Meludahi Peraturan Demi Muluskan Grand Strategi? Jumat, 6 April 2007 | 01:19:13 Meludahi Peraturan Demi Muluskan Grand Strategi? Mengkritisi Keputusan PSSI Soal Laga Persib versus PSMS
Menjilat ludah sendiri, sepertinya memang sudah menjadi tabiat PSSI. Itu pulalah yang dilakukan otoritas tertinggi sepak bola Indonesia ini sebelum duel big match Persib Bandung versus PSMS Medan, besok. Pertanyaan dasarnya, ada apa di belakang lahirnya keputusan tersebut? Aneh bin ajaib. Kata ini pantas disematkan melihat keputusan PSSI yang akhirnya membolehkan penonton datang ke Stadion Siliwangi Bandung untuk mendukung tim kesayangannya berlaga melawan PSMS, Sabtu (7/1) besok. Bagaimana tak aneh, keputusan itu jelas bertentangan dengan hasil jerih payah 8 orang anggota Komdis yang telah bersidang selama satu harian penuh, pekan lalu, yang memutuskan bahwa laga Panpel Persib dihukum tak boleh menerima penonton saat menjamu PSMS. Ini buntut aksi kerusuhan bobotoh saat timnya berhadapan dengan Persema Malang. Berhari-hari, keputusan tersebut diambangkan. Namun, hanya dua hari menjelang laga, sang Ketua Umum, Nurdin Khalid, tampil sebagai pahlawan Bandung. Dia membatalkan sendiri keputusan yang dibuat oleh lembaga yang sejatinya juga dia bentuk sendiri itu. Laga Persib vs PSMS, boleh disaksikan penonton seperti biasanya. Hukuman tanpa penonton ini malah dia geser saat Persib menjamu PSSB Bireun. Luar biasa! Keputusan 8 orang mentah oleh `kebijaksanaan' satu orang. Dari sisi legalitas, Nurdin tak salah membuat keputusan itu. Sebab, dia memang diberi hak prerogatif untuk membatalkan putusan lembaga apapun yang ada di bawah naungan PSSI. Hanya saja, Nurdin tampaknya tak memahami, bahwa keputusannya tersebut sangat tak mendidik bagi sepak bola Indonesia. Sebab, kalangan suporter yang selama ini kerap melahirkan kerusuhan, tak akan terstimulasi lagi untuk merubah tabiat buruknya. Hukuman pertandingan tanpa penonton pun sebenarnya tak begitu efektif mendidik suporter kita. Buktinya, kerusuhan suporter tetap menjadi tontonan sehari-hari. Apalagi, jika hukuman yang sudah tak efektif itu dibuat semakin tak efektif karena ketidaktegasan dalam penerapannya. Yang lebih membahayakan dari kebijakan Nurdin ini, tentunya adalah bisik-bisik yang sudah menyebar di kalangan para pemerhati dan pelaku sepak bola nasional. Apa itu? Adanya semacam grand strategi dari PSSI untuk memberikan gelar juara musim ini kepada Persib. Memang, terlalu pagi mengambil kesimpulan soal itu. Makanya, ketika saya mendengar selentingan itu dari beberapa pemain (di luar PSMS) dan beberapa pelatih, terus terang saya kurang begitu mempercayainya. Bahkan, ketika Persib `dipaksa' menang oleh keputusan sangat kontroversial wasit yang memberi hadiah penalti `antah berantah' untuk mengalahkan PSS Sleman, saya juga masih belum begitu percaya dengan desas-desus itu. Pun demikian, saya pun belum mau terlalu percaya, keputusan PSSI membolehkan penonton menyaksikan langsung laga Persib vs PSMS ini adalah bagian dari grand strategi. Hanya saja, bagi kalangan penikmat sepak bola nasional lainnya, termasuk saya, setidaknya ini bisa menjadi hipotesa awal bahwa PSSI memang tak serius menggelar Liga Indonesia untuk mencari yang benar-benar layak menjadi juara. Gelar juara lebih ditentukan kepada siapa yang paling bisa mendekati PSSI, ketimbang siapa yang paling bagus timnya. Singkatnya, gelar juara direbut oleh tim sukses, bukan tim yang sukses. Benarkah? Entahlah. Namun yang jelas, isu soal tim mana yang bakal merebut juara sudah ditentukan sejak jauh-jauh hari, sudah merupakan isu lama tiap musim yang uniknya jarang meleset. Lantas, kalau sudah begitu untuk apa APBD dicairkan miliaran rupiah kepada masing-masing tim? Kembali ke Persib. Jika boleh berargumentasi, kesan tersebut cukup kental. Sebab, alasan Nurdin menggeser hukuman itu juga tak logis. Demi keamanan? Bukankah sudah ada petugas yang memang berurusan dengan keamanan tersebut? Lantas, kalau di kota lain, Tangerang dan Surabaya yang dikenal punya penonton tak kalah garang, toh tak ada masalah dengan keamanan ini? Kenapa di Bandung, Nurdin takut? Atau jangan-jangan, kubu Persib merasa PSSB Bireun lebih gampang dijinakkan ketimbang PSMS, sehingga mereka tak mempersoalkan jika laga tanpa penonton diberlakukan saat menjamu PSSB? Atau, jangan-jangan pula, PSSI lebih memerdulikan uang yang masuk ketimbang menegakkan peraturan? Entahlah. Yang pasti, tak ada satu negara pun di dunia ini yang sepak bolanya bisa maju jika dikelola dengan cara barbar dan seenak perut! Ciao Sumber : Sumut Pos === Arif Ikram === [Non-text portions of this message have been removed]
