http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/04/or/3500543.htm

Jumat, 04 Mei 2007

Adu Karisma di Antara Para Langganan Juara

"Rossoneri" alias "merah-hitam" menjadi nama lain Associazione Calcio
(AC) Milan, dari warna seragam kandang, garis merah-hitam. "The Reds"
sudah harga mati milik Liverpool. Rossoneri dan The Reds berlaga final
di Stadion Olimpic, Athena, Yunani, 23 Mei nanti. Ini pertarungan dua
klub langganan juara Liga Champions. AC Milan mengejar gelar ketujuh
dan Liverpool mengejar trofi yang keenam. Milan tak ingin menambah
daftar empat kali gagal di final. Liverpool baru sekali gagal di
final. Apakah kini saatnya AC Milan membalas kekalahan dari Liverpool
pada final 2005 di Istanbul, Turki?

Kalau Rossoneri alias Milan dipasang di depan nama "The Reds"
Liverpool, itu karena Milan lebih sering tampil di final. Sepuluh kali
tampil dengan enam gelar (1963, 1969, 1989, 1990, 1994, dan 2003) di
tangan serta empat kali runner-up (1958, 1993, 1995, dan 2005). Milan
jelas pelanggan babak final Liga Champions. Klub berusia 108 tahun ini
hanya kalah rekor dari Real Madrid yang sudah sembilan kali juara dari
13 kali tampil di final. Kali ini merupakan finalnya yang ke-11.

Namun, jangan juga menatap Liverpool dengan sebelah mata di ajang Liga
Champions. Kali ini merupakan penampilan yang ketujuh klub yang
berusia 115 tahun itu di ajang final antarklub paling bergengsi
se-Eropa ini. Lima gelar diraih (tahun 1977, 1978, 1981, 1984, dan
2005). Ini klub Inggris dengan prestasi paling bagus di ajang Eropa.
Nottingham Forest dan MU membayangi dengan dua gelar juara.

Di luar Inggris, Bayern Muenchen asal Jerman yang mendekati rekor
Liverpool dengan tujuh kali tampil di final dengan empat kali juara.
Benfica (Portugal) membayangi dengan enam kali tampil di final dengan
dua kali meraih juara. Ada juga Ajax (Belanda) yang enam kali tampil
di final dengan empat gelar juara.

Karena itu, nuansa pertemuan di Stadion Olimpic, Athena, nanti tak
lepas dari persaingan dua klub langganan juara Liga Champions. Milan
mengejar gelar ketujuh, sebaliknya Liverpool ingin merengkuh gelar
keenam. Hanya saja, Milan membawa spirit lainnya, yakni membalas
kekalahan. Unggul 3-0 atas Liverpool di babak pertama pada final di
Istanbul, Turki, tahun 2005, Liverpool menyamakan kedudukan 3-3. Adu
penalti berakhir 3-2, dan Liverpool juara.

Pertarungan di Istanbul itu menjadi satu-satunya pertemuan dua klub
langganan Liga Champions ini. Hasil tendangan penalti bukan
memperlihatkan bahwa Liverpool lebih baik dari Milan dalam pertarungan
sebelas pemain melawan sebelas pemain di lapangan. Waktu pertandingan
selama 90 menit ataupun perpanjangan hingga 120 menit menjadi ajang
siapa yang terbaik di Eropa.

Rekor Maldini

Setiap ajang Liga Champions selalu punya catatan tersendiri. Dari
aspek uang, entah juaranya Milan atau Liverpool, bonus juara 15 juta
poundsterling (sekitar Rp 255 miliar) sudah di tangan. Suatu klub yang
meraih juara bisa menerima pemasukan mencapai 100 juta dollar AS
(sekitar Rp 900 miliar).

Klub-klub Inggris biasanya lebih banyak menerima dibandingkan klub
lainnya. Ini karena penonton dan penggemar klub Inggris lebih banyak.
Apalagi klub setenar Liverpool dengan penggemar fanatik yang menyebar
luas di Inggris, Eropa daratan, dan Asia. Meski Liverpool tak juara,
bonusnya bakal lebih tinggi daripada AC Milan.

Namun, rekor-rekor individual selalu juga tercipta. Bek Milan, Paolo
Maldini yang kini berusia 38 tahun, sudah tampil sembilan kali di
semifinal Liga Champions saat bertandang ke Old Trafford. Di San Siro,
Maldini tidak turun karena cedera. Jika lolos ke final, ini final yang
kedelapan Maldini kalau diturunkan Pelatih Carlo Ancelotti.

Maldini bergabung di Milan sejak usia 23 tahun. Tetapi ayahnya, Cesare
Maldini, sudah main di Milan dan meraih Liga Champions (masih Piala
Champions) tahun 1963. Kini anaknya, Christian (13), juga terdaftar
sebagai calon pemain Milan. Jika nanti main di final dan menang,
berarti Maldini lima kali ikut mengangkat trofi Liga Champions
(sebelumnya tahun 1989, 1990, 1994, dan 2003).

Clarence Seedorf adalah pemain yang meraih tiga gelar Liga Champions
di tiga klub berbeda. Ajax (1995), Real Madrid (1998), dan AC Milan
(2003). Namun, nama Maldini hanya sekali tak ada dalam enam gelar Liga
Champions Milan.

"Istri yang baik, tidak stres, daging segar, dan anggur," ujar Maldini
soal kebugarannya. Ini hikmah lain dari Liga Champions. (Pieter P
Gero)

---------------
tulisan yg berimbang dri bung piter p gero.kl dgr maldini ngomong
tentang bugar,hebat bgt umur 38 masi bisa maen bola di level yg begitu
tinggi.

Kirim email ke