Jumat, 11 Mei 2007

Bilbao dan Tradisi Sepak Bola

Sepanjang sejarah persaingannya yang selalu panas, Inter Milan tidak
pernah bisa mengungguli AC Milan. Ini diukur baik dari jumlah gelar di
Serie A maupun di pentas Eropa. Satu-satunya "keunggulan"
Internazionale atas saudara sekotanya itu hanyalah prestasi, tidak
pernah turun ke Serie B.



Di Liga Spanyol, prestasi tidak pernah turun divisi juga menjadi
kebanggaan sendiri terutama di kalangan para "bangsawan" seperti Real
Madrid dan Barcelona. Setiap musim, dua tim paling berpengaruh di
Spanyol ini bertarung habis-habisan untuk saling mengungguli.

Dari segi prestasi, Real Madrid lebih baik dibandingkan dengan seteru
abadinya dari wilayah Catalunia itu. Keunggulan "El Real" terjadi baik
di tingkat kompetisi nasional maupun Eropa, apalagi pasukan putih itu
tercatat sembilan kali menjuarai Piala dan Liga Champions, terbanyak
sepanjang sejarah turnamen.

Sejak kompetisi nasional, La Liga, bergulir tahun 1928, tercatat
sembilan tim pernah menjadi juara. Dan sejak 1950, Real Madrid serta
Barcelona menjadi tim yang paling banyak mengoleksi gelar juara,
Campeones de Liga. El Real mencatatkan diri sebanyak 29 kali,
sementara El Barca 18 kali.

Persaingan dua tim elite itu juga terjadi pada kontribusi pemain
mereka untuk tim nasional. Kombinasi mereka sebenarnya menjadi salah
satu kekuatan utama tim nasional Spanyol. Sayangnya, persaingan
"sampai mati" di antara keduanya justru menjadi bumerang untuk tim
nasional. Banyak pengamat menilai, kegagalan Spanyol untuk menjadi tim
terbaik di Eropa dan dunia lebih banyak disebabkan perpecahan di
antara mereka sendiri, antara kubu Madrid dan kubu non-Madrid yang
digalang Barcelona.

Di atas semua persaingan itu, keduanya tetap menjaga keras
eksistensinya di Primera Division. Sebab dari 10 tim pendiri La Liga,
hanya mereka, bersama Athletic Bilbao, yang sejauh ini belum pernah
turun divisi ke Segunda Division.

Dalam dua musim terakhir, Barcelona mengungguli Real Madrid di semua
persaingan. Pasukan Catalunia ini memenangi La Liga dalam dua musim
terakhir, ditambah juara Eropa pada tahun 2006. Sementara El Real
paceklik gelar sejak 2004.

Musim ini, keduanya kembali bersaing sangat ketat dalam perebutan
gelar juara Primera Division. Ketika keduanya bersaing menjadi yang
terbaik di Spanyol, Athletic Bilbao justru sedang berjuang untuk
menyelamatkan sejarah dan tradisinya.

Ditinggalkan Clemente

Ketika musim kompetisi tinggal menyisakan lima pertandingan, Bilbao
berada di bibir jurang di posisi ke-17, atau hanya berbeda tiga poin
dengan Celta Vigo yang berada di zona degradasi.

Posisi yang sama sebenarnya mereka alami pada paruh pertama musim
lalu, yang bahkan lebih buruk lagi, di wilayah degradasi. Dalam
kepanikan, manajemen Bilbao memanggil pulang Javier Clemente, pelatih
yang membawa mereka menjadi juara Spanyol pada tahun 1983 dan 1984.

Clemente memang sukses menyelamatkan Bilbao dari tragedi sejarah.
Meski tertatih-tatih, Clemente berhasil mengangkat performa Bilbao dan
bertengger di posisi ke-12 di akhir musim. Namun musim panas lalu,
Clemente memutuskan pergi karena ada tawaran lebih menantang, melatih
tim nasional Serbia.

Sepeninggal Clemente, tim yang dinilai sektarian karena hanya
menampung pemain-pemain asal wilayah Basque ini kembali mengalami
krisis. Pengganti Clemente, Felix Sarriuguarte, dan kemudian Jose
Manuel Esnal, gagal menyelamatkan posisi Bilbao.

"Situasi kami memang sangat sulit dan terlalu rumit. Kami sepertinya
membuat kesalahan yang sama terus-menerus," ujar Esnal seperti dikutip
kantor berita AFP, akhir Maret lalu.

Apa yang dilontarkan Esnal memang benar. Rumit! Jika Bilbao sampai
terdegradasi, bencana besar seakan-akan melanda sepak bola Spanyol.
Pasalnya, Bilbao bukan saja tim elite dengan delapan gelar Primera
Division, tetapi juga salah satu ikon penting di samping Real Madrid
dan Barcelona.

Bagi masyarakat Basque, pasukan Rojiblancos, atau tim "Merah-Putih",
adalah lebih dari sekadar sebuah klub sepak bola. Bagi mereka,
Athletic Bilbao adalah simbol dari identitas "kebangsaan" mereka.

Sejarah Athletic Bilbao memang kerap dihubungkan dengan gerakan
sebagian komunitas Basque untuk lepas dari pemerintahan Kerajaan
Spanyol. Lewat gerakan Euskadi Ta Askatasuna (ETA), atau "gerakan
untuk tanah air dan kemerdekaaan Basque", kelompok ini menempuh
berbagai cara, termasuk cara kekerasan untuk memerdekakan diri.

ETA sendiri oleh masyarakat Uni Eropa dianggap sebagai gerakkan
teroris. Meski begitu, kiprah Athletic Bilbao tidak pernah mengalami
penurunan citra di mata masyarakat Eropa.

Merunut sejarahnya, Athletic Bilbao memang bukan sekadar klub sepak
bola bagi komunitas Basque sehingga jika sampai pasukan Rojiblancos
turun ke divisi Segunda, tentunya ini akan menjadi prahara sejarah
paling besar.

Bagi mereka, posisi di divisi Primera adalah tujuan paling penting
saat ini. Gagal, berarti kekalahan yang amat menyakitkan dalam
"perjuangan kemerdekaan" bangsa Basque.

Kebanggaan sejati

Sesungguhnya, apa yang dibanggakan oleh Internazionale Milan, dan hal
sekarang sedang diperjuangkan mati-matian oleh Athletic Bilbao, yakni
bertahan di divisi utama, adalah memang sebuah kebanggaan sejati.
Tidak pernah terdegradasi, bahkan sama pentingnya dengan gelar juara
karena hal itu menyangkut esensi sebuah kompetisi.

Di sepak bola Indonesia, kebanggaan sejati itu nyaris tak ada.
Klub-klub peserta kompetisi Divisi Utama tak perlu khawatir berlebihan
jatuh terperosok ke divisi bawah karena siapa tahu, PSSI menelurkan
keputusan-keputusan "spektakuler" lagi. Misalnya yang terjadi dalam
beberapa musim terakhir saat beberapa tim dari Divisi I promosi gratis
ke Divisi Utama.

Sepak bola di negeri ini memang diurus oleh sekelompok orang yang
praktis hanya fasih dalam administrasi kompetisi. Mereka sesungguhnya
tak paham arti sebuah kompetisi yang di antaranya mensyaratkan sistem
promosi dan degradasi. Apalagi sejarah dan tradisi.

sumber:kompas jumat

Kirim email ke