Saat Federer meraih titel Grand Slam pertamanya di Wimbledon 2003, Boris Becker meramalkan Federer akan mampu meraih banyak titel Grand Slam lainnya. Kata Becker saat itu,"We have seen the future - it arrived today".
Becker benar. Tahun 2003 menjadi tahun kebangkitan Federer dan selanjutnya mendominasi dunia tenis hingga saat ini. Konsistensi Federer sekarang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelum 2003. Di tahun 2000, ia tercatat pernah kalah 14 kali di ronde pertama turnamen. Tujuh kali di antaranya secara berturut-turut. Tahun 2001, Roger mengalami 6 kali kekalahan di ronde pertama. Tahun 2002, petenis yang mengidolakan AS Roma tersebut tersingkir di ronde pertama Wimbledon dengan 3 set langsung. Dibandingkan petenis-petenis lain, saat ini Federer seperti berada di planet berbeda. Bukan hanya sisi prestasi tapi juga bagaimana Federer memainkan bola tenis di lapangan. Banyak pengamat menyebutnya seniman tenis. Gerakannya seperti balet.. Dengan kejeniusannya ia tahu bagaimana menempatkan bola sehingga kerap mengundang tepuk tangan penonton. Pukulannya komplit hingga ia mampu dengan mudah mengalahkan berbagai jenis tipe pemain mulai dari big-server atau baseliner. Dan terlepas dari sisi teknis, Federer memiliki kekuatan mental yang sering menyelamatkannya dari kondisi panik meskipun dalam keadaan tertinggal. Roddick dan Blake adalah dua petenis yang punya gabungan rekor 16-1 melawan Federer. Satu-satunya kemenangan Roddick terjadi tiga tahun lalu. Blake mengatakan,"Sungguh sulit karena ia selalu punya semua jawaban. Tetapi saya, Andy dan petenis lainnya berpikir sama seperti yang dipikirkan Malone dan Ewing mengenai Jordan. Tidaklah mudah mengalahkan seorang legenda. Tetapi bukannya tidak mungkin". Roddick nyaris menambah rekor kemenangannya Selasa lalu. Unggul 6-4 di set pertama, berbekal tiga kali match point Roddick seharusnya mampu menutup set ke-2 dengan kemenangan. Tapi kekuatan mental Federer terbukti di sini. Dan akhirnya seperti sudah diberitakan, Federer kembali unggul atas Roddick dengan 4-6 7-6(10-8) dan 6-4. "Semakin banyak kesempatan, semakin banyak saya belajar dan mendapatkan peluang untuk menang. Bagi saya, tidak ada perbedaan besar apakah rekor saya dengan Federer 1-11 atau 1-12 tapi jelas ada perbedaan besar antara 1-12 dan 2-11," komentar Roddick seusai pertandingan. Bila wacana di atas kita pindahkan konteksnya ke dunia sepakbola, maka Liverpool dapat menjadikan Blake atau Roddick sebagai sebuah cermin. Keduanya adalah individu yang pantang menyerah menantang kemapanan. Seperti pernah dikatakan Roddick,"Jika Anda tidak bisa bersaing dan mengalahkan yang terbaik (Federer) maka Anda tidak layak mendapatkan gelar juara". MU, Chelsea dan Arsenal dapat dipastikan sebagai kandidat juara terkuat Liga Inggris musim ini. Sementara Liverpool tertinggal sangat jauh dan masih berjuang untuk mencari bentuk permainan terbaiknya. Tapi keyakinan harus tetap dipupuk seraya terus berjuang mengasah permainan sehingga mampu bersaing dengan para kandidat. Viel Glueck, Liverpool!
