Selasa, 27 Mar 2007, Marah Karena Terus Diusik
Menjelang laga melawan Skotlandia, bukan dukungan sportif yang diberikan media Italia. Sebaliknya, media di Negeri Pizza itu malah membuat spekulasi soal masa depan Roberto Donadoni, yang baru meraih dua kemenangan dalam tujuh laga sejak ditunjukkan menggantikan Marcello Lippi. Fakta ini membuat Donadoni gerah. Mantan gelandang Timnas Italia itu meminta media untuk meredam kritikannya, karena sangat menggangu persiapan Azzurri. "Jika hasilnya nanti (lawan Skotlandia) tak sesuai harapan, itu hak mereka untuk mengkritik. Tapi, itu baru jika. Karena itu, biarkan tim ini melakukan persiapan,"pinta Donadoni kepada Fox Sports. "Saya tak mengerti, kenapa selalu ada vonis sebelum segala sesuatunya terjadi," keluhnya. Wajar jika Donadoni merasa terusik. Pasalnya, ulasan yang ditulis media Italia sangat menusuk perasaannya. Harian Corriere della Sera misalnya. Mereka menyebut Donadoni sebagai peninggalan rezim sebelumnya. Ketika Lippi mundur usai Piala Dunia 2006, komisioner federasi sepak bola Italia (FIGC) menunjuk Donadoni sebagai pengganti, atas saran dari wakilnya, Demetrio Albertini. Rossi kemudian mundur sebulan setelah menunjuk Donadoni sebagai pelatih. Posisinya digantikan Luca Pancalli, yang juga mendukung keberadaan Donadoni. Tapi, pekan depan Pancalli harus meninggalkan posnya. Posisinya akan diisi Giancarlo Abete, yang sangat getol memperjuangkan Carlo Ancelotti sebagai arsitek Italia. Keinginan Abete itu, ternyata mendapat dukungan dari media setempat. "Sangat sulit membayangkan juara dunia ditangani seorang Donadoni. Dia bukanlah seorang pemimpin,"tulis Corriere della Sera Untungnya, para punggawa Italia tak terpengaruh dengan isi tulisan di media setempat. Mereka bahkan memberikan simpati buat Donadoni. "Kami selalu mengatakan, tak akan membaca koran. Namun, ketika bangun pagi, yang pertama kami lihat adalah koran," kata Fabio Cannavaro, kapten Italia. "Buat timnas, Anda membutuhkan sosok pelatih yang seperti malaikat. Donadoni adalah orangnya,"ujarnya. (bas)
