So long Ton, gw doain semua alumni Fio berjaya
semoga ente bisa sesukses Batigol di Roma dgn membawa Muenchen juara 
musim depan

Alkaizer

-------------------------------------------------------
Willkommen, Luca Toni
Andi Abdullah Sururi - detikcom

Munich, Setelah usianya menginjak kepala tiga Luca Toni akhirnya 
bisa berkarir di luar negerinya dan memperkuat klub besar. Bersama 
Bayern Munich ia menghadapi tantangan baru.

Tempat baru, budaya baru, dan orang-orang baru tentu hal-hal yang 
bakal ditemui Toni di Jerman, setelah ia memutuskan meninggalkan 
Fiorentina dan menandatangani kontrak empat tahun dengan Bayern.

Dalam kapasitasnya sebagai pemain bola, gaya permainan yang berbeda 
pun akan dihadapinya karena sepakbola Jerman tidaklah sama dengan 
Italia. Di sinilah daya tahan, daya adaptasi, dan kemampuan teknis 
Toni ditantang.

Di Italia, sampai bergabung Fiorentina pada musim panas 2005, Toni 
relatif berada di kelas medioker. Walaupun talenta hebatnya tercium 
sejak lama, namun pria setinggi 193 cm itu tak pernah bermain di 
klub elit. Delapan klub lain yang pernah ia bela adalah Modena, 
Empoli, Fiorenzuola, Lodigiani, Treviso, Vicenza, Brescia, dan 
Palermo.

Bersama timnas Italia Toni baru melakoni debutnya di usia 27 tahun, 
tepatnya pada 19 Agustus 2004, saat Italia ber-friendly game melawan 
Islandia. Sebulan kemudian ia mencetak gol internasional pertamanya. 
Posisinya sebagai starter bahkan baru didapat sekitar satu tahun 
kemudian. 

Namun Fiorentina mengubah keberuntungan dan reputasi Toni. Di musim 
2005/2006, setelah digaet dari Palermo, ia menjelma sebagai monster 
di kotak penalti lawan. Sederet rekor langsung ia ukir di Artemio 
Franchi.

Di akhir kompetisi Toni mengemas 31 gol, yang membuatnya meraih 
gelar capocannonieri alias topskor. Itulah kali pertama sejak 
1958/1959 ada seorang pemain mampu mendulang 30 gol atau lebih di 
Liga Italia. Lebih spesifik, rekor tersebut baru dicapai lagi oleh 
seorang pemain lokal setelah 1933/1934. Toni juga mematahkan rekor 
gol terbanyak Fiorentina dalam satu musim, yang dipegang striker 
legendaris Gabriel Batistuta dengan 26 gol.

Ketajaman Toni membuatnya dipercaya sebagai penyerang utama skuad 
Azzuri di Piala Dunia 2006. Sumbangan dua golnya membantu timnya 
tampil sebagai juara.

Musim lalu performa Toni tetap bagus. Sayang, ia sering dibekap 
cedera. Paling tidak, 16 gol yang ia cetak membantu La Viola lolos 
ke Piala UEFA musim depan, walaupun terkena penalti 15 poin dari 
skandal Calciopoli.

Toni kini telah mengucap Arrivederci pada Italia dan Jerman 
memberinya sambutan Willkommen. Publik Allianz Arena ingin 
menyaksikan dari dekat bomber haus gol yang dihargai 7,5 juta 
poundsterling itu oleh Hollywood FC. 

Secara teknis, skil Toni tentu tidak diragukan. Namun ia juga butuh 
perjuangan dan keberuntungan untuk meraih sukses di negeri orang. 

Tantangan paling nyata yang langsung ia hadapi adalah persaingan 
interen dengan empat penyerang top lain di skuad Ottmar Hitzfeld, 
yaitu Roy Makaay, Lukas Podolski, Roque Santa Cruz, dan Jan 
Schlaudraff, yang baru digaet dari Alemannia Aachen. 

Kirim email ke