sumber : zonabola.com Kamis, 22 Mar 2007, 06:30 "Pelajaran Air Seni" ala Oliver Kahn
Sinisme itu masih kerap datang. "Mengapa orang Indonesia gandrung betul sepak bola Eropa? Apakah benar sepak bola mereka yang terbaik di muka bumi ini?" Sungguh. Pertanyaan seperti masih sering terdengar. Namun, bagaimanapun, gugatan ini wajar saja. Hampir tiap akhir pekan, seluruh liga terbaik Eropa, dapat ditonton secara langsung di Indonesia lewat layar televisi: Serie A Italia, Premiership Inggris, dan La Liga Spanyol. Bahkan, Liga Champions Eropa yang waktu tayangnya pun membuat orang begadang, terus setia hadir. Dominasi Eropa di ranah frekuensi televisi Indonesia bukan tanpa alasan. Kehebatan public relation dan faktor kekuatan ekonomi yang mendikte media adalah alasan utama. Namun, alasan lain yang tak kalah kuatnya adalah konsistennya mereka menjunjung tinggi sportivitas dan fairplay, Bukan cuma di lapangan, tetapi juga dalam tindak-tanduk di luar lapangan. Badan tertinggi sepak bola Eropa, UEFA, menjadi lembaga yang sangat dihormati dan disegani karena keseriusannya mengampanyekan fairplay. Ini ditunjang dengan konsistensi menegakkan hukum dan aturan. Konsistensi Eropa menegakkan hukum dan aturan memang tidak membuat holiganisme mati total. Namun, kualitas dan kuantitasnya menurun sangat drastis sejak Tragedi Heysel tahun 1985. Hukum dan aturan di Eropa memang tak pandang bulu. Klub hebat dengan tradisi besar seperti Juventus (Italia) pun bisa tergusur ke Serie B akibat skandal pengaturan wasit dan skor. Kasus Kahn Contoh lain masih sangat banyak untuk dijadikan refleksi. Namun, kasus terakhir yang menimpa Oliver Kahn punya sisi unik yang layak digarisbawahi. Kahn, mantan kiper utama tim nasional Jerman yang masih menjadi andalan Bayern Muenchen, terpaksa minta maaf. Gara-garanya sepele: air seni. Ini bermula dari prosedur rutin pemeriksaan doping yang dilakukan UEFA selepas partai Liga Champions melawan Real Madrid. Kahn dan pemain belakang Lucio dipilih secara acak untuk menjalani tes urine. Rupanya, Kahn punya masalah dengan kebutuhan biologisnya yang satu ini. Sampai dengan dua jam setelah pertandingan, kiper temperamental ini tak bisa memproduksi air seni. Meski sudah berusaha keras, sang air seni tak mau juga mengucur juga. "Akhirnya saya berhasil juga. Namun, dokter mengatakan, jumlahnya tidak cukup untuk pemeriksaan. Saya harus mengulang lagi prosesnya," ujar Kahn. "Saya menjadi amat marah, putus asa dan kehilangan kendali," ujar Kahn. Dalam kondisi letih dan putus asa akibat ulah sang air seni itulah, rupanya Kahn mengucapkan kata-kata yang dianggap tidak sopan kepada sang dokter. Atas ulahnya itu, dia didakwa UEFA melakukan tindakan tidak pantas dan terancam kena sanksi. "Saya hanya ingin meminta maaf kepada dokter. Hal itu tidak seharusnya terjadi," ujar Kahn yang terancam tak bisa memperkuat Bayern melawan AC Milan di babak perempat final Liga Champions akibat ulahnya itu. Hari Kamis ini, Kahn, bersama Lucio, didengar keterangannya di depan sidang Komisi Disiplin UEFA. Kasus Kahn memang nyaris luput dari perhatian publik. Beritanya baru mencuat setelah UEFA merilis pernyataan resmi tentang pemanggilan Kahn oleh komisi disiplin. Sejauh ini, tidak jelas benar kata-kata apa yang keluar dari mulut Kahn sehingga salah satu kiper terbaik di dunia itu harus menghadap komisi. Satu hal yang perlu digarisbawahi, kasus ini sepertinya sepele: menyangkut kata-kata yang terucap kepada seorang dokter. Barangkali Kahn lupa, di Eropa, dokter pemeriksa air seni adalah salah satu perangkat pertandingan yang dalam lingkup kerjanya dilindungi code of conduct UEFA. Dokter, dalam kaitan ini sama derajatnya dengan wasit, asisten dan fourth official. Pemain-pemain sepak bola di Eropa mengetahui betul konsekuensinya jika mereka melanggar kode etik ini. Melanggar sedikit saja, kesulitan besar langsung menghadang. Kini, tengoklah Indonesia. Jangankan dokter, wasit saja bisa dimaki-maki, bahkan setengah mati dipukuli. Sanksinya? Ah, semua bisa diatur...! -- Cavaliere AC Milan atau tidak sama sekal! [Non-text portions of this message have been removed]
