Sebetunya bukan hanya wasit dari UEA yang meminmpin pertandingan Indonesia 
versus Arab Saudi yang brlaku tidak adil terhadap kita, tapi juga Tuhan. 
Lihatlah Islam masuk ke negri kita tidak lewat nabi Muhammad, tapi hanya lewat 
para wali yang berdagang. Jadi analoginya, sangat berat melawan “guru”. Lihat 
sja gerak bibir dan eks[resi sang wasit saat beramah-tamah dengan pemain 
belakang Arab Saudi di saat pertandingan.
              “Ente tahu di man ana bisa beli kain murah?” Tanya sang wasit.
              “Oh, di Tanah Abang. Ana denger ada kamoung Arab di sna!” jawab 
si defender.
              ”Kalo gitu, kita baerng-bareng belanja ke sana, ya!”
              Nah, persoalannya makin rumit ketika Korselm dibekuk Bahrain; 1 - 
2. Secara matematis, timnas mestinya menang 3 – 1 atas Korsel, karena di 
pertandingan awal Bahrain kita kentutin 2 : 1. Melihat situasi yang mirip ”war 
zone” ini, semua kesebelasan akan bertarung hingga pingsdan atau mati di tengah 
(pinggir juga boleh) lapangan. Jika Korsel lupa makan ginsen atau janin tikus 
putih, maka dia akan pulang kampung dan timnas melenggang. Kaslo seri, timnas 
dan Korsel jangan harap lolos. Apa pasal? Saya yakin, Bahrain dan Arab Saudi 
akan main mata; cukup  skor seri alias imbang, mereka akan melenggang ke babak 
kedua.
              Aduh, piye, toh?
              Kemarin itu, kalau saja saya puinya TV banyak, pas kebobolan di 
babak akhir, pingin banget saya nimpuk TV. Tapi, inget TV kreditan dari Court, 
belum lunas! 
   
  goooool
  GG

       
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke