22 Juni 1986, puluhan ribu penonton di Stadion Azteca, Meksiko, seperti tak memercayai penglihatan mereka. Maklum, mereka baru saja menyaksikan terciptanya gol yang kemudian dikenang sebagai gol terhebat sepanjang masa.
Aktornya adalah superstar Argentina Diego Maradona. Dari tengah lapangan, si bocel itu melewati hadangan tiga pemain Inggris sekaligus, Peter Reid, Terry Fenwick, dan Terry Butcher, sebelum kemudian menaklukkan kiper Peter Shilton. Saking hebatnya gol itu, semua langsung melupakan kontroversi gol "Tangan Tuhan" yang dicetak pemain yang sama beberapa menit sebelumnya. Hampir 21 tahun berselang, rasa takjub serupa menyihir Nou Camp. Tepatnya dini hari kemarin saat Lionel Messi menciptakan gol dengan proses nyaris sama dengan gol Maradona tadi. Menerima bola dari tengah lapangan, Messi meliuk-liuk melewati Nacho, Alexis, dan David Belenguer. Begitu sampai di depan gawang Getafe, giliran kiper Luis Garcia yang ditaklukkan pemain berusia 20 tahun tersebut. Tak hanya di Nou Camp, gol itu juga menggema ke segenap penjuru Spanyol. Bahkan, harian olahraga Marca yang selama ini dikenal pro Real Madrid tak segan memberikan julukan Messidona sebagai bentuk apresiasi terhadap kemampuan Messi mencetak gol ala Maradona. Namun, Messi menolak untuk tenggelam bersama dengan berbagai pujian yang dia terima. Pemain yang telah berada di Barcelona sejak berusia 13 tahun itu mengaku bangga bisa mencetak gol spektakuler. Tapi, dia akan lebih senang jika berhasil membawa Barca lolos ke final dan merebut trofi Copa del Rey. Messi juga menolak penilaian yang menyamakan dia dengan Maradona. Sebuah penilaian yang terus menguntitnya sejak dia melakoni debut bersama skuad senior Barcelona pada Oktober 2004. "Mungkin, gol saya itu sama dengan gol Diego (Maradona). Saya tak peduli. Kami harus tetap bekerja keras seperti biasa dan tak perlu memikirkan hal-hal lain," katanya. Menurut pemain yang sangat diincar Inter Milan itu, gol ala Maradona itu tercipta semata karena insting. "Saya melihat posisi kiper dan lini pertahanan (Getafe). Saya juga melihat Samu (Samuel Eto'o) yang dikawal dua pemain. Jadi, saya memutuskan untuk membawa bola sendirian ke jantung pertahanan mereka. Begitu ada kesempatan saya langsung menembaknya," jelasnya. (bas) [Non-text portions of this message have been removed]
