Selisih suara Michele Platini dan Lennart Johansson hanya 4 suara, bahkan
sebelum 4 suara terakhir dihitung konon suara keduanya adalah sama 23.
Pengurangan jatah klub2 dari 3 negara besar eropa(Italia, Spanyol dan
Inggris) adalah kampanye dari Platini untuk mengembalikan Sepakbola Eropa
sebagai "milik" seluruh masyarakat Eropa dalam artian tidak didominasi oleh
negara2 kuat seperti telah disebutkan di atas. Jadi, kalau menggunakan
logika sederhana saja menurut saya anggota Uefa yang setuju dengan ide atau
wacana Platini itu ada 27 orang(walaupun itu tidak mutlak). Hal ini bisa
dilihat dengan majunya kembali Lennart Johansson ke bursa presiden Uefa
"hanya" untuk menentang ide "GILA"(kata Johansson) Platini. Jadi jelas bahwa
23 anggota Uefa pendukung Lennart Johansson adalah penentang ide Platini.
Sekali lagi semuanya tidak mutlak, kita hanya tinggal berharap...Liga
Champions tidak berubah format, karena terbukti format yang sekarang telah
menjadikan UCL sebagai kompetisi yang sangat digemari.

OOT : kalau Michele Platini mengurangi jatah Italia(dan otomatis) menambah
jaah negara2 kecil terutama dari eropa timur, ganti saja namanya menjadi
Platinov, jangan Platini...karena Platini adalah nama Italia.

dikutip dari detik, siapa tau ada yang belum baca...klo udah baca ya abaikan
saja...

Senin, 29/01/2007 07:00 WIB
Platini dan Wajah (Komersial) Sepakbola Eropa
Liza Arifin - detikSport


(AFP/Volker Hartmann)
London - Michel Platini adalah seorang populis. Ia ingin membabat habis
rasisme dalam sepakbola. Menghapus jurang antara si kaya dan si miskin dalam
sepakbola. Memperkenalkan egaliterisme dalam sepakbola. Menginginkan
pembatasan gaji pemain.

Tinggi di puncak prioritas Platini adalah menata ulang kompetisi Liga
Champions. Kompetisi paling menguntungkan di seluruh dunia ini dalam
pandangan legenda sepakbola Prancis ini dianggap salah satu penyakit yang
hanya menggelembungkan kekayaan klub-klub besar yang memang sudah kaya raya.

Ia ingin peserta Liga Champions untuk negara-negara sepakbola seperti
Italia, Inggris, dan Spanyol cukup tiga klub saja dan bukannya empat. Ia
menginginkan jaminan lebih besar bagi keikutsertaan klub-klub negara kecil
Eropa anggota UEFA. Demi pemerataan keuntungan yang dalam jangka panjang
diharapkan akan bisa semakin mempopulerkan sepakbola.

Janji-janjinya untuk menebar keuntungan finansial dari maraknya kompetisi
Eropa inilah yang membuatnya dipilih oleh mayoritas 52 anggota UEFA dan
menyingkirkan presiden sebelumnya Lennart Johansson.

Jelas keinginan Platini adalah keinginan yang mulia. Persoalannya adalah ia
seperti menghadapi sekelompok orang kaya yang mempunyai kekuasaan hampir tak
terbatas yang tentu saja ingin melindungi sumber pemasukan kekayaan mereka.
Ibarat UEFA adalah sebuah negara maka klub-klub kaya Eropa, terutama yang
tergabung dalam persekutuan G14, adalah negara dalam negara. Walau mengikuti
berbagai aturan UEFA tetapi kehidupan mereka sangat tidak tergantung pada
UEFA.

Klub-klub kaya Eropa sudah menyatakan ketidaksetujuan mereka atas rencana
Platini ini. Mereka yakin bahwa kompetisi antar merekalah yang ingin
ditonton oleh para penggemar seluruh dunia. Bukan pertandingan yang diikuti
oleh klub-klub yang tidak terkenal dari negara kecil. Kehadiran klub tidak
terkenal membawa romantika, apalagi kalau sampai lolos hingga ke akhir
kompetisi. Tetapi cukup berhenti pada romantika saja. Bumbu pemanis tetapi
bukan bumbu yang sebenarnya. Ada syukur, absen tidak masalah.

Celakanya, kesombongan klub-klub kaya itu benar adanya. Ukurlah dari rating
TV misalnya, yang menjadi salah satu sumber pemasukan terbesar kompetisi
Liga Champions. Tayangan televisi ini tidak hanya untuk Eropa saja tetapi
telah mengglobal bahkan juga ke Amerika. Rating TV naik tajam kalau,
katakanlah, Barcelona bertanding melawan AC Milan atau Manchester United
lawan Real Madrid. Tayangkan Bratislava lawan Shakhtar Donetsk, tak ada yang
tertarik kecuali pendukung kedua klub itu tentunya.

UEFA sudah sejak lama mengerti akan ketimpangan yang kalau dibiarkan akan
mengarah pada eksklusivitas ini. Apa boleh buat, mereka juga tergantung pada
pemasukan besar Piala Champions untuk kehidupan mereka sendiri. Kompetisi
Liga Champions ini telah menjadi angsa bertelur emasnya UEFA.

UEFA mencoba berkompromi dengan menerapkan peraturan hanya empat atau tiga
besar kompetisi liga utama negara besar yang boleh ikut dalam kompetisi
Piala Champions. Tetapi ini peraturan yang sangat lembek karena pada
dasarnya mereka yang masuk tiga atau empat besar selalu saja klub-klub kaya
yang itu-itu juga.

Sekian tahun silam klub-klub kaya Eropa yang tergabung dalam persekutuan G14
pernah menggagas sebuah kompetisi diantara mereka sendiri. Ide ini dikubur
dalam-dalam setelah kompetisi Liga Champions dimekarkan. Tetapi kalau
Platini ngotot dengan renovasinya itu, kekhawatirannya adalah gagasan ini
akan populer kembali. Kalau gagasan itu populer kembali dan benar dicoba
diwujudkan, sepakbola Eropa akan bisa remuk redam.

Di lapangan bola Platini dulu seorang maestro. Tetapi ia kini harus
betul-betul hati-hati.
(lza/a2s)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke