Kacamata Tuan Wenger
Liza Arifin - detikSport 


London - Kearifan tidaklah selalu harus berbanding lurus dengan kecerdasan. 
Tidaklah juga berbanding lurus dengan kepiawaian berfikir. Bahkan yang 
mengejutkan, juga tidak berbanding lurus dengan kepemimpinan.

Kearifan mungkin mempunyai derajat unsur ketiganya tetapi jelas bukan karena 
disebabkan oleh ketiganya. Setidaknya kalau berkaca pada bagaimana kiprah 
pelatih Arsenal, Arsene Wenger, di liga utama Inggris selama ini.

Kemampuan Wenger untuk meracik satu tim dengan permainan yang menawan tidak 
perlu diragukan lagi. Jalinan kerjasama tim, dipadu dengan ketrampilan tinggi 
para pemainnya, membuat Arsenal menjadi salah satu tim di Eropa yang nikmat 
untuk dilihat. 

Kejelian Wenger untuk mengasah pemain muda juga melegenda. Pemandu bakat yang 
ditebar Wenger mampu menemukan bakat hingga ke pelosok antah berantah 
persepakbolaan untuk ditampilkan di pentas persepakbolaan Inggris.

Ia juga merevolusi pemahaman akan apa yang disebut sehat dalam dunia sepakbola 
Inggris. Sebagai contoh, ia memperkenalkan penakaran jumlah kalori yang harus 
diserap para pemain bola, mengatur pola makan maupun jenis makanan yang harus 
dikonsumsi, tekhnik latihan yang sesuai dengan fisik pemain, pola istirahat 
yang benar dalam kaitan dengan relaksasi fisik. Ia juga sebisa mungkin menjaga 
agar pendidikan menjadi bagian penting dalam kehidupan pemain. Otak yang tajam 
bagi Wenger sama pentingnya dengan ketrampilan fisik.

Yang lebih hebat lagi, Wenger ikut menggagas Stadion Emirate hingga ke rincian 
bentuk stadion, agar penonton bisa maksimal menikmati pertandingan, sampai ke 
ketebalan rumput untuk memaksimalkan gaya permainan yang ingin ia terapkan.

Mengaku atau tidak, banyak pelatih di Inggris ini belajar dari Wenger. Para 
penggemar bola memujinya untuk hal ini. Para pemain bola, terutama yang pernah 
bersinggungan dengan Wenger tak henti mengaguminya.

Kesuksesan Arsenal selama sepuluh tahun terakhir adalah karena Arsene Wenger. 
Total Arsene Wenger. Eksistensi Arsenal sebagai sebuah klub adalah wujud visi 
Arsene Wenger akan sebuah klub.

Disinilah persoalan muncul. Kalau filosof Prancis abad 17, Rene Descartes 
memperkenalkan kalimat cogito ergo sum, aku berfikir karena itu aku ada 
(eksis), Wenger mungkin berkata aku mempunyai visi karena itu aku ada. Malah 
mungkin Wenger menariknya lebih jauh lagi, aku mempunyai visi dan visiku adalah 
benar karena itu aku ada.

Yang harus digarisbawahi di sini adalah anak kalimat visiku adalah benar. 
Berulangkali Wenger terbentur pada persoalan ini. Cara Wenger berkomentar, 
menilai, dan memahami permainan maupun dunia persepakbolaan pada umumnya 
berdasar pada anak kalimat visiku adalah benar ini.

Padahal tidak ada visi sehebat apapun yang bisa memonopoli kebenaran. Seperti 
halnya tidak satu sistem nilai kehidupanpun yang mampu memonpoli kebenaran di 
dunia ini. Kebenaran adalah sebuah relativitas yang lentur.

Kalau Arsenal kalah misalnya maka Wenger akan mengajukan sekian banyak alasan 
kecuali mengakui bahwa timnya memang kalah. Entah itu wasit yang jelek memimpin 
pertandingan, lawan yang menekankan pertahanan, lawan yang bermain keras, 
lapangan yang jelek, jadwal pertandingan yang terlalu padat, klub lain lebih 
kaya atau apapun juga. Cari sebuah alasan, Wenger akan mampu membuatnya masuk 
akal dan membuat Arsenal korban sebuah ketidakdilan.

Setiap kali Arsenal terjebak dalam situasi sulit berhadapan dengan otoritas 
sepakbola, Wenger dengan segala kecerdasannya sering mengesankan adanya sebuah 
konspirasi (imajiner) yang seolah ingin menahan laju kesuksesan Arsenal.

Sebaliknya kalau Arsenal diuntungkan dalam sebuah pertandingan maka Wenger akan 
berkomentar seolah itu sebuah kelayakan karena Arsenal adalah sebuah wujud bagi 
bagaimana sebuah tim seharusnya bermain, bagi bagaimana sebuah klub mestinya 
dijalankan.

Tentu tidak semua pernyataan Wenger adalah seperti ini. Wenger juga seorang 
pemikir yang banyak memberi masukan pada otorita sepakbola akan nilai-nilai 
baru yang bermanfaat dalam menjalankan kehidupan persepakbolaan di Inggris. 
Tetapi kecenderungan miopik Wenger harus diakui sudah sampai tahap yang 
menggelikan dan kadang membuat penggemar bola dalam hati berkata, "Sudahlah..."

Yang harus dipahami oleh Wenger adalah bahwa visi yang dibawa olehnya telah 
membuat Arsenal menjadi klub yang disegani, hebat, dan mampu menampilkan 
permainan menawan. Tetapi ada juga klub lain dengan visi yang berbeda. Ada 
manajer sepakbola lain yang mempunyai visi yang berbeda (yang bahkan mungkin 
lebih sukses dari Wenger-walau kesuksesan juga relatif adanya).

Kearifan untuk menerima bahwa dewa sepakbola tidak pernah memberikan hak 
prerogatif kebenaran kepada visi tertentu itulah yang dibutuhkan. Kearifan 
dalam kekalahan sangat diperlukan. Kearifan dalam kemenangan harus dijaga. 
Kearifan dalam hidup adalah sebuah kemutlakan. Kearifan itu...Tuan Wenger.... 
(lza/din) 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke