*
*

USAI memperlebar jarak dengan AS Roma, pelatih Inter Roberto Mancini tak
henti-hentinya mengingatkan tim asuhannya agar tak terlena. Sebab,
tanggung-jawab lain masih banyak yang belum terselesaikan. Liga Champions,
salah satunya.

Inter bakal menjamu Valencia pada leg pertama babak 16 Besar Liga Champions,
Rabu dini hari nanti. Kesempatan itu harus dioptimalkan Javier Zanetti dkk
untuk meraup hasil sempurna.

"Mereka (Valencia) tim yang luar biasa. Dengan kondisi tim yang pincang
karena mayoritas pilarnya didera cedera, mereka tetap mampu bertahan di
papan atas Liga Primera," tegas Mancini seperti dilansir Channel4.

Meraup sukses di ajang Liga Champions merupakan ambisi terpendam Mancini
untuk melengkapi gelarnya bersama Inter. Sejauh ini sudah lima gelar
dipersembahkan Mancini yang terdiri dari dua Coppa Italia (2005 dan 2006)
dan Super Italia (2005 dan 2006), serta satu scudetto (2006). Satu-satunya
trofi yang belum dia nikmati sebagai pelatih adalah Liga Champions.

Musim ini, Mancini berpeluang menambah koleksi gelar lagi. Bahkan, sangat
memungkinkan Inter menjadi treble winners. Sebab, peluang mereka untuk
merebut tiga gelar dari jalur Seri A, Coppa Italia, dan Liga Champions
sangat terbuka.

"Masih terlalu dini membicarakan trofi. Kami harus fokus menghadapi Valencia
terlebih dahulu. Mereka memiliki empat striker yang produktif, dua gelandang
yang berpengalaman, dan pertahanan yang sulit ditembus. Kami berada pada
level yang sama dengan mereka. Jadi, kami harus optimalkan sebaik mungkin
ksempatan kandang ini," tandasnya.

Mancini bisa meminta anak buahnya mengalihkan konsentrasi ke Liga Champions
karena posisi Inter yang terbilang sudah aman di Seri A. Memasuki pekan
ke-23, Inter sudah unggul 14 angka dari penghuni posisi kedua yang diduduki
AS Roma.

Banyak yang percaya, kedigdayaan Inter di Seri A musim ini tak lepas dari
absennya Juventus. Seperti diketahui, klub asal Turin itu terlempar ke Seri
B akibat terlibat calciopoli.

Musuh besar Inter lainnya, AC Milan, juga terseok-seok terkena penalti poin
dalam skandal yang sama. Ini yang membuat konsentrasi Milan lebih tercurah
kepada pelunasan utang poin.

Tapi, tentu sangat naif jika memandang kesuksesan Inter dari sudut pandang
itu. Bagaimanapun, tidak mudah merancang sebuah tim yang mampu mencatat 16
kemenangan beruntun dan tak terkalahkan hingga pekan ke-23. Apalagi tim yang
dipadati pemain bernama besar dengan ego yang besar pula.

Disini peran pelatih menjadi sangat penting, juga dukungan manajemen dan
suporter. Jadi, bukan semata-mata karena tak adanya perlawanan dari lawan
tradisional. (roq)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke