semoga cerita ini dibaca para bonek 

----- Original Message -----
From: "Tombo Ati" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Bolaml" <[email protected]>
Date: Fri, 22 Sep 2006 08:13:08 +0700
Subject: [BolaML] [OOT] KISAH HEROIK SUPORTER BOLA
AREMANIA

> 
> KISAH HEROIK SUPORTER BOLA AREMANIA
> Sebuah catatan lapangan
> 
> Oleh Antariksa
> 
> Laki-laki muda itu sudah menjadi suporter fanatik
klub sepakbola 
> kotanya sejak masih anak-anak. Ia lahir dan tinggal
di Malang, Jawa
> Timur, dan klub sepakbola itu bernama Arema (Arek
Malang). Yuli
> Sugianto adalah salah satu suporter paling populer
di kalangan
> Aremania, sebutan bagi suporter Arema. Bersama
suporter Persebaya 
> (Persatuan Sepakbola Surabaya) yang disebut Bonek
(bondo nekat,
> modal nekat), Aremania terkenal sebagai suporter
palig fanatik dalam
> sejarah sepakbola Indonesia.
> 
> Yuli berkisah sudah sejak anak-anak ia selalu
berusaha melakuka apa 
> saja demi menonton pertandingan Arema. Semasa duduk
di bangku Sekolah
> Menengah Pertama (SMP) misalnya, jika tak ingin
terlambat datang ke
> stadion, ia harus membolos sekolah sore. Dan jika
pertandingan
> berlangsung di luar kota, itu berarti ia harus siap
sejak pagi, 
> bersiap menunggu di pinggir jalan raya, dan siap
melompat ke dalam
> bak truk atau mobil angkutan barang lain untuk
menuju kota tujuan.
> 
> Sekarang Yuli adalah dirigen Aremania. Seorang
sirigen, layaknya
> seorang konduktor dalam pertunjukan orkestra, adalah
orang yang 
> memimpin para suporter untuk menyanyi dan menari
dalam sebuah
> pertandingan sepakbola. Seorang dirigen menentukan
lagu mana yang
> harus dinyanyikan dan gerakan tubuh macam apa yang
mesti dilakukan.
> Aremania punya dua dirigen. Selain Yuli juga da
Yosep, yang biasa 
> dipanggil Kepet.
> 
> Di kalangan Aremania, dirigen dipilih dengan cara
yang tidak terlalu
> rumit. Tidak ada pemungutan sura yang berlangsung
dengan ketat.
> Seseorang dipilih menjadi dirigen karena penampilan
fisiknya yang 
> menarik (ceria, nyentrik, dll.), kemampuannya
berkomunikasi dengan
> suporter lain, dan kemampuannya membangkitkan
semangat suporter untuk
> terus memotivasi tim yang didukungnya. Oleh sejumlah
supoter seorang
> dirigen ditunjuk dengan cara yang sulit dijelaskan,
hampir kebetulan 
> saja, sebelum sebuah pertandingan sepakbola
dimainkan. Tetapi begitu
> seorang dirigen terpilih, jabatan itu akan
disandangnya terus, tanpa
> batas waktu yang jelas, sampai ia mengundurkan diri
atau kehilangan
> kemampuan untuk memimpin. Begitulah, tujuh tahun
lalu dan Kepet 
> terpilih begitu saja sebagai dirigen Aremania. Dana
hanya kepda
> mereka berdualan 30 ribuan Aremania mau tunduk.
"Mungkin saya dipilih
> karena berambut gonrong dan suka menari sambil
memanjat pagar
> pembatas lapangan. Kalau Kepet mungkin karena ia
punya banyak teman. 
> Ia kan tinggal dekat stadion," kata Yuli.
> 
> Di Stadion Gajayan Malang, markas Arema, Yuli dan
Kepet mesti berbagi
> wilayah kekuasaan. Wilayah kekuasaan Yuli adalah
tribun bagian timur,
> tepat di bawah papan skor. Wilayah Kepet adalah
tribun bagian 
> selatan. Sementara tribun VIP dibiarkan tanpa
dirigen.
> 
> Pertandingan sepakbola biasanya dimulai jam 4 sore,
tetapi para
> suporter sudah memadati stadion sejak 2 jam
sebelumnya. Mereka
> memainkan genderang, terompet, menyanyi, menari dan
menyulut kembang 
> api dan petasan. Sebelum dirigen datang,
atraksi-atraksi ini
> berlangsung sporadis, dalam kelompok-kelompok kecil,
dan tidak
> kompak. Tetapi begitu mereka melihat kedatangan Yuli
dan Kepet,
> secara otomatis semuanya akan bertepuk tangan dan
bertempik-sorak 
> seperti menyambut kedatangan presiden mereka. Yuli
dan Kepet
> tersenyum, dan begitu mereka melambaikan tangan,
ribuan suporter ini
> menjadi lebih tenang. Semua musik, lagu, dan tarian
dihentikan. Yuli
> dan Kepet akan segera menaiki singgasana mereka,
yaitu pagar besi 
> pembatas lapangan setinggi 2 meter. Mreka mulai
menjalankan tugasnya;
> sambil berdiri di atas pagar menghadap ke tribun
penonton mereka
> menggerakkan tangan dan kaki, memiringkan dan
memutar tubuhnya ke
> kiri, kanan, depan, dan belakang sebagai alat untuk
memberi aba-aba. 
> Ribuan penonton menjadi kompak dan memainkan musik,
menyanyi, dan
> menari. Semuanya mengikuti aba-aba dan contoh
gerakan yang dilakukan
> Yuli dan Kepet.
> 
> Sepuluh menit sebelum pertandingan dimulai, Yuli dan
Kepet memberi 
> aba-aba berhenti. Kalau mereka sudah menaikkan
tangan kanan ke atas,
> itu artinya tarian akan berhenti dan para suporter
akan segera
> menyanyikan lagu Padamu Negeri.[1] Para pemain
memasuki lapangan,
> wasit meniup peluit, pertandingan segera dimulai,
tarian dan lagu 
> dimainkan kembali. Karena atraksi-atraksinya yang
menarik, Arema
> pernah memenangi penghargaan suporter terbaik dari
Persatuan
> Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).
> 
> Satu-satunya kelompok suporter besar yang mandiri
adalah 
> Aremania. Klub dan Pemda tidak memberi bantuan dana
atau berkeinginan
> membuat organisasi formal untuk suporter. Para
suporter tetap membuat
> kelompoknya sendiri dengan keinginan mereka sendiri,
kelompok-
> kelompok ini mereka sebut dengan Korwil (Koordinator
Wiyalah). Di 
> Malang sekarang ini sekurang-kurangnya ada 125
Korwil Aremania. Tiap
> Korwil punya seorang ketua yang hanya bertugas
mengumpulkan suporter
> di wilayahnya menjelang Arema bertanding. "Tidak
perlu organisasi-
> organisasian. Kalau ada organisasi itu repot, nanti
malah diatur-
> atur, disuruh begini, disuruh begitu, bayar ini,
bayar itu. Apalagi
> kalau sampai dikait-kaitkan sama partai politik
segala," kata Ponidi-
> dikenal sebagai Tembel-Ketua Korwil Stasiun. Meski
tiap Korwil punya 
> ciri khas sendiri, yang ditandai dengan bendera,
sapanduk, seragam,
> dan dandanannya, komando di stadion tetap ada di
tangan dirigen.
> Hanya Yuli dan Kepet yang mampu mengatur dan
menenangkan
> merea. "Pengurus klub atau walikota sekalipun tidak
akan bisa ada 
> artinya bagi suporter. Dia tak akan mampu mengatur
30 ribu orang.
> Tapi begitu Yuli atau Kepet yang ngomong, ya
semuanya manut," jelas
> Tembel.
> 
> Yuli adalah pemuda dari keluarga miskin yang tinggal
di sebuah 
> kampung di bagian timur Malang. Sebelum menjadi
dirigen Aremania,
> sejak lulus dari sebuah Madarasah Aliyah, Yuli
bekerja sebagai
> pencuci mikrolet-angkutan umum dalam kota. Ia biasa
bekerja dari jam
> 4 sore hingga jam 12 malam, dari pekerjaannya, dalam
sehari Yuli bisa 
> memeroleh 10 ribu hingga 15 ribu rupiah.
> 
> Sejak menjadi dirigen, Yuli praktis berhenti
bekerja. Menurutnya
> pilihan ini adalah saran orangtuanya yang tak tahan
melihat Yuli
> menghabiskan hampir semua waktunya untuk mengurusi
sepakbola, 
> sepakbola, dan sepakbola. Ia kini menggantungkan
hidupnya pada
> orangtuanya. Bapaknya, Asip, bekerja sebagai tukang
kayu panggilan.
> Semenntara ibunya, Juwariyah, mendapatkan uang
dengan menjual makanan
> rumahan bikinannya ke warung-warung di sekitar
kampungnya. 
> 
> Jika Liga sedang berjalan-yang berarti setiap minggu
hampir selalu
> saja ada pertandingan sepakbola-Yuli harus
menyisihkan sedikit jatah
> uang rokoknya agar bisa membeli tiket dan masuk
stadion. Tetapi kalau
> kondisi keuangan keluarganya yang benar-benar sulit,
Yuli kadang
> terpaksa menjual asesoris-asesoris suporternya untuk
bisa membeli
> tiket. Tak jarang ia harus merelakan kaus atau syal
kesayangannya
> dengan harga 10 hingga 20 ribu rupiah. "Sebenarnya
sedih juga, karena 
> barang-barang itu punya nilai sejarah bagi saya.
Tapi saya akan lebih
> sedih lagi kalau tidak bisa masuk ke stadion dan
menjadi dirigen bagi
> teman-teman," katanya. Kadang-kadang Yuli juga
membantu menjual tiket 
> pertandingan. Beberapa hari sebelum pertandingan
Yuli akan mengambil
> tiket di Mess Arema. Untuk tiap tiket seharga 10
ribu rupiah bisa
> dijualnya ia mendapat bagian 10 persen atau seribu
rupiah. Agar bisa
> nonton pertandingan sekurang-kurangnya Yuli harus
bisa menjual 10 
> tiket.
> 
> Seperti kebanyakan pemuda kota yang tinggal di
kampung padat dan
> miskin, Yuli gemar sepakbola dan sering terlibat
tawuran (perkelahian
> massal) antarkampung. "Buat saya dulu tawuran adalah
bagian dari 
> sepakbola. Sepakbola nggak ada tawuran seperti
sepakbola banci," kata
> Yuli. Ia kemudian bercerita, beberapa tahun
lalu-sebelum menjadi
> dirigen-bersama 30 temannya ia datang ke Jakarta
untuk melihat Arema
> bertanding. Ia berangkat dari rumah dengan sudah
menyiapkan sebilah
> pedang. "Waktu itu, ini perlengkapan standar,"
katanya. Di Jakarta ia
> terlibat bentrokan dengan kelompok Bonek di depan
Stasiun Pasar
> Senen. Mula-mula hanya saling melempar batu, tapi
kemudian menjadi
> saling kejar, memukul dengan potongan kayu atau
besi, bahkan hingga
> sabetan pedang. "Yang saya ingat, keesokan harinya
saya baca di koran
> ternyata ada 3 orang Bonek yang mati. Sementara kami
semua selamat," 
> katanya.
> 
> Yuli kini ingin melupakan masa lalunya. Di ruang
tamu rumahnya yang
> sempit, ia memasang dotonya ketika bersalaman dengan
Ketua PSSI Agum
> Gumelar. Di foto itu, Yuli-berambut gondrong dan
berkaus Arema warna 
> biru-tampak tersenyum bangga. Katanya, "Saya
diundang di acara
> pembukaan Liga Indonesia dan dikirimi tiket pesawat
untuk hadir
> mewakili suporter".
> 
> Karena tak bekerja, sehari-hari Yuli menghabiskan
waktunya dengan 
> nongkrong sja. Saya ingat waktu bertemu dengannya
pertama kali tiga
> tahun lalu, ia tengah nongkrong di Salon Cimenk yang
terletak
> beberapa ratus meter saja dari rumahnya. Didik,
pemilik salon ini,
> adalah teman Yuli sesama Aremania. Ketika saya
datang rupanya mereka 
> sedang membicarakan rencana menjahit pakain dirigen
baru buat Yuli.
> Untuk urusan dandanan Yuli mengaku memang sering
dibantu Didik.
> Sekali mencat rambut ia cuma akan membayar 10 atau
20 ribu. Tapi Yuli
> lebih sering tak membyara, karena ia memang jarang
punya cukup uang. 
> Suatu ketika karena merasa sungkan dan terlalu
sering tidak membayar,
> sebelum berangkat ke stadion Yuli pernah mencat saja
rambut
> gondrongnya dengan cat kayu, warna biru. Jelasnya,
"Agar mudah
> membersihkannya, saya lumuri dulu rambut saya dengan
minyak goreng, 
> setelah itu baru saya cat. Saya ingin selalu bisa
menarik perhatian
> di lapangan."
> 
> Yuli punya cukup banyak koleksi asesoris Aremania.
Dengan bersemangat
> ia menunjukkan koleksi kaus dan pakaian dirigennya
pada saya. Yuli 
> punya macam-macam kaus Arema, dari kaus seperti yang
dipakai para
> pemain-warna biru putih-sampai kaus-kaus bergambar
kepala singa,
> lambang Arema, yang memang punya julukan sebagai tim
Singo Edan
> (singa gila). Kebanyakan kaus macam ini bertuliskan
"Kera Ngalam" 
> atau "Ongis Nade". Keduanya adalah bahasa slang
Malang yang
> berarti "Arek Malang" dan "Singo Edan".
> 
> "Saya biasanya pakai kaus Arema, tapi bawahannya
bisa ganti-ganti,
> yang penting warna dan modelnya menyolok mata.
Seorang teman suporter 
> pernah memberi saya pakaian Skotlandia," kata Yuli
sembari
> mengeluarkan pakaian bermotif kotak-kotak khas
skotlandia dari
> lemarinya. Sebentar kemudian ia mengeluarkan lagi
beberapa pakaian,
> dari yang berbahan kulit sintetis hingga kain sarung
dan kain perca. 
> Hampir semua pakaian ini dirancang sendiri oleh
Yuli. Biasanya ia
> mendapat ide model-model pakaian baru setelah
menonton pertandiangan
> sepakbola Liga Italia atau Inggris di televisi.
> 
> Saya membuka-buka koleksi foto Yuli. Ia memberikan
penjelasan detil 
> untuk tiap foto yang saya lihat. Ketika saya sampai
pada sebuh foto
> yang memerlihatkan sepasang lelaki dan perempuan
berbaju pengantin,
> sementara di sekelilingnya adalah laki-laki dan
peremuan yang
> semuanya berkaos biru Arema, Yuli menjelaskan bahwa
itu adalah acara 
> pernikahan seorang Aremania. Ia malah menceritakan
tentang seorang
> Aremania lain yang naik haji ke Mekkas dengan
membawa syal dan
> bendera Arema.
> 
> Kamar Yuli kecil saja, 3 kali 3 meter. Dindingnya
dicat biru, 
> dipenuhi poster dan macam-macam hiasan dinding yang
berbau Arema.
> Sebuah poster paling besar, kira-kira berukuran 1
kali 1,5 meter,
> dibuat dengan teknik cetak yang baik, memerlihatkan
gambar kepala
> singa, foto tim Arema, dan ribuan suporter Arema.
Bagian bawah poster 
> itu bertuliskan "Di saat prestasi bangsa Indonesia
sedang terpuruk,
> bumi pertiwi bersimbah darah, nusantara sedang
tercabik, Aremania
> melalui panggung sepakbola telah membuat jutaan
pasang mata di layar
> kaca terkagum oleh sportivitas," kemudian
dilanjutkan dengan kalimat-
> kalimat berbahasa Inggris, "Aremania, pride of the
city, friendship
> without frontier, footbal without violence, the
incorporable
> suporter, the incredible Malangese". 
> 
> Di kamar ini Yuli mengarang tarian dan lagu-lagu
buat Aremania.
> Sebenarnya ia tak benar benar-benar mengarang, ia
hanya memodifikasi
> saja syair lagu-lagu yang sudah asa, sementara nada
dan iramanya
> tetap dipertahankan. Seumbernya bisa datang dari
mana saja. Bisa 
> lagu-
> lagu tentara Indonesia, lagu pop, lagu anak-anak,
lagu pramuka, lagu
> selamat ulang tahun, sampai lagu suporter Juventus,
suporter
> kesebalasan Cili, atau lagu marinir Amerika yang
dilihatnya di film
> atau televisi. Yuli hafal di luar kepala semua lagu
yang berjumlah 
> 30-an itu. Untuk tarian, Yuli mengaku sekenanya
saja. Prinsipnya 
> adalah ia harus bisa membuat gerakan tubuh yang
mudah ditirukan dan 
> dingat orang lain. Menurut Yuli, seringkali para
suporter juga 
> memberikan usulan tarian dan lagu baru beberapa saat
sebelum sebuah 
> pertandingan dimulai.
> 
> Kini orang ramai berdatangan ke Stadion Gajayan.
Mereka datang bukan
> hanya untuk sepakbola, tetapi juga untuk melihat
bagaimana Aremania
> menyanyi dan menari. Dulu menonton sepakbola di
Gajayan hanyalah 
> monopoli orang-orang pribumi laki-laki, tapi kini
perempuan dan
> orang-orang keturunan Cina juga datang menonton ke
stadion. Tak ada
> lagi kerusuhan dan perkelahian.
> 
> "Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan
lapangan nanti 
> tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola
dengan enak, tidak
> ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu
pemain. Saya juga
> ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau
mniskin, laki-
> laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat
atau orang biasa,
> Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,"
kata Yuli.
> 
> - Tombo Ati - 
> 
> 
> 
> HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.
> 
>
==========================================================
> Milis Tabloid BOLA
> Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong
(tanpa subject) ke 
> alamat [EMAIL PROTECTED]
>
==========================================================

> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke