Don Rudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Sebenarnya ada satu lagi yang kita 
sepakati, Bung: masih ada cinta dan sense of belonging, tapi tetep eksploitasi 
bisnis ada. Tulisan Pak Dedy Rinaldi di Bolavaganza menyiratkan bahwa akibat 
bisnis, harga tiket melambung, anak muda gak bisa beli. Aspek ini yang saya 
anggap menyedihkan dari sepakbola postmo di Eropa. Itu aja.
   
  Salam
  AL Sujanto
  [rudy]
Waduh...Om Suryo ini nulisnya singkat, padat...dan jelas.
Saya langsung paham nich maksudnya.
Tapi ada pertanyaan nich Om, Pizza selalu identik dengan Italia tapi kok
laris manis juga yak?
Lampu Crystal dari Italia juga laris manis tuh, sampe2 kemarin ada yang beli
sampe 800 juta, siapa yak? orang bulok kayaknya... :)

Jadi, semuanya tergantung niat-nya lah...ga semua klub Sepakbola
mengharapkan dukungan hanya sekedar untuk mendapatkan keuntungan saja(baca
"uang"). Ini yang saya tangkap dari Bung Sujanto, dari tulisan2 Bung
Sujanto tersirat dan tersurat kalau klub2 Sepakbola di eropa sekarang melulu
berorientasi bisnis makanya saya tidak setuju...karena saya melihat banyak
klub yang tidak seperti itu. Saya juga melihat "cinta" dan Sense of
Belonging di situ...halah apa nich gw.
[/rudy]

-- 
Cavaliere
AC Milan atau tidak sama sekal!
FORZA INDONESIA >> Tak pernah berhenti berharap Indonesia bisa tampil di
Piala Dunia.

[Non-text portions of this message have been removed]



         

       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke