Seperti yg pernah sekilas gw tulis dulu mengenai 3G dan 4G ... maap bagi yg 
tidak berkenan ...

Ini ada tulisan bagus dari Onno W Purbo mengenai 3G, 4G, etc. Jadi kalo selama 
ini 3G begitu dibesar-besarkan (digadang-gadangkan -- dalam bahasa Minang, 
gadang = besar), maka disini terlihat jelas bahwa janji-janji 3G (sebenarnya) 
terlihat tidak ada apa-apanya ... 

Pengen deh nyoba-nyoba seperti pak Onno itu, tapi pasti biayanya gede ya??!!! 
Padahal u bisa nabung aja masih ngap-ngapan :(



Delfiar


----- Original Message ----- 
From: Mohammad Syarwani 
Subject: Dunia Belajar kepada Bangsa Indonesia


Dunia Belajar kepada Bangsa Indonesia 

Gaung 3G sedang melanda Indonesia. Kehadiran teknologi 3G banyak 
diseminarkan dan 3G banyak diharapkan menjadi solusi.

Kecepatan maksimum 3G yang normal hanya sekitar 2 Mbps, kecuali 3G 
High Speed Data Packet Access (HSDPA) Indosat yang bisa sampai 11+ 
Mbps. Itu pun kenyataan di lapangan kecepatan rata-rata 3G hanya 300 
Kbps-500 Kbps. Memang masih tergolong cepat sekali untuk akses data, 
terutama terkoneksi internet.

Kesalahan besar dalam sosialisasi 3G saya pikir adalah janji yang 
diumbar tentang video call, yang sangat berbahaya untuk publik 
karena belum jelas berapa pulsa yang harus dibayarkan untuk waktu 
tertentu, misalnya, 15 menit-30 menit. Terus terang, saya pribadi 
tak percaya bahwa video call akan menjadi killer application karena 
terlalu mahal dan tidak sempurna.

Padahal, dengan kecepatan data pada teknologi 3G, jasa internet 
broadband kecepatan tinggi menjadi menarik. Teknologi 3G adalah 
lawan tangguh untuk layanan ADSL seperti Speedy. Tantangannya adalah 
struktur harga yang ketat sekali. Speedy dan sejenisnya menjual Rp 
300.000-Rp 500.000 per bulan untuk akses sampai 750 MB, menjadikan 
3G kelimpungan jika tidak sanggup melawan dengan harga di bawah itu.

Kemampuan melakukan pembicaraan telepon di 3G tampaknya harus 
berhati-hati karena jasa ADSL seperti Speedy, akan meluncurkan jasa 
Voice over Broad Band (VoBB) yang pada dasarnya adalah teknologi 
VoIP (Voice over Internet Protocol). Kehadiran VoBB Speedy menjadi 
lawan tangguh bagi 3G maupun iMaxIndo dan jasa VoIP dari business 
solution yang diluncurkan oleh XL. Jasa yang ditawarkan XL 
memungkinkan PABX di kantor atau perusahaan untuk langsung 
berintegrasi ke sentral telepon di XL sehingga ponsel XL dapat 
langsung menjadi extension PABX tanpa perlu membayar pulsa sama 
sekali.

Tahun 2007 akan menjadi marak karena berbagai backbone fiber Speedy 
maupun MPLS XL pada kecepatan Gbps mulai diaktifkan dalam skala 
penuh dengan sambungan internasional ke jaringan internet dalam 
skala mendekati 10 Gbps.

Pertanyaan mendasarnya, apakah rakyat biasa hanya menjadi penonton 
dan pembeli layanan saja? Jawaban singkatnya, tidak. Rakyat 
Indonesia mempunyai banyak solusi yang tidak kalah canggih dari para 
operator telekomunikasi dan, bahkan, di beberapa tempat telah 
terbukti membuat pusing operator telekomunikasi.

Ada dua teknologi besar yang menjadi andalan, yakni Telkom Rakyat 
yang menggunakan Session Initiation Protocol (SIP) serta WiFi atau 
WiMAX yang memiliki kecepatan 54 Mbps, jauh di atas ADSL maupun 3G. 
Teknologi SIP menjadi fondasi dasar teknologi seluler masa datang, 
yaitu yang dikenal dengan nama 4G (baca forji).

Sementara itu, teknologi WiFi telah menjadi andalan bagi jaringan 
RT/RW-net, bahkan di Yogyakarta telah terbukti menjadi solusi utama 
bagi layanan broadband yang merakyat dengan harga Rp 250.000-Rp 
350.000 per bulan untuk akses tidak terbatas (unlimited) sehingga 
membuat kelimpungan operator telekomunikasi yang ingin menjajakan 
akses broadband pada masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.

Hal sama terjadi di Bandung, Jawa Barat, pinggiran Jakarta, Medan, 
Malang, dan banyak kota besar lain di Indonesia. Buku Wireless 
Internet dan HotSpot menjelaskan secara detail berbagai teknik 
infrastruktur rakyat dibantu dengan konsultasi gratis di mailing 
list [EMAIL PROTECTED] menjadi sangat tangguh membangun 
infrastruktur telekomunikasi akar rumput tanpa bantuan pemerintah 
maupun Bank Dunia.

Di sisi lain, VoIP Rakyat, yang dimotori Anton Raharja dengan 
pelanggan dalam jumlah puluhan ribu dengan ribuan PABX di 
belakangnya, menjadi tantangan berat bagi penyelenggara VoIP Broad 
Band, baik itu Speedy, XL, InfoAsia Telekom, IMaxIndo.

Yang menarik, beberapa usaha mulai terjadi untuk menginterkoneksikan 
para pengguna VoIP Rakyat dengan XL, IMaxIndo, InfoAsia Telekom, 
VoBB Speedy, yang pada akhirnya menjadi satu kesatuan jaringan yang 
tersambung satu sama lain dan saya yakin justru tidak bunuh-membunuh.

Uji coba teknologi yang telah saya lakukan ternyata menjadikan VoIP 
Rakyat sangat menarik karena ternyata ponsel Nokia maupun Linksys 
dan mungkin juga dari vendor lain,ternyata dapat diintegrasikan ke 
jaringan VoIP Rakyat yang berbasis SIP melalui internet.

Saya mencoba sendiri Nokia E61 dan Nokia N80, beberapa teman juga 
mencoba menggunakan Nokia E70 dan seri lainnya. Tampaknya, semua 
ponsel Nokia yang mempunyai kemampuan WiFiPhone dengan sistem 
operasi Symbian sudah siap untuk digabungkan jaringan 4G yang 
berbasis SIP dan WiFi. Artinya, Nokia E61, N80, dan Linksys 
WifiPhone dapat menelepon tanpa pulsa sama sekali.

Yang menarik dari 4G ini, kita mendapat software sentral telepon 4G 
maupun softphone berbasis SIP secara gratis di internet dan dengan 
mudah dikompilasikan dan mengoperasikannya di Linux yang sangat 
stabil. Bahkan tidak kepalang tanggung, Intel Indonesia tampaknya 
mulai melakukan edukasi semua dealer dan distributornya agar dapat 
memberikan solusi VoIP SIP dan 4G kepada pengguna teknologi prosesor 
Intel.

Sebagian teknologi 4G secara detil dibahas dalam buku pegangan VoIP 
Rakyat Cikal Bakalan Telkom Rakyat yang akan beredar sekitar dua 
bulan mendatang. Teknologi 4G jelas menjadi solusi Telkom Rakyat 
Indonesia yang dapat digelar tanpa mengantongi izin maupun lisensi 
Menkominfo-sebuah tantangan bagi Kabinet SBY-JK.

Ternyata taktik Telkom Rakyat 4G menarik bagi bangsa lain di dunia. 
Konsekuensinya, saya harus terbang ke Bangalore, India, Januari 
mendatang, ke Nepal pada awal Mei 2007. Kita sering tidak 
sadar, "Dunia belajar pada kita, kita bangsa Indonesia."

Onno W Purbo Penulis Teknologi Informasi Independen, Mantan Dosen ITB

Sumber : Kompas.com
. 
 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke