Senin, 07 Mei 2007

Sepak Bola Indonesia
Perubahan dari Internal PSSI, Mungkinkah Terjadi?

Adi Prinantyo

Saat Orde Baru di puncak kekuasaan, sosiolog Arief Budiman
mengungkapkan, perubahan Indonesia ke arah demokratisasi hanya bisa
terjadi dari dua sumber. Sumber perubahan pertama adalah dari Soeharto
sendiri yang ingin mengubah kepemimpinannya menjadi lebih demokratis,
atau kedua, sumber perubahan yang terjadi karena desakan massa.
Sejarah membuktikan, kekuatan massa yang didorong mahasiswa
menggulirkan gerakan reformasi 1998, yang menggusur Soeharto serta
mengubah suasana politik.

Memang tak selalu tepat membandingkan Indonesia dengan Persatuan Sepak
Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Namun, kenyataan bahwa pengurus PSSI
seharusnya mengubah kinerjanya tidak berbeda jauh dengan desakan
perubahan terhadap pola kepemimpinan Soeharto pada saat itu.

Tanpa prestasi membanggakan sejak merebut medali emas SEA Games tahun
1991—yang artinya 16 tahun lalu—PSSI sepatutnya sudah sibuk berubah
dalam 10 tahun terakhir. Sayangnya, perubahan itu tak terjadi. Selain
prestasi yang tak kunjung muncul lagi, justru dari waktu ke waktu,
publik pencandu sepak bola di Tanah Air disuguhi kualitas kompetisi
yang terus menurun. Mutu Liga Indonesia tak jauh-jauh dari skor laga
yang minim, tiadanya pemain muda baru yang menjanjikan dari kompetisi,
dan partai-partai yang rawan kekerasan. Tak heran, di tengah Seminar
"Meletakkan Dasar-dasar Pembangunan dan Profesionalisme Sepak Bola
Indonesia", Sabtu (5/5), ada seorang penanya yang melontarkan ide
pemotongan satu generasi di PSSI.

Toh, meski begitu kuat desakan itu, naga-naganya perubahan dari
internal PSSI tak akan muncul. Itu terlontar dari pesimisme Rhenald
Kasali, pakar manajemen Universitas Indonesia, salah satu pembicara
seminar. "Kalau tak ada satu pengurus PSSI pun dalam sesi ini, lalu
dari mana perubahan akan terjadi?" tanya Rhenald.

Disadari atau tidak, pengurus PSSI tak memiliki syarat-syarat
perubahan yang ada dalam kamus prinsip manajemen. Rhenald memaparkan
lima syarat perubahan, yang jika disingkat berbunyi "OCEAN". Kelimanya
adalah openness to experience (keterbukaan atas ide-ide baru),
consciousness (kemampuan untuk terus mendengar, melihat, dan
berpikir), extrovertness (terbiasa menyampaikan gagasan),
agreeableness (kemampuan bersepakat dengan orang lain), dan
neuroticism (biasa menghadapi tekanan).

Harapan yang surut

Batalnya Ketua Umum PSSI Nurdin Halid tampil sebagai pembicara seminar
membuat harapan adanya perubahan di internal PSSI surut. Sekretaris
Jenderal PSSI (demisioner) Nugraha Besoes, yang mewakili Nurdin, hanya
hadir pada sesi pertama ketika ia menjadi pembicara. Setelah itu,
Nugraha meninggalkan arena seminar. Hal ini ironis karena pada awalnya
PSSI termasuk pihak yang menyetujui dan turut memprakarsai seminar
tersebut bersama Kompas dan tabloid Bola.

"Kalau tidak ada pengurus PSSI, saya tidak bisa berdialog tentang
apakah memang ada peluang perubahan itu dari lingkup internal mereka,"
ujar Rhenald, yang sebenarnya juga menyodorkan konsep cara pandang
baru persepakbolaan nasional.

Misalnya, dari yang semula menganggap sepak bola sebagai ajang
pengumpulan massa, menjadi ajang prestasi; dan yang semula
mengasumsikan sepak bola sebagai arena pemicu kebrutalan, menjadi
olahraga penuh ketertiban dan happy-happy.

Masukan terhadap PSSI tak hanya dari Rhenald. Staf Ahli Menteri Negara
Pemuda dan Olahraga (Menpora) Djohar Arifin Husein, misalnya, menyebut
pentingnya sistem pembibitan pemain usia dini dan transfer ilmu
pelatih sepak bola dari referensi luar negeri, seperti dari majalah
impor dan VCD.

Menpora Adhyaksa Dault yang menyempatkan hadir juga mengingatkan PSSI
soal kemungkinan pengucuran dana APBD berdasarkan Undang-Undang Nomor
3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. "Di UU itu diatur
pendanaan olahraga oleh pemerintah. Yang jadi masalah, kan, yang
diatur ini dana untuk olahraga, bukan dana untuk sepak bola," ungkap
Adhyaksa.

Pada sesi yang mendalami soal marketing klub, tiga pembicara yang
tampil, Erick Thohir, Fritz E Simanjuntak, dan Hasani Abdulgani, juga
banyak memberikan masukan mengenai potensi dana untuk klub di luar
dana pemerintah. Handojo dari PT Djarum dan Henny Susanto (PT HM
Sampoerna), juga wakil dari Arema-Bentoel yang tidak hadir,
mengungkapkan keluhan-keluhan sponsor yang selama ini intens di event
sepak bola. Handojo menyinggung jadwal laga yang sering berubah, mutu
pertandingan yang dipertanyakan, dan anarkisme penonton.

Namun, kembali lagi, PSSI adalah pemegang kendali tertinggi sepak bola
kita. Dari figur-figur yang berada di PSSI, seharusnya masukan-masukan
dalam seminar diolah dan diimplementasikan di lapangan.

Akankah PSSI bernasib seperti Orde Baru, yang tergusur oleh people
power saat reformasi 1998? Mungkin saja, saat membaca tulisan ini,
pengurus PSSI hanya berujar, "Emangnya gue pikirin?"

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/07/utama/3507461.htm

------

pengurus pusat pssi pengn status quo terus,gk pengen ada
perubahan.sebenerya orang orang yg jadi pengurus ini pengen sepak bola
indonesia itu bener atau pengen cari uang,jabatan,popularitas yah jdi
pengurus....

padahal dgn orang indonesia yg begitu banyak suka bola,suka maen bola
mestinya olahraga ini bisa menjadi industri,bisa di jual ke
publik,sponsor hinggu gk perlu lagi menyusu ke apbd.

pengen suatu saat indonesia juara sea games lagi,msuk 4 besar dulu di
asia baru ke world cup.


HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke