Kalo gw nganggap masalah utama di fasilitas.
Gini deh ... kalo gw mo main bulutangkis yg bener tentunya di lapangan 
bulutangkis kan !
Sekarang gw tanya sama teman-teman di sini ... kalo mo maen bulutangkis di 
lingkungan masing-masing gampang gak, mudah gak mencapai fasilitasnya?
Beruntunglah yg gampang mendapatkan/mencapai fasilitasnya.

Gw pribadi sering berada di 3 lingkungan selama ini, di Depok tempat gw kost 
dari waktu kuliah, di Tangerang di rumah mertua, di Pamulang di tempat kakak gw.
Nah dari 3 tempat itu gw hanya ketemu 1 lapangan bulutangkis kalo gw berjalan 
ke radius 300 meter.
Dengan jumlah penduduk yg potensial untuk menjadi atlet (anak-anak dan remaja) 
di lingkungan yg gw sebut tadi, tidak tersedia fasilitas yg memadai untuk 
mereka paling tidak mengenal bulutangkis. Hal yg sama berlaku di sepakbola.

Ditambah dengan banyaknya interfering/distracting factor di lingkungan seperti 
kumpul-kumpul tak menentu, main ke mal, saluran TV yg menjamur ... maka 
perhatian mereka jadi ter-distracted/teralih ... mereka tidak tertarik lagi 
main bulutangkis, mending nonton TV, mending ke mal, daripada maen bulutangkis 
yg lapangannya jauh dan kok-nya mahal ...

Faktor lain untuk di Indonesia adalah faktor degenerasi kebanyakan bibit karena 
sulitnya kehidupan di sini akhir-akhir ini. Kalo dulu untuk bisa makan makanan 
yg bergizi lebih murah, sekarang mau nggak mau dipotong jatahnya ...

Apalagi anak-anak sehat-lincah-pintar sekarang ini lebih memilih sekolah dengan 
benar karena persaingan di kehidupan yg akan datang terlihat lebih ketat. Mau 
nggak mau mereka memilih sekolah yg lebih terlihat berkilah daripada jadi atlet 
yg ujung-ujungnya sering gak menentu. Kalo bibit-bibit itu dah lebih mikirin 
sekolah maka mereka biasanya akan mengisi hari-hari mereka dengan les-les. Lalu 
kapan sempat bulutangkis. Ngapain main bulutangkis yg hadiahnya kecil.
Kalo mereka sudah ke sekolah, berkurang kan bibit unggul. Rasanya perbandingan 
yg memilih sekolah, yg memilih tidak serius sekolah tapi tidak pula ke 
bulutangkis, atau yg memilih bulutangkis, proporsinya bertambah lebih besar ke 
yg 2 pertama.

Banyak faktor lain, silahkan tambahkan.
Sedih bulutangkis Indonesia seperti sekarang? Tentu sedih. Tapi kalo kebanyakan 
space yg harusnya diperuntukkan untuk area publik akhirnya dikonversi menjadi 
rumah-rumah ataupun mal-mal dan lapangan-lapangan itu akhirnya menghilang, 
jangan pernah harapkan bulutangkis Indonesia akan bangkit seperti dulu.
Modal awalnya sudah hilang kan ... lapangannya sudah hilang kan ... bibit itu 
kan datang dari bawah, tapi tempat untuk menempa mereka direbut maka hancurlah 
...


Delfiar


  ----- Original Message ----- 
  From: tukang_sapu_curva_sud 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, May 15, 2007 10:15 AM
  Subject: Re: [BolaML] Apa kabar bulutangkis kita?


  Satu point yang patut menjadi catatan kita bersama :
  "Terlalu bergantung pada sosok juara"

  kita liat sejarah :
  - Pasca Alan Budikusumah hanya Taufik Hidayat yang mampu berbicara di level
  dunia, Sonny D Kuncoro & Simon blum bisa berbuat banyak. Pasca Taufik blum
  ada nama baru yang muncul

  - Pasca Susi Susanti, praktis tunggal putri tidak dapat berbuat apa2
  ditambah lagi hengkangnya Mia Audina ke Belanda.

  - Pasca Chandra / Sigit, ganda putra tertinggal jauh dengan pasangan2 binaan
  Rexy Mainaky di Malaysia

  Sangat tragis jika kita terus mengandalkan sosok2 juara ini, mau sampai
  kapan mereka bermain ?? Taufik di usianya yang segitu saja sudah mengatakan
  "Jangan berharap lagi pada saya"
  -- 
  Kebutuhan tertinggi setan adalah menggoda manusia
  Selamat menjadi setan !!

  . 
   


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke