Cristiano dan Fenomena Brasil
 
 Berapa pemain asal Brasil yang tampil di Liga Primer Inggris? Kalau Anda cukup 
cermat mengamati liga paling populer di Benua Asia ini, pasti mudah menjawabnya 
karena mereka tak lebih dari jumlah jari tangan. Ya, para "penari Samba" hanya 
lima orang. Di Bahrain atau Uni Emirat Arab saja, jauh lebih banyak pemain 
Brasil ketimbang di Premiership.

Dalam artikelnya yang dimuat di majalah World Soccer, edisi Mei 2007, 
koresponden harian Brasil O'Globo di Inggris, Fernando Duarte, memaparkan 
fenomena ini dengan bahasan yang menarik. Menurut Duarte, banyak hal yang 
membuat pemain Brasil enggan bermain di Premiership, namun hal yang paling 
dominan adalah adanya perbenturan budaya.

Secara spesifik Duarte menyebutkan, faktor bahasa dan makanan membuat pemain 
seperti Ronaldinho tak begitu memedulikan tawaran cantik Manchester United saat 
dia masih bermain untuk Paris St Germain. Pemain terbaik dunia itu lebih 
memilih hijrah ke Barcelona, yang secara budaya, tak terlalu jauh berbeda 
dengan negeri kelahirannya.

Memang, eksodus pemain-pemain Brasil ke Eropa barat yang terjadi sejak awal 
1980-an mengecualikan Inggris sebagai negara tujuan. Jika Portugal dan Spanyol 
menjadi negara paling favorit bagi para talenta Brasil, hal itu sangat bisa 
dimengerti karena faktor bahasa dan kerapatan kultur secara umum. Namun negara 
seperti Italia, Perancis, dan Jerman ternyata juga menjadi pengimpor besar 
bintang-bintang Brasil. Meski bahasa tetap menjadi kendala, negara-negara itu 
menyediakan makanan yang lebih kurang masih sesuai dengan lidah Brasil.

Lantas pertanyaannya, apakah memang hanya sekadar kendala bahasa dan makanan, 
sehingga saat ini hanya ada lima pemain Brasil di Premiership? (Mereka adalah 
Gilberto Silva, Denilson, Julio Baptista [Arsenal], Fabio Aurelio [Liverpool] 
dan Fabio Rochemback [Middlesbrough]).

Faktor tingginya pajak di Inggris bisa jadi membuat para pemain Brasil enggan, 
meski klub seperti MU atau Chelsea pasti tak segan merogoh kocek 120.000 pound 
sepekan, misalnya, untuk menggaet Kaka dari AC Milan atau Diego dari Werder 
Bremen. Sangat boleh jadi, faktor iklim yang selalu basah di Inggris dan ritme 
permainan yang begitu cepat di Premiership membuat begitu banyak bintang Brasil 
akhirnya lebih melirik negara lain.

Jika faktor iklim dan cuaca dikesampingkan, satu-satunya kendala bagi para 
pemain Brasil memang cara bermain klub-klub Inggris yang temponya supercepat. 
Hanya beberapa pemain, terutama Gilberto Silva, yang mampu beradaptasi dengan 
sistem itu, dan dalam dua musim terakhir dia menjadi andalan "The Gunners". 
Sementara Baptista mulai menemukan iramanya, para Brasil lain masih sibuk 
menyesuaikan diri. Aurelio dan Denilson misalnya, lebih banyak duduk di bangku 
cadangan.

Fenomena Cristiano

Fenomena Gilberto Silva dan Baptista tampaknya memang masih akan lama memberi 
dampak kepada ketertarikkan para Brasil terhadap Premiership. Namun, sebenarnya 
ada fenomena lain yang membuktikan, pace yang begitu tinggi di sepak bola 
Inggris ternyata bisa diadaptasi dengan mulus oleh pemain-pemain dengan 
"talenta emas Brasil".

Nama Cristiano Ronaldo harus disebut dalam konteks ini karena pemain asal 
Portugal tersebut memberikan pengertian lain pada bagaimana terjadinya 
percampuran yang pas antara keindahan ala Brasil dan kecepatan ala Inggris. 
Kemampuan mengolah bola mantan pemain Sporting Lisbon ini bahkan sedikit di 
atas, katakanlah Robinho (Real Brasil), atau bahkan Ronaldinho.

Pada tahun-tahun pertamanya di Old Trafford, banyak yang meragukan kemampuan 
Cristiano beradaptasi dengan pasukan "Setan Merah". Dia banyak diejek karena 
"hanya mampu menari tapi tidak bermain bola secara tim". Hanya perlu waktu satu 
tahun, Cristiano membalikkan semua teori. Selepas Piala Eropa 2004, dia mulai 
memberikan energinya pada permainan MU. bahkan, selepas Piala Dunia 2006, 
pemain kelahiran Funchal, Portugal 5 Februari 1985 itu, menjadi "roh" bagi 
United.

Perannya yang sangat besar membawa United memuncaki Liga Inggris sejauh ini, 
membuat Cristiano layak diunggulkan sebagai calon kuat perebut gelar Pemain 
Terbaik Dunia untuk sejumlah versi. Jalan ke arah sana telah dirintisnya dengan 
memenangi dua penghargaan sekaligus dari asosiasi pemain bola profesional 
Inggris (PFA).

Sebelum Cristiano meroket ke langit, fenomena lain sebenarnya sudah diusung 
Thierry Henry. Bintang asal Perancis yang menjadi jiwa Arsenal itu adalah satu 
dari sedikit pemain "bertalenta Brasil" yang sukses besar di Inggris. Henry 
mampu memadukan kecepatan dan keterampilan teknisnya untuk membawa Arsenal 
merajai Liga Inggris di tahun-tahun awal milenium ketiga.

Dibandingkan dengan Kaka atau Ronaldinho, gugatan terharap Henry adalah 
kemampuannya dalam peran sebagai pengatur irama permainan. Tidak seperti Kaka 
atau Ronaldinho yang sanggup menjadi pengatur tempo, Henry hanya dinilai 
sebagai striker sejati dengan naluri mencetak gol luar biasa.

Meski begitu, gugatan yang sama sulit dilayangkan kepada Cristiano. Walaupun 
lebih banyak beroperasi di sisi sayap, pemain ini secara tidak langsung selalu 
memainkan peran sebagai playmaker. Daya jelajahnya yang mendekati 11 kilometer 
per pertandingan, membuat "Brasil made in Portugal" ini mengungguli pamor Kaka 
dan Ronaldinho, dua Brasil asli. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke