
mengherankan bila pendukung fanatik kesebelasan ini enak saja menghina
pemain Lazio yang menurut mereka tak pantas mewakili klub kesayangannya.

Aron Winter, pemain nasional Belanda, adalah pesepak bola kulit hitam
terakhir yang bermain bagi Lazio. Ketika pada 1992 Aron Winter datang ke
Lazio, ia disambut sebuah spanduk besar yang dengan sangat menghina
menyebutnya ''Yahudi Negro''. Para pendukung Lazio ini jelas tak cukup
mengenal Winter. Ia sama sekali bukan Yahudi, sebab nama tengahnya adalah
Mohammed.
Liverani pun sempat mendapat tentangan keras dari tifosi Lazio, ketika
manajemen Lazio merekrutnya, langkah inipun agak dipaksakan untuk menepis
citra buruk Lazio sebagai Klub rasis, begitu juga dengan Manfredini, padahal
kedua pemain ini mempunyai darah keturunan Italia

Pendukung Lazio paling ekstrem adalah kelompok ''Irriducibili'' (Yang Tak
Tersentuh). Aksi kelompok ini jelas menunjukkan kebencian pada kaum kulit
hitam dan bangsa Yahudi. Pada *derby* (pertandingan klub satu kota) antara
Lazio dan AS Roma, spanduk yang dibawa Irriducibili bertuliskan: ''Auschwitz
adalah negerimu --oven adalah rumahmu''.

Boleh jadi, atmosfer kebencian rasial semacam inilah yang membuat Cafu,
pemain belakang AS Roma asal Brasil, ingin segera hengkang dari Italia.
''Sudah tak ada lagi kegembiraan dalam sepak bola di sini,'' katanya. ''Jika
menemukan klub yang lebih tenang daripada Roma, saya akan langsung pindah.''
Ia punya alasan kuat untuk merasa tak tenang di Roma.

Sering, tanpa alasan yang jelas, mobil yang dikendarai Cafu sekeluarga
ditimpuki orang. Yang disesalkan Cafu, anaknya yang masih kecil harus ikut
menyaksikan penghinaan rasial yang dialaminya. ''Pokoknya, saya berharap tak
akan bertemu lagi dengan orang picik yang selalu menghina para pemain
berkulit hitam,'' katanya.

Saking buruknya atmosfer rasisme di stadion-stadion sepak bola Italia, Paus
Yohannes Paulus II sampai merasa perlu berkomentar mengutuk aksi-aksi itu.
Ketika menerima audiensi beberapa pesepak bola ternama yang bermain di Seri
A Liga Italia, Paus meminta penggemar sepak bola agar tak menjadikan
dukungan pada klub berubah menjadi hinaan bagi pihak lain.


*Kebangkitan Fasisme dan Ultrakanan*

''SUNGGUH sayang jika semangat berkompetisi hancur karena perbuatan tak
terpuji,'' kata Paus. Toh, ada yang menganggap kekhawatiran terhadap
kebencian rasial ini terlalu berlebihan. Salah satunya adalah Dino Zoff
--mantan kiper legendaris Italia yang kini melatih Lazio. Musim lalu,
sebagai Asisten Presiden Lazio, Zoff terpaksa membayar denda akibat aksi
pendukung klubnya.

Lazio didenda US$ 2.250 karena Irrudicibili melakukan pelecehan terhadap
Bruno N'Gotty, pemain belakang berkulit hitam yang bermain untuk Venesia.
''Saya tak tahu, apakah hal seperti itu bisa disebut rasisme,'' katanya,
''Ini kan cuma cara sekelompok orang membuat lelucon. Mereka bisa saja
memilih orang yang terlalu tinggi, terlalu pendek, atau berkulit hitam.''

Tapi, menurut Michael Fanizadeh, periset di Vienna Institute yang juga
koordinator gerakan Football Against Racism di Eropa, kebencian ras yang
terbaca di stadion-stadion Italia memang benar-benar mengkhawatirkan. Ia
menunjuk pertandingan terakhir yang disaksikannya, antara AS Roma dan Inter
Milan, di Stadion Olimpico di musim 2001

Apa yang diamati Michael Fanizadeh adalah fakta bahwa suara-suara sumbang
bernuansa rasis yang ditujukan pada Clarence Seedorf, pemain Belanda yang
bermain untuk Inter, tak hanya datang dari kaum ultrakanan, pria-pria *skin
head*. ''Yang jadi masalah, umpatan-umpatan itu juga datang dari banyak
wanita dan anak-anak,'' katanya.

Boleh jadi, kebangkitan rasisme di stadion-stadion sepak bola Italia adalah
cermin dari maraknya kembali fasisme di negeri ini. Partai Aliansi Nasional,
penerus partai Benito Mussolini, misalnya, mulai merebut perhatian khalayak
muda. Partai ini malah sudah pernah memerintah ketika ikut dalam koalisi
pemerintahan Perdana Menteri Silvio Berlusconi, beberapa tahun lalu.

Di Eropa, partai-partai ultrakanan memang perlahan-lahan mulai memperoleh
suara signifikan dalam pemilihan umum. Di Prancis, Italia, dan Jerman,
partai-partai ekstrem kanan ini bisa memperoleh sekitar 10% suara. Sementara
di Austria, Partai Kebebasan pimpinan Joerg Haider malah mengejutkan dunia
karena berhasil merebut tampuk kekuasaan, tahun lalu.


Thenkyu buat ATHOZ......!!!!
sorry sepenggeal tulisan lu di blog gw kopi paste yaaakkkkkkk......




- Best Regard's -


[Non-text portions of this message have been removed]



HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke