---------- Forwarded message ----------
From: arif sugiarto <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sep 13, 2006 9:48 PM
Subject: Balasan: Re: [arema-l] PSSI BANGSAT !!!
To: [EMAIL PROTECTED]

Membaca surat ini jadi ingat bagaimana AREMA dulu sebelum dipegang oleh
Bentoel. Kita kera-kera ngalam sampai urunan buat bayar gaji pemain supaya
AREMA tetap ada sampai sekarang. Memang negeri ini semakin lama semakin
kejam. Seperti kata pepatah Indonesia tanah airku, tanah tak punya, airpun
kita beli. Bagaimana sepakbola kita bisa maju kalau sistem kompetisi paling
bawah diadakan dengan terpaksa hanya untuk mengejar program tanpa adanya
dana. Sungguh ironis banyak orang menginginkan sepakbola negeri ini untuk
maju tapi kalau diharapkan sumbangannya buat memajukannya tidak ada yang mau
(PURA-PURA TIDAK TAHU). Hal ini bukan hanya salah PSSI yang memaksakan
programnya supaya jalan tapi bagaimana perhatian pemerintah juga kok
kayaknya tutup mata. Masak mereka yang harusnya bisa menjadi cikal bakal
pemain hebat sudah dihadapkan dengan keterbatasan. KALAU KITA INGIN MAJU
MODALNYA BUKAN HANYA SEMANGAT BOSS.

AriesmaniA <[EMAIL PROTECTED]> menulis:          PSSI BAJINGAN...GAK
PUNYA RASA KEMANUSIAAN...ISINE WONG SING DOYAN KORUPSI...SETTTANNN...


key chenk <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Tim Jateng U-15 Nginap Di Bedeng

[image: as_logo_pssi.gif] Pernah membayangkan sebuah tim sepakbola tinggal
di dalam bedeng, dalam mengikuti satu kejuaraan? Inilah yang dialami tim
Jawa Tengah, yang ambil-bagian dalam kompetisi PSSI di bawah usia 15 tahun.
Sebanyak 25 pemain, 2 ofisial dan 8 orangtua pemain –yang tiga diantaranya
ibu-ibu—rela tinggal bersama di sebuah bedeng sejak Minggu (10/9) lalu.

Hal ini dilakukan agar para pemain bisa tetap ikut kompetisi U-15 PSSI yang
digelar di lapangan latihan timnas PSSI, kompleks Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta. Bedeng yang biasanya ditinggali kontraktor dan karyawan
yang memborong renovasi stadion utama Gelora Bung Karno, itu letaknya di
dekat kantor sekretariat PSSI.

Menurut Kairun, manajer tim U-15 Jateng itu, tinggal di bedeng adalah
pilihan terakhir. "Kami mau tidur di mana lagi? Kami tak punya dana untuk
tidur di hotel atau wisma seperti tim peserta lain. Karena anak-anak ingin
sekali ikut kompetisi ini, ya, kami tak punya pilihan lain," kata Kairun
saat ditemui rombongan wartawan koordinatoriat PSSI, Senin (11/9) sore
kemarin.

Untuk tinggal di bedeng berdinding dan beralas papan itu, mereka juga harus
membayar, meski jumlahnya tentu tak sebesar kalau harus menginap di wisma
atau hotel. Kata Kairun, setelah negosiasi dengan penanggung-jawab bedeng
–yang katanya juga merasa kasihan pada mereka- untuk tinggal di bedeng
sampai kompetisi selesai itu mereka harus membayar Rp 700.000. "Itu untuk
sekedar ganti biaya listrik dan air saja," kata Kairun.

Untuk keperluan makan sehari-hari, untungnya, rombongan tim Jateng ini bisa
memenuhinya dari warung nasi sederhana yang memang sudah ada sejak renovasi
SUGBK dimulai setahun silam. "Untuk jatah makan anak-anak itu,
Rp.20.000/hari/orang,"
kata Kairun. Di luar itu, tiga ibu dari orangtua para pemain kemarin siang
berininsiatif memasak bubur kacang hijau.

Rombongan Jateng ini tinggal bersama di sebuah bedeng besar dengan tiga
ruangan. Tetapi, satu ruangan khusus ditempati oleh tiga ibu. Satu ruangan
lagi untuk dua ofisial, dan enam lima orangtua laki-laki. Sisa 25 orang
lainnya, yakni para pemain, berada dalam satu ruangan tersisa. Bisa
dibayangkan bagaimana situasinya kalau malam hari, ketika anak-anak yang
masih belia itu bersiap tidur..

"Sebelum berangkat ke Jakarta kami sudah berusaha mencari dana ke
sana-kemari. Dari sekian banyak proposal permintaan dana yang kami sebarkan,
ternyata hanya satu yang menghasilkan, yakni dari Konida Jateng. Meski tidak
banyak, hanya Rp 1 juta, tetapi syukur masih dapat," kata Kairun. Dari
pengda PSSI Jateng, mereka hanya dapat jawaban, tidak ada dana.

Jadi, untuk tetap bisa berangkat ke Jakarta dan mengikuti kompetisi U-15
PSSI itu, Kairun terpaksa meminta kerelaan para orangtua pemain untuk
bersama-sama menanggungnya. Untungnya, orangtua para pemain setuju, meski
sebagian besar harus kelimpungan, dan mencari pinjaman ke sanak keluarga
atau kerabat. "Masing-masing orang tua pemain membayar Rp 1.200.000," papar
Kairun.

Setelah dana terkumpul, mereka akhirnya memutuskan tetap berangkat ke
Jakarta, walau masih dibayang-bayangi ketidaktahuan akan menginap di mana.
"Dari Semarang, rombongan kami berangkat naik bus Sabtu malam dan sampai ke
Jakarta Minggu pagi. Biaya naik bus Jatimulya saja sudah menghabiskan dana
Rp 7.800.000," cerita Kairun.

Menurut Kairun, 25 pemain tim Jateng yang ambil-bagian dalam kompetisi U-15
PSSI ini berasal dari dua klub, yakni Satria dan Jatisamba, Salatiga. "Niat
dan tekad mereka besar sekali untuk bisa ikut kompetisi ini," jelas Kairun.

Niat dan tekad yang besar itu juga mungkin dimiliki oleh para pemain dari
tim lain, yang tampil di babak penyisihan babak II kompetisi liga remaja
PSSI U-15 untuk Grup IV dan VI ini. Mungkin yang membedakannya adalah
besarnya dana yang menjadi bekal masing-masing tim.

Tidak seperti Jateng, tim peserta lainnya tinggal di hotel atau wisma.
Sebagai contoh, tim DIY tinggal di guest-house Danisa di kawasan Tebet,
sementara tim DKI Jaya dan Sulsel menginap di Graha Wisata, Kuningan.

Empat tim itu, yakni Jateng, DKI Jaya, Sulsel dan DIY di kompetisi U-15 ini
berada dalam satu grup. Dua tim peserta lainnya yang berada di Grup VI,
yakni Gorontalo dan Kalteng, juga menginap di tempat yang lebih
refresentatif. Tim Gorontalo tinggal di mess Pemda Gorontalo, sedangkan tim
Kalteng di hotel Calista, Petamburan.

Menurut keterangan Subardi, ketua bidang pembinaan PSSI, minat daerah untuk
mengikuti kompetisi liga remaja baik untuk U-18 atau U-15 sangat besar.
"PSSI sendiri sebenarnya tak punya uang untuk menggelar kompetisi ini,
sementara sponsor juga tidak ada yang berminat. Tetapi itulah, dengan segala
kekurangan itu, kita harus tetap melaksanakan kompetisi ini," katanya.

Kairun sendiri sejak awal memahami kalau untuk mengikuti kompetisi ini PSSI
tak memberi subsidi. Karena itulah dia dan ofisial lainnya berusaha mencari
dana ke sana-kemari, meski yang didapat masih diluar harapan. Walau begitu,
dia sangat yakin, para pemainya tetap memiliki semangat dan motivasi tinggi
untuk memperoleh hasil yang terbaik. "Kami besok (maksudnya Selasa ini, red)
baru bertanding, lawan tim DIY, setelah itu lawan tim DKI dan terakhir lawan
Sulsel,"papar Kairun. (adi)

[- Best Regard's -


[Non-text portions of this message have been removed]



HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke