Gelar Kedelapan Gattuso-Pirlo 

Dalam euforia kesuksesan AC Milan menjadi raja Eropa musim ini, banyak media 
Italia mengaitkannya dengan keberhasilan Italia menjadi juara dunia tahun lalu. 
Secara lebih detail lagi, mereka bicara soal duet yang selalu hadir dalam dua 
momen indah itu: pasangan centrocampista Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso. 

Pasangan dua pemain yang berkarakter kontras ini sangat ganjil dan semula jauh 
dari gambaran ideal untuk mencetak titel. Majalah Champions mengumpamakan 
Gattuso sebagai koki kepala yang senang berteriak-teriak di dapur bersuhu panas 
sebuah restoran bernama AC Milan, sedangkan Pirlo adalah figur bos para pelayan 
yang elegan kala melayani para tamu elite di rumah makan yang sama. 

Ya, di lapangan Gattuso adalah seorang jangkar yang dikenal jago tekel dan 
pandai memancing emosi pemain lawan, sedangkan Pirlo adalah maestro eksekutor 
tendangan bebas yang punya sentuhan umpan sederhana namun mematikan. Kombinasi 
ini ternyata bisa saling mengisi, baik di Il Diavollo Rosso maupun di Azzurri. 

"Berdua, kami telah memenangi Euro U-21, Liga Champion, Serie A, Piala Super 
Eropa, Piala Italia, Piala Super Italia, hingga Piala Dunia," tutur Gattuso 
bangga. 

Raihan trofi Liga Champion pekan lalu adalah gelar kedelapan untuk pasangan 
yang bagaikan "iblis dan malaikat" ini. "Tapi, kami juga sempat berduka 
bersama. Kami tampil buruk di Euro 2004, kalah di final Liga Champion, dan yang 
paling menyakitkan adalah saat gagal meraih Piala Interkontinental ketika 
melawan Boca Juniors," tambahnya. 

Bersahabat Erat 

Percaya atau tidak, suka-duka di atas ternyata bisa menyatukan keduanya sebagai 
sahabat akrab di luar lapangan. Fenomena ini pun terbilang langka lantaran 
sifat mereka sehari-hari pun sangat bertolak belakang. 

Gattuso berwatak keras karena berasal dari wilayah kampung nelayan miskin di 
belahan selatan, Calabria, yang terkenal panas. Sementara itu, Pirlo 
berperangai lembut, cenderung introvert, dan pendiam, lantaran berasal dari 
golongan ningrat asal Italia utara, tepatnya dari kota Brescia. 

"Untuk sebagian besar wartawan, saya terlihat pendiam. Padahal saya sering juga 
melontarkan humor pada orang-orang terdekat, terutama keluarga dan rekan setim. 
Teman-teman menyatakan saya pandai menyembunyikan perasaan, terutama saat 
tegang dalam pertandingan," tutur Pirlo, bereaksi atas pendapat mengenai 
dirinya itu. 

Well, pasti Pirlo juga terkadang tampil emosional seperti saat berteriak girang 
kala tendangan bebasnya masuk setelah membentur Filippo Inzaghi di final LC 
pekan lalu. Apa jadinya jika duet Pirlo-Gattuso ini berpisah suatu saat nanti? 
Akankah ada pasangan seunik mereka terlahir lagi di Milan dan timnas Italia? 
(Darojatun) 





Lidahmu adalah bentengmu, 
jika engkau menjaganya maka ia akan menjagamu, 
dan jika engkau  membiarkannya maka ia tidak akan mempedulikanmu


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke